KALTIMPOST.ID–Lamine Yamal menutup Piala Dunia 2026 dengan pencapaian besar. Pada usia 19 tahun, winger Barcelona itu ikut membawa Spanyol meraih gelar juara dunia kedua setelah menaklukkan Argentina 1-0 melalui perpanjangan waktu di final.
Pencapaian tersebut membuat Yamal berada dalam lintasan yang hampir serupa dengan Kylian Mbappé. Penyerang Prancis itu juga berusia 19 tahun ketika menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia.
Namun, jejak individual keduanya sepanjang turnamen terasa berbeda. Yamal berperan penting dalam struktur permainan Spanyol, tetapi penampilannya belum meninggalkan ledakan sebesar Mbappé delapan tahun lalu.
Mbappé mencetak empat gol dalam tujuh pertandingan pada Piala Dunia 2018. Dua di antaranya lahir ketika Prancis menyingkirkan Argentina 4-3 pada babak 16 besar.
Ia kemudian mencetak gol dalam kemenangan 4-2 atas Kroasia di final dan dinobatkan sebagai pemain muda terbaik.
Rangkaian itu melahirkan momen ikonik. Kecepatan, keberanian berduel, dan ketajamannya membuat Piala Dunia 2018 dikenang sebagai panggung kemunculan Mbappé sebagai superstar global.
Yamal menempuh jalur berbeda. Ia sempat memasuki turnamen setelah mengalami cedera hamstring dan baru kembali menjadi starter ketika Spanyol menghadapi Arab Saudi. Dalam pertandingan tersebut, Yamal mencetak gol pembuka saat La Roja menang 4-0.
Sepanjang turnamen, kontribusinya tidak hanya diukur melalui gol. Pelatih Spanyol Luis de la Fuente menilai Yamal bekerja untuk tim, membantu bertahan, serta selalu menciptakan keraguan dan ketakutan ketika menguasai bola. “Yamal sebagai calon genius yang masih terus berkembang,” katanya seperti dikutip dari Reuters.
De la Fuente bahkan mengatakan hari besar Yamal di Piala Dunia masih akan datang. Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pelatih Spanyol tidak membebani sang pemain sebagai penyelamat tunggal.
Pandangan serupa sebelumnya disampaikan pelatih Barcelona Hansi Flick. Ia menyebut Yamal selalu menghasilkan hal-hal positif bagi tim, meski tidak selalu mencetak gol.
Baca Juga: Mantan Pemain Persiba Amir Yusuf Pohan Dorong Peningkatan Kualitas Pelatih Sepak Bola di Balikpapan
Mantan pelatih Inter Milan Simone Inzaghi bahkan menyebut talenta seperti Yamal hanya lahir sekali dalam 50 tahun.
Perbedaan paling jelas terlihat dalam cara kedua tim meraih gelar. Prancis 2018 memanfaatkan ledakan Mbappé dalam serangan balik.
Sementara Spanyol 2026 lebih mengandalkan penguasaan bola, kedalaman skuad, dan kontribusi merata.
Di final, Yamal juga tidak menjadi penentu utama. Gol kemenangan Spanyol dicetak pemain pengganti Ferran Torres pada menit ke-106.
Rodri kemudian meraih penghargaan pemain terbaik Piala Dunia 2026. Sedangkan Pau Cubarsí menjadi pemain muda terbaik.
Karena itu, Yamal tetap layak disebut luar biasa. Namun, Mbappé 2018 menghadirkan sesuatu yang lebih dramatis. Yakni gol, kecepatan, dan momen besar.
Mbappé menjadi fenomena individual dalam tim juara, sedangkan Yamal menjadi bagian penting dari mesin kolektif Spanyol. (rd2)
Editor : Romdani.