KALTIMPOST.ID - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS), Tulsi Gabbard, mengungkap dokumen yang baru dideklasifikasi mengenai penyelidikan asal-usul pandemi Covid-19. Dokumen tersebut memuat komunikasi internal, laporan whistleblower, hingga materi intelijen yang menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) berkaitan dengan proses penelusuran awal kemunculan virus.
Dalam pernyataannya, Gabbard juga menyoroti peran mantan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), Anthony Fauci. Meski demikian, hingga saat ini badan intelijen AS masih belum menetapkan kesimpulan pasti mengenai asal-usul virus penyebab Covid-19.
Dokumen Intelijen Menyoroti Peran Anthony Fauci
Tulsi Gabbard menyampaikan bahwa dokumen yang dirilis mencakup berbagai informasi mengenai penyelidikan asal-usul Covid-19, termasuk komunikasi internal serta dugaan yang disampaikan oleh whistleblower. Menurut ODNI, Anthony Fauci diketahui ikut terlibat dalam sejumlah pembahasan mengenai asal-usul virus ketika masih menjabat sebagai Direktur NIAID.
Selain itu, Fauci disebut memiliki hubungan komunikasi dengan sejumlah pejabat intelijen selama proses peninjauan berlangsung. Dokumen tersebut juga menyinggung pengawasan terhadap pendanaan penelitian virus corona yang melibatkan virus kelelawar di Institut Virologi Wuhan.
Gabbard turut menuduh bahwa terdapat perbedaan antara isi komunikasi yang terdapat dalam dokumen dengan kesaksian Anthony Fauci saat memberikan keterangan di hadapan Kongres AS pada 2024. Ia bahkan menuduh Fauci telah memberikan keterangan yang tidak sesuai ketika berada di bawah sumpah.
"Setelah bertahun-tahun berbohong, sensor, dan menutup-nutupi, rakyat Amerika layak mendapatkan transparansi, kebenaran, dan akuntabilitas," ujar Gabbard dilansir dari CNN, Minggu (21/6).
Intelijen AS Belum Menetapkan Kesimpulan Asal-usul Covid-19
Walaupun dokumen baru telah dipublikasikan, ODNI menegaskan bahwa penyelidikan mengenai asal-usul Covid-19 masih belum menghasilkan kesimpulan yang pasti. Hingga kini terdapat dua kemungkinan yang masih terus diteliti, yaitu penularan secara alami dari hewan ke manusia atau kebocoran yang berkaitan dengan aktivitas laboratorium.
Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan bahwa kedua skenario tersebut masih dianggap masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia. Namun, belum ada bukti yang dapat memastikan salah satu teori sebagai penyebab utama munculnya virus SARS-CoV-2.
Dokumen yang baru dirilis juga belum memperoleh verifikasi independen sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menetapkan kesimpulan akhir mengenai asal-usul pandemi.
Covid-19 sendiri pertama kali teridentifikasi di Kota Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Virus yang kemudian dikenal sebagai SARS-CoV-2 itu menyebar ke berbagai negara dan pada Maret 2020 ditetapkan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pandemi tersebut menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia serta menimbulkan dampak besar terhadap sektor kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, berbagai lembaga ilmiah maupun badan intelijen dari sejumlah negara terus melakukan penelitian dan evaluasi terhadap asal-usul virus. Hingga saat ini, belum terdapat kesepakatan ilmiah maupun intelijen yang dapat memastikan apakah pandemi Covid-19 bermula dari penularan alami atau berkaitan dengan aktivitas laboratorium. Oleh karena itu, penyelidikan terhadap asal-usul virus masih terus berlangsung sambil menunggu bukti ilmiah yang lebih kuat dan dapat diverifikasi.***
Editor : Dwi Puspitarini