KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Lonjakan penggunaan BBM bersubsidi jenis Pertalite terjadi setelah harga Pertamax mengalami penyesuaian pada awal Juni 2026. Perubahan pola konsumsi masyarakat itu diakui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pemerintah pun meminta PT Pertamina (Persero) bergerak cepat menambah kecepatan distribusi Pertalite ke berbagai SPBU agar meningkatnya permintaan tidak memicu antrean panjang maupun kekosongan stok di lapangan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, mengatakan pasokan Pertalite tetap tersedia. Namun, ritme pengiriman perlu disesuaikan dengan lonjakan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, distribusi BBM selama ini dilakukan setiap hari. Hanya saja, ketika konsumsi meningkat signifikan, suplai juga harus dipercepat agar SPBU tidak mengalami keterlambatan pengisian.
Di sisi lain, pemerintah belum membahas kebijakan baru terkait pembatasan pembelian Pertalite. Meski terjadi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite, ESDM masih memantau perkembangan konsumsi di lapangan sebelum mengambil langkah lanjutan.
Peningkatan penggunaan Pertalite diperkirakan menjadi salah satu dampak langsung dari naiknya harga BBM nonsubsidi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap membengkaknya beban subsidi energi apabila tren migrasi konsumen terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Pengeroyokan Brutal di Nganjuk: 14 Tersangka Ditangkap, Polisi Ungkap Peran Masing-masing Pelaku
Pemerintah memastikan koordinasi dengan Pertamina akan terus dilakukan agar distribusi BBM bersubsidi tetap lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa mengganggu ketersediaan pasokan nasional.
Editor : Uways Alqadrie