KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Penantian masyarakat untuk melintasi Terowongan Samarinda kian mendekati kenyataan. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan seluruh administrasi dan dokumen pendukung untuk penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) telah disiapkan.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, tunnel pertama di Kalimantan itu ditargetkan mulai beroperasi pada September 2026. Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, pengajuan uji kelayakan atau SLF dijadwalkan dilakukan pada 24 Juni 2026.
Saat ini, Pemkot tinggal menunggu proses verifikasi dan penilaian dari pihak terkait. "Untuk Terowongan Samarinda, dalam waktu dekat tanggal 24 Juni nanti kami ajukan uji kelayakan atau SLF. Kalau semua berjalan lancar, kami berharap September sudah bisa dibuka dan dioperasionalkan," ujarnya, Minggu (21/6).
Baca Juga: Petugas Terkesan Tak Punya Nyali Tertibkan Parkir Liar di Kawasan KTL di Dekat Plaza Balikpapan
Proses penerbitan SLF melibatkan Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Khusus (BKJTK) bersama Kementerian Pekerjaan Umum. Sesuai ketentuan, terdapat tenggat waktu hingga 69 hari kerja untuk menyelesaikan seluruh tahapan pemeriksaan dan penerbitan izin.
Marnabas menegaskan, dari sisi administrasi seluruh persyaratan yang menjadi kewenangan Pemkot telah dipenuhi. Saat ini, pemerintah hanya menunggu hasil penilaian kelayakan dari instansi terkait.
Secara fisik, pembangunan Terowongan Samarinda juga telah rampung. Tidak ada lagi pekerjaan konstruksi utama yang harus diselesaikan. Fokus saat ini diarahkan pada penyempurnaan fasilitas pendukung, terutama sistem penerangan dan keamanan.
"Sudah tidak ada pekerjaan besar lagi. Tinggal menuntaskan lampu penerangan dan sistem pendukung lainnya. Saya minta sebelum penyerahan nanti benar-benar diantisipasi, termasuk kesiapan genset jika terjadi gangguan listrik," tegasnya.
Baca Juga: Ratusan Kicau Mania Meriahkan Kapolda Kaltim Cup 2026, Ada Lomba Seni Burung Berkicau
Selain sistem penerangan, Pemkot juga meminta seluruh aspek keselamatan dipastikan berfungsi optimal, mulai dari ventilasi, sistem pengamanan hingga prosedur operasional darurat. "Kami minta dibuat timeline dan persiapan secara matang supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat terowongan mulai digunakan masyarakat," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo