KALTIMPOST.ID - Kabar duka datang dari dunia pendidikan tanah air. Seorang peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya saat mengikuti masa pendidikan di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menanggapi peristiwa tersebut, Kodam VI/Mlw ungkap sejumlah fakta terkait meninggalnya peserta SPPI ini untuk meluruskan simpang siur yang beredar di masyarakat.
Identitas korban diketahui bernama Anissa Musa Roh, seorang peserta didik asal Jawa Timur yang tengah dipersiapkan untuk mengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Almarhumah meninggal dunia saat menjalani pelatihan di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Ungkap Kekurangan Motor Honda NSF250RW Masih Kalah dari KTM di Moto3 2026
Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo menyampaikan rasa duka yang mendalam dari seluruh jajaran TNI Angkatan Darat atas kepergian almarhumah.
“Atas nama keluarga besar Kodam VI/Mulawarman, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhumah. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan menghadapi cobaan ini,” ujar Gatot dalam keterangan resminya.
Bantah Isu Kekerasan Fisik
Di media sosial, sempat beredar spekulasi bahwa korban tumbang akibat gemblengan fisik yang terlalu berat. Namun, pihak TNI dengan tegas membantah narasi tersebut. Gatot menjelaskan bahwa kurikulum yang diikuti oleh para sarjana ini justru lebih banyak dihabiskan di dalam ruangan.
“Perlu digarisbawahi bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan aktivitas fisik yang berat. Kegiatan lebih dominan pada proses belajar mengajar di dalam kelas,” tegas Gatot.
Ia juga menambahkan bahwa seluruh aktivitas siswa selalu berada di bawah pengawasan ketat. Pendampingan dilakukan secara melekat, mulai dari pelatih, pengasuh, hingga tim medis yang bersiaga penuh di lokasi selama 24 jam.
Baca Juga: Kemenhaj Ungkap 120 Jemaah Haji Masih Menjalani Perawatan di Arab Saudi
Kronologi Penanganan Medis
Terkait kronologi sebelum korban dinyatakan meninggal dunia, Gatot memaparkan bahwa prosedur kedaruratan langsung digerakkan begitu Anissa mengeluhkan kondisi kesehatannya. Petugas di lapangan tidak tinggal diam dan segera memberikan pertolongan pertama.
“Pada saat kejadian, prosedur penanganan telah dilaksanakan sesuai ketentuan, mulai dari pemeriksaan awal hingga rujukan ke rumah sakit ketika kondisi peserta memerlukan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Anissa sempat dibawa ke fasilitas kesehatan internal di lingkungan Dodikjur. Namun, karena kondisinya terus menurun dan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, pihak panitia langsung merujuknya ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis yang lebih intensif dari dokter spesialis.
Baca Juga: Rebutan Lahan Parkir di Samarinda, Mantan Napi Ini Tembak Tetangga Pakai Senapan Angin
Tunggu Hasil Investigasi Resmi
Hingga saat ini, pihak Kodam VI/Mulawarman masih melakukan pendalaman bersama tim medis untuk mengetahui penyebab pasti di balik kematian mendadak sang peserta didik.
“Kami masih menunggu hasil pendalaman lebih lanjut terkait penyebab meninggalnya peserta didik tersebut. Perkembangannya akan kami sampaikan kemudian,” tambah Gatot.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan tanggung jawab moral, Kodam VI/Mulawarman mengawal langsung proses pemulangan jenazah Anissa Musa Roh menuju kampung halamannya di Jawa Timur. Pihak TNI memastikan seluruh prosesi, mulai dari pengantaran dari Balikpapan hingga upacara pemakaman di rumah duka, berjalan dengan aman dan lancar.
“Kami membantu proses pemulangan jenazah dan melakukan pendampingan hingga pemakaman agar seluruh proses berjalan dengan baik dan lancar,” pungkas Gatot. ***
Editor : Dwi Puspitarini