KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kodam VI/Mulawarman memberikan penjelasan resmi terkait meninggalnya salah satu peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Balikpapan, Kalimantan Timur.
SPPI merupakan inisiatif pemerintah untuk merekrut talenta muda dan lulusan sarjana untuk mengelola dan mengembangkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo menyatakan bahwa peserta yang meninggal dunia adalah Anissa Musa Roh. Ia merupakan peserta SPPI yang berasal dari Jawa Timur dan mengikuti pendidikan di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman.
“Atas nama keluarga besar Kodam VI/Mulawarman, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhumah. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan menghadapi cobaan ini,” ujar Gatot dalam keterangan resminya yang diterima Kaltim Post, Selasa (23/6).
Gatot menegaskan, seluruh prosedur pelaksanaan pendidikan telah dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku. Ia juga memastikan peserta didik selalu mendapatkan pendampingan selama mengikuti kegiatan.
Menurutnya, pendampingan dilakukan secara melekat oleh pelatih, pengasuh, tenaga pendukung, hingga petugas kesehatan yang selalu siaga di lokasi pendidikan.
Baca Juga: KPK Panggil Nabil Husein Terkait Kasus Gratifikasi Tambang Rita Widyasari, Ini Faktanya
“Seluruh prosedur dalam kegiatan yang diselenggarakan telah berjalan sesuai ketentuan. Pendampingan kepada peserta didik dilakukan secara melekat, baik oleh pelatih, pengasuh maupun tenaga kesehatan,” katanya.
Ia juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan adanya latihan fisik berat. Menurut Gatot, kegiatan pendidikan yang dijalani peserta lebih banyak berfokus pada proses belajar mengajar di kelas.
“Perlu digarisbawahi bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan aktivitas fisik yang berat. Kegiatan lebih dominan pada proses belajar mengajar di dalam kelas,” tegasnya.
Dalam keterangan sebelumnya, Gatot menyebut peserta meninggal karena diduga sakit. Terkait penanganan medis, ia menjelaskan bahwa prosedur kedaruratan telah dilakukan sejak awal saat peserta mengalami gangguan kesehatan.
Peserta terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan di lapangan dan kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan yang tersedia di lingkungan pendidikan.
Karena kondisi yang bersangkutan tidak menunjukkan perbaikan, peserta kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
“Pada saat kejadian, prosedur penanganan telah dilaksanakan sesuai ketentuan, mulai dari pemeriksaan awal hingga rujukan ke rumah sakit ketika kondisi peserta memerlukan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Meski demikian, Kodam VI/Mulawarman masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya peserta tersebut. Hasil pendalaman akan disampaikan kepada publik setelah proses investigasi selesai.
“Kami masih menunggu hasil pendalaman lebih lanjut terkait penyebab meninggalnya peserta didik tersebut. Perkembangannya akan kami sampaikan kemudian,” ujar Gatot.
Ia menambahkan, Kodam VI/Mulawarman juga memberikan pendampingan penuh dalam proses pemulangan jenazah hingga pelaksanaan pemakaman di daerah asal sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada almarhumah.
“Kami membantu proses pemulangan jenazah dan melakukan pendampingan hingga pemakaman agar seluruh proses berjalan dengan baik dan lancar,” pungkasnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko