KALTIMPOST.ID - Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah serangan udara Israel di Lebanon selatan memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Namun, Amerika Serikat membantah klaim tersebut dengan menyebut lalu lintas kapal komersial di jalur pelayaran strategis itu masih berlangsung normal. Perbedaan pernyataan kedua negara muncul ketika perundingan lanjutan mengenai konflik kawasan tetap dijadwalkan berlangsung di Swiss.
Iran Sebut Penutupan Selat Hormuz sebagai Respons Serangan Israel
Pemerintah Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz dilakukan sebagai respons atas serangan udara Israel di wilayah Lebanon selatan. Teheran menilai operasi militer tersebut melanggar komitmen penghentian aksi militer yang sebelumnya menjadi bagian dari upaya meredakan konflik di kawasan.
Menurut pernyataan militer Iran, langkah tersebut juga diambil karena Amerika Serikat dinilai belum mampu memastikan pelaksanaan kesepakatan damai yang telah dicapai sebelumnya. Iran bahkan memperingatkan kemungkinan tindakan lanjutan apabila serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.
Selat Hormuz sebelumnya sempat dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan awal antara Iran dan Amerika Serikat untuk menurunkan eskalasi konflik. Namun situasi kembali berubah setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan terbaru Israel di Lebanon selatan.
Di sisi lain, Amerika Serikat memberikan tanggapan berbeda. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan belum menemukan bukti bahwa Selat Hormuz benar-benar ditutup. Washington menegaskan aktivitas pelayaran kapal dagang masih berjalan normal sehingga jalur perdagangan internasional belum mengalami gangguan.
Perundingan AS-Iran Tetap Berlangsung di Tengah Ketegangan
Meski muncul perbedaan pernyataan terkait kondisi Selat Hormuz, proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran tetap dijadwalkan berlangsung di Swiss. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hadir bersama tim perunding Teheran.
Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah isu penting, termasuk perkembangan program nuklir Iran serta upaya menjaga gencatan senjata di Lebanon agar konflik tidak semakin meluas.
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangkaian serangan Israel di Lebanon selatan yang menurut Israel menyasar posisi Hizbullah. Sementara itu, Hizbullah menuduh operasi tersebut sebagai upaya menggagalkan proses perdamaian yang sedang dibangun melalui komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Jalur laut ini menjadi lintasan bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global sehingga setiap ancaman penutupan berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak.
Perbedaan klaim antara Iran dan Amerika Serikat mengenai kondisi Selat Hormuz kini menjadi perhatian berbagai negara. Hasil perundingan di Swiss diharapkan dapat menjaga komunikasi kedua pihak sekaligus mencegah ketegangan di Timur Tengah berkembang menjadi konflik yang lebih luas.***
Editor : Dwi Puspitarini