KALTIMPOST.ID - Gelombang panas yang melanda Eropa pekan lalu menyebabkan lonjakan angka kematian di Belanda. Berdasarkan perkiraan awal Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda, sekitar 3.530 orang meninggal selama periode puncak suhu panas, atau sekitar 480 kematian lebih banyak dibandingkan kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 3.050 kematian.
Sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia berusia 80 tahun ke atas yang dinilai paling rentan terhadap dampak cuaca panas ekstrem.
Lansia Menjadi Kelompok Paling Terdampak
Data sementara menunjukkan wilayah timur dan selatan Belanda mencatat jumlah kematian tertinggi selama gelombang panas berlangsung. Kedua wilayah tersebut mengalami suhu yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya sehingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat juga lebih besar.
Institut kesehatan Belanda menjelaskan bahwa angka kematian tersebut masih bersifat sementara. Proses pencatatan kematian sering kali membutuhkan waktu beberapa pekan sehingga jumlah korban masih berpotensi berubah setelah seluruh data terkumpul. Meski demikian, tren peningkatan kematian selama cuaca panas ekstrem sudah terlihat jelas.
Kelompok lanjut usia serta penderita penyakit kronis disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan saat suhu udara meningkat drastis. Kondisi panas berkepanjangan dapat memperburuk penyakit yang telah ada sebelumnya dan meningkatkan risiko kematian pada kelompok rentan.
Prancis Juga Alami Lonjakan Korban Jiwa
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan di Belanda. Prancis juga melaporkan peningkatan jumlah korban meninggal selama periode suhu ekstrem. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis memperkirakan lebih dari 1.000 orang meninggal akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari gelombang panas yang terjadi pekan lalu.
Pada puncak cuaca panas, jumlah kematian harian di Prancis meningkat tajam. Tercatat lebih dari 1.200 orang meninggal pada 24 Juni. Dua hari berikutnya, angka kematian harian bahkan mencapai sekitar 1.400 kasus. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelum gelombang panas yang berkisar antara 900 hingga 1.000 kematian per hari.
Otoritas kesehatan Prancis menyebutkan bahwa sekitar 85 persen korban merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, masih ada kemungkinan jumlah korban bertambah karena sejumlah kasus kematian di rumah belum seluruhnya tercatat dalam laporan resmi.
Lonjakan kematian di Belanda dan Prancis kembali menunjukkan besarnya dampak gelombang panas terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi lansia dan kelompok rentan. Pemerintah serta otoritas kesehatan di berbagai negara Eropa terus mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, menjaga kebutuhan cairan tubuh, serta memberikan perhatian lebih kepada anggota keluarga yang berusia lanjut selama periode cuaca panas ekstrem.***
Editor : Dwi Puspitarini