Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Saling Klaim Iran-AS, Status Selat Hormuz Memanas Jelang Perundingan Swiss

Ari Arief • Minggu, 21 Juni 2026 | 11:12 WIB
KEMBALI TEGANG: Situasi dan kondisi di Selat Hormuz yang kini kembali memantik ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.(dok)
KEMBALI TEGANG: Situasi dan kondisi di Selat Hormuz yang kini kembali memantik ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.(dok)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Situasi di Timur Tengah kembali tegang setelah militer Iran dan Korps Garda Revolusi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (20/6). Selain menyatakan penutupan, Teheran juga memperingatkan kapal-kapal dagang untuk menjauhi jalur pelayaran vital minyak dunia tersebut. Kendati demikian, klaim sepihak ini langsung dibantah keras oleh Amerika Serikat (AS) yang menegaskan bahwa jalur maritim tersebut tetap dibuka.

Komando militer gabungan Iran menyatakan, langkah penutupan selat ini merupakan respons atas operasi militer Israel yang masih berlanjut di Lebanon, termasuk serangan di Nabatiyeh yang menewaskan sedikitnya 16 orang. Iran juga menuding AS menunjukkan "itikad buruk" dan gagal menegakkan komitmen dalam kerangka gencatan senjata.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Hiswana Migas Sebut Antrean Pertalite di Balikpapan karena Terbatasnya SPBU yang Layani BBM Bersubsidi

"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Lalu lintas kapal terus mengalir, dan pasukan AS sedang memantau situasi untuk memastikan hal ini tetap demikian," tegas Juru Bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins.

Ketegangan baru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menandatangani memorandum kesepahaman (MoU) sementara untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut. Dalam MoU tersebut, disepakati penghentian aksi militer Israel di Lebanon dan pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa biaya tol oleh Iran selama 60 hari.

Baca Juga: Selandia Baru vs Mesir: Laga Hidup Mati di BC Place

Merespons situasi ini, Presiden Donald Trump melalui unggahan di media sosialnya mengindikasikan bahwa AS menganggap selat tetap terbuka. Namun, Trump melontarkan ancaman bahwa AS dapat mulai mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintas atas "jasa yang diberikan", jika kedua belah pihak gagal mengubah perjanjian sementara menjadi kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.

Di tengah situasi yang membingungkan ini, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan telah bertolak menuju Swiss untuk melanjutkan negosiasi tingkat teknis dengan delegasi Iran, serta mediator dari Pakistan dan Qatar yang dijadwalkan dimulai Minggu (21/6). Selain membahas masalah gencatan senjata di Lebanon, Vance juga berharap bisa membuat kemajuan dalam isu nuklir. Banyak pihak menilai aksi penutupan selat oleh Iran ini merupakan strategi untuk meningkatkan posisi tawar Teheran menjelang pertemuan krusial di Swiss tersebut.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#swiss #selat hormuz #amerika serikat #iran