Orangtua diajak berdiskusi, anak-anak belajar melalui aktivitas bermain, sementara para fasilitator mendampingi proses tersebut dengan pendekatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga.
Edukasi yang diberikan juga terintegrasi dengan isu kesehatan dan lingkungan, sehingga pengasuhan menjadi bagian dari upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Salah satu sosok yang tumbuh bersama program tersebut adalah Kosyim. Sejak 2021, ia aktif menjadi fasilitator Rumah Anak SIGAP di Loa Pari Flamboyan.
Selama lima tahun mendampingi komunitas, perannya tidak hanya sebatas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi penghubung antara kebutuhan keluarga, anak, dan lingkungan sekitar.
Kosyim mengaku perjalanan itu tidak selalu mudah. Sebagai pribadi yang cenderung introvert, ia sempat mengalami kesulitan ketika harus berbicara di depan banyak orang. “Berbicara di depan banyak orang itu awalnya berat sekali buat saya,” ujarnya.
Namun tantangan tersebut justru menjadi proses pembelajaran yang membentuk dirinya. Ia menyadari bahwa menjadi fasilitator tidak harus menjadi sosok yang paling banyak berbicara.
Kemampuan mendengarkan, memahami kebutuhan masyarakat, dan membangun dialog yang setara justru menjadi kunci keberhasilan dalam mendampingi komunitas.
Kehadirannya sebagai fasilitator laki-laki juga memberikan perspektif berbeda dalam program pengasuhan. Selama ini, pendampingan anak sering kali identik dengan peran ibu.
Kosyim berupaya menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan ayah, ibu, keluarga, hingga lingkungan sekitar.
Perjalanan pendampingannya semakin berkembang setelah mengikuti pelatihan fasilitator yang didukung Tanoto Foundation.
Melalui berbagai materi tematik, ia mendapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai keterkaitan pengasuhan dengan kesehatan dan kondisi lingkungan.
Materi yang dipelajari mencakup pencegahan banjir, kebersihan lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, hingga pencegahan penyakit pascapandemi.
Dari sana, ia memahami bahwa tumbuh kembang anak tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat mereka hidup.
Bekal berupa modul pelatihan, standar operasional yang jelas, serta materi praktis kemudian diterapkan dalam kegiatan Kelompok Bermain Bersama (KBB). Melalui pendekatan tersebut, komunikasi antara fasilitator dan orangtua menjadi lebih aktif dan partisipatif.
Menurutnya, perubahan yang terjadi memang tidak selalu besar dan instan. Namun dari waktu ke waktu, ia melihat semakin banyak orangtua yang peduli terhadap kebersihan lingkungan, lebih memahami risiko bencana, serta semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan anak sejak usia dini.
Perubahan-perubahan kecil itulah yang membuatnya terus bertahan hingga sekarang. Perjalanan Kosyim menunjukkan bahwa seorang fasilitator tidak harus tampil dominan untuk memberikan dampak.
Dengan dukungan yang tepat dan ruang belajar yang aman, setiap individu memiliki kesempatan menjadi agen perubahan bagi komunitasnya. (rd)
Editor : Romdani.