Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Hiswana Migas Sebut Antrean Pertalite di SPBU di Balikpapan karena Lonjakan Permintaan setelah Harga Pertamax Naik

Muhammad Ridhuan • Minggu, 21 Juni 2026 | 11:06 WIB
Ketua Hiswana Migas Balikpapan Christofel EG
Ketua Hiswana Migas Balikpapan Christofel EG

KALTIMPOST.ID-Mengularnya kendaraan di sejumlah SPBU penyalur pertalite di Balikpapan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pada jam-jam tertentu, antrean bahkan mengular hingga keluar area SPBU dan memakan badan jalan. Kondisi itu memicu keluhan masyarakat, terutama pengendara yang harus menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Balikpapan Christofel EG menilai kondisi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi perubahan perilaku konsumen dibanding persoalan pasokan.

Menurutnya, masyarakat secara alami akan memilih produk yang lebih murah ketika menghadapi tekanan pengeluaran. Apalagi selisih harga antara Pertamax dan Pertalite saat ini cukup jauh.

“Kalau dilihat dari sisi ekonomi, masyarakat pasti memilih yang lebih murah. Sekarang banyak yang sebelumnya menggunakan pertamax beralih ke pertalite. Mereka rela mengantre karena merasa penghematannya lebih besar,” katanya kepada Kaltim Post, Jumat (19/6).

Baca Juga: Kodam VI/Mulawarman Tegaskan Penataan Rumah Dinas Sumber Rejo Balikpapan Sesuai Prosedur dan Tetap Hormati Proses Hukum

Christofel mengatakan, pihak SPBU pada dasarnya hanya menjalankan penyaluran sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah.

Selama alokasi masih tersedia, distribusi akan terus dilakukan. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan stok bahan bakar minyak (BBM).

Ia menilai antrean yang terjadi saat ini tidak serta merta menunjukkan adanya kekurangan pasokan. Justru lonjakan permintaan dalam waktu bersamaan menjadi penyebab utama penumpukan kendaraan di sejumlah SPBU.

“Kalau kuota masih ada, pasti disalurkan. Jadi masyarakat tidak perlu panik. Yang terjadi sekarang lebih kepada peningkatan permintaan karena banyak yang beralih ke pertalite,” ujarnya.

Persoalan lain yang kerap menjadi sorotan adalah terbatasnya jumlah SPBU yang melayani pertalite di Balikpapan. Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan mengapa seluruh SPBU tidak kembali menjual BBM subsidi tersebut agar antrean bisa terurai.

Baca Juga: Menuju Pemilu 2029, Bawaslu Balikpapan Awasi Pemutakhiran Data Pemilih dan Partai Politik Secara Berkelanjutan 

Namun menurut Christofel, pengalaman beberapa tahun lalu menunjukkan kondisi tidak sesederhana itu. Saat lebih banyak SPBU dalam kota menjual pertalite, antrean justru muncul hampir di semua titik dan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang cukup parah.

Kala itu antrean kendaraan terjadi di sejumlah SPBU yang berada di kawasan padat aktivitas. Dampaknya tidak hanya dirasakan pengguna jalan, tetapi juga mengganggu mobilitas masyarakat secara umum.

“Kalau semua SPBU menjual pertalite belum tentu antrean hilang. Dulu saat banyak SPBU masih melayani pertalite, antrean juga panjang dan kemacetan terjadi di mana-mana,” jelasnya.

Karena alasan tersebut, distribusi BBM subsidi kemudian lebih difokuskan pada titik-titik tertentu yang dianggap lebih memungkinkan menampung antrean kendaraan tanpa menimbulkan dampak besar terhadap lalu lintas.

Meski demikian, Hiswana Migas mengakui kebutuhan penambahan SPBU di Balikpapan tetap ada. Terutama di wilayah Balikpapan Timur dan Balikpapan Utara yang pertumbuhan penduduk dan kendaraannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Memang dari sisi investasi ini (membangun SPBU) sangat besar. Tetapi jika memang diperlukan, maka titik paling prioritasnya ada di Balikpapan Timur dan Balikpapan Utara,” sebutnya. (rd)

Editor : Romdani.
#bahan bakar minyak (bbm) #Pertalite langka #bbm bersubsidi #Kutai Barat #antrean bbm