KALTIMPOST.ID,WASHINGTON–Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara baru berskala besar terhadap Iran pada Rabu (8/7) dini hari waktu setempat. Langkah agresif ini diambil hanya beberapa jam setelah tiga kapal komersial dihantam proyektil di Selat Hormuz, yang kini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai sementara antara kedua belah pihak.
Serangan tersebut terjadi di tengah rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Dalam pernyataan resminya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa operasi militer ini ditujukan untuk memberikan konsekuensi berat atas penargetan dan serangan terhadap jalur pelayaran komersial sipil di perairan internasional.
Baca Juga: Misi Tampil Maksimal di Sirnas C Bontang, PB Hevindo Akui Banyak Tantangan
Seorang pejabat AS memaparkan bahwa operasi kali ini berlangsung selama beberapa jam dengan skala delapan kali lebih besar dibandingkan serangan balasan pada akhir Juni lalu.
"Iran tidak mendengarkan peringatan kami, sehingga kami terpaksa 'menaikkan volumenya'," ujar pejabat tersebut.
Baca Juga: Hanya Seminggu Kurangi Garam, Tekanan Darah Turun Setara Efek Obat Hipertensi
Adapun sejumlah fasilitas strategis yang menjadi target utama militer AS meliputi:
-
Sistem pertahanan udara dan sistem pengawasan pantai.
-
Situs rudal permukaan-ke-udara.
-
Lokasi peluncuran rudal jelajah antikapa dan pangkalan drone.
-
Sejumlah fasilitas pelabuhan utama milik Iran.
Baca Juga: SPMB Jalur Reguler Berakhir, yang Lolos Harus Lapor Diri
Akibat gempuran ini, media pemerintah Iran melaporkan suara ledakan dahsyat terdengar di beberapa wilayah pesisir, termasuk Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik.
AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran
Sebagai respons non-militer tambahan, Pemerintah AS langsung mencabut izin khusus yang memperbolehkan penjualan minyak Iran. Izin tersebut sebelumnya diberikan sebagai insentif dalam kesepakatan sementara demi meredakan konflik.
Baca Juga: Indonesia Berpeluang Cetak Sejarah, Kembangkan Vaksin mRNA DBD Pertama di Dunia
Langkah tegas ini diambil karena AS menilai tindakan Iran di jalur selat logistik tersebut sudah tidak dapat ditoleransi. Dampaknya, ketegangan ini diprediksi kembali menghambat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur krusial yang menampung seperlima dari total perdagangan minyak dan gas alam dunia pada masa damai.
Kementerian Luar Negeri Iran langsung mengecam keras langkah sepihak Washington. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa agresi militer dan pencabutan izin ekonomi tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap komitmen bersama.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Kerap Jadi Kendala Penyerahan PSU Perumahan di Balikpapan, Disperkim Buka Ruang Cari Solusi
Kapal Tanker Qatar Terbakar di Selat Hormuz
Sebelum serangan balasan AS diluncurkan, badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan situasi mencekam di lepas pantai Oman. Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) bernama Al Rekayyat milik Qatar dilaporkan terkena proyektil dan terbakar.
Baca Juga: Kemenhaj Usulkan Biaya Haji 2027 Jadi Rp 107 Juta per Jemaah, Begini Skemanya
Televisi pemerintah Iran mengklaim kapal tersebut ditembak setelah mengabaikan peringatan navigasi, meski Teheran tidak secara terbuka mengaku sebagai pelaku serangan. Dua kapal komersial lainnya juga mengalami kerusakan struktural, tetapi berhasil melanjutkan pelayaran tanpa adanya laporan korban luka.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengecam keras aksi anarki di laut tersebut. Melalui unggahan di media sosial X, ia menegaskan bahwa Qatar meminta pertanggungjawaban hukum secara penuh kepada pihak Iran atas gangguan terhadap navigasi internasional dan keamanan energi global.
Baca Juga: Ada Kesempatan Saat Melintas, Alat Bengkel Dicuri
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih dalam pengawasan ketat koalisi angkatan laut internasional penasihat AS, sementara pembicaraan diplomatik kedua negara ditunda hingga prosesi pemakaman Ali Khamenei rampung.(*)
Editor : Thomas Priyandoko