Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Lolos Seleksi tapi Cuma 50 Persen yang Daftar Ulang, UINSI Samarinda Ungkap Alasan Calon Maba

Eko Pralistio • Selasa, 30 Juni 2026 | 21:08 WIB
Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Pihak kampus mencatat hanya sekitar 45 hingga 50 persen calon mahasiswa lolos seleksi yang melanjutkan ke tahap daftar ulang. (DOK KALTIM POST)
Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Pihak kampus mencatat hanya sekitar 45 hingga 50 persen calon mahasiswa lolos seleksi yang melanjutkan ke tahap daftar ulang. (DOK KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Banyak calon mahasiswa berjuang mati-matian agar lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Namun, setelah nama mereka diumumkan sebagai peserta yang diterima, tak semuanya benar-benar melanjutkan ke bangku kuliah.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kampus-kampus besar di Indonesia, tetapi di daerah juga terjadi. Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda salah satunya.  Jumlah pendaftar di kampus tersebut diklaim terus meningkat setiap tahun, tetapi cukup banyak calon mahasiswa yang akhirnya memilih tidak melakukan daftar ulang.

Kepala Pusat Informasi dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UINSI Samarinda, Muhammad Ridho Muttaqin mengatakan, persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian kampus dalam proses penerimaan mahasiswa baru tahun ini.

"Kalau pendaftarnya memang tinggi. Di beberapa jalur, tingkat pendaftarannya bisa di atas 70 persen. Tetapi setelah pengumuman, yang benar-benar melakukan daftar ulang hanya sekitar 45 sampai 50 persen," kata Ridho, dihubungi lewat telepon whatsapp, Selasa (30/6/2026).

Saat ini, UINSI tengah menjalankan proses penerimaan mahasiswa baru. Selasa (30/6) menjadi hari pengumuman jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN), sementara kampus juga mulai membuka jalur mandiri.

Ridho menjelaskan, secara keseluruhan UINSI memiliki lima jalur penerimaan mahasiswa baru. Untuk program studi umum tersedia jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sementara program studi keagamaan menggunakan jalur SPAN-PTKIN dan UMPTKIN yang berada di bawah Kementerian Agama. Selain itu, tersedia pula jalur mandiri.

Tahun ini, jalur SNBP dan SNBT baru dibuka untuk Program Studi Sistem Informasi dengan kuota sekitar 80 mahasiswa. Sementara dua program studi baru, yakni Informatika dan Ilmu Lingkungan, masih menerima mahasiswa melalui jalur mandiri.

Menurut Ridho, kuota jalur mandiri sebenarnya tidak besar. Hanya sekitar 25 hingga 30 persen dari total daya tampung. Sisanya dialokasikan melalui jalur prestasi dan seleksi nasional sesuai ketentuan yang berlaku.

Ridho mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa calon mahasiswa yang sudah dinyatakan lolos akhirnya tidak melakukan registrasi ulang. Salah satunya karena peserta memiliki lebih dari satu pilihan kampus. Di bawah Kementerian Agama, calon mahasiswa diperbolehkan mengikuti lebih dari satu jalur seleksi sehingga mereka bisa membandingkan hasil penerimaan sebelum menentukan pilihan.

"Kalau di jalur SNBP, peserta yang sudah lolos tetapi tidak mengambil kursinya bisa dikenai sanksi bersama sekolahnya. Namun, aturan itu tidak berlaku di jalur Kementerian Agama. Dampaknya hanya pada penurunan performa institusi, bukan blacklist kepada peserta," jelasnya.

Kondisi itu membuat sebagian calon mahasiswa akhirnya memilih melanjutkan kuliah di kampus lain. Selain itu, hasil penelusuran kampus menunjukkan tidak sedikit mahasiswa yang justru beralih ke perguruan tinggi swasta (PTS).

Menurut Ridho, alasan yang paling sering muncul bukan soal biaya kuliah, melainkan fleksibilitas. "Banyak yang memilih PTS karena bisa kuliah sambil bekerja. Sistem perkuliahannya dianggap lebih fleksibel dibandingkan kampus negeri," ujarnya.

Fenomena tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi UINSI. Sebab, semakin banyak calon mahasiswa yang membutuhkan model perkuliahan yang tetap memungkinkan mereka mencari penghasilan. Ridho menilai biaya kuliah bukan faktor utama yang membuat calon mahasiswa batal mendaftar ulang. Sebab, Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UINSI masih tergolong terjangkau. UKT tertinggi berada di kisaran Rp4 juta dan hanya dikenakan kepada sebagian kecil mahasiswa.

Di sisi lain, banyak mahasiswa UINSI juga berkesempatan memperoleh bantuan pendidikan melalui program Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Meski begitu, kampus masih melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah pasti mahasiswa yang telah dinyatakan lolos seleksi tetapi tidak melakukan daftar ulang.

"Terkait data pasti, saat ini kami sedang fokus mengawal proses daftar ulang yang masih berjalan hangat hingga akhir Juli nanti," ungkapnya. Ridho berpandangan, dinamika calon mahasiswa yang belum melakukan daftar ulang adalah hal yang lumrah dalam seleksi nasional, di mana mereka memiliki banyak pilihan kampus. 

"Bagi kami, ini justru menjadi momentum untuk terus meningkatkan layanan informasi dan kemudahan akses agar UINSI tetap menjadi pilihan utama bagi putra-putri terbaik bangsa," timpalnya. "Data komprehensif nantinya akan kami rilis secara resmi melalui portal PMB sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas setelah seluruh rangkaian seleksi selesai," lanjut dia mengakhiri. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#mahasiswa baru PTN #daftar ulang mahasiswa baru #UINSI Samarinda