Penurunan Stunting Masih Rendah, Anggota DPRD Kaltim Minta Pencegahan Dimulai Sejak Remaja Putri

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 18:54 WIB
Wakil ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis saat menggelar konferensi pers terkait penundaan hak angket, Rabu (10/6/2026). (Bayu/KP)
Wakil ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis. (Bayu/KP)

KALTIMPOST.ID-Penurunan prevalensi stunting di Kaltim dinilai masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.

DPRD Kaltim mengingatkan pemerintah agar memperkuat strategi penanganan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan gizi, layanan kesehatan dasar, hingga edukasi kepada masyarakat agar target penurunan stunting dapat tercapai.

Wakil Ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis mengatakan, prevalensi stunting di Kaltim pada 2025 tercatat sebesar 22,2 persen.

Angka tersebut hanya turun 0,7 poin dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata nasional.

Baca Juga: Satgas Yonif 613/Raja Alam Sukses Jalankan Pendekatan Humanis di Puncak Jaya Papua, Pangdam Sebut Warga Beri Respons Positif

Menurutnya, capaian tersebut juga masih cukup jauh dari target pemerintah pusat yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 14 persen.

Bahkan, ia berharap angka stunting di Kaltim dapat ditekan hingga mendekati nol persen sebagai bagian dari upaya menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.

“Kami di PDIP malah inginnya 0 persen. Bagaimana mau menuju Generasi Emas 2045 kalau angka stunting di Kaltim masih tinggi?” ujarnya, Rabu (22/7).

Ananda menegaskan penanganan stunting tidak boleh hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai sejak masa sebelum kehamilan, berlanjut selama kehamilan, hingga anak berusia dua tahun atau dikenal sebagai periode 1.000 hari pertama kehidupan.

Ia menjelaskan, kecukupan gizi pada fase tersebut menjadi faktor utama dalam mencegah stunting. Apabila kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi sejak dini, risiko gangguan pertumbuhan anak akan semakin tinggi.

Baca Juga: Ketika Anggaran Menyusut, Haruskah Pelayanan Ikut Menyusut? Menakar Kepemimpinan Pancasila di Tengah Era Efisiensi

Selain itu, perhatian terhadap kesehatan remaja putri sebagai calon ibu juga dinilai tidak kalah penting. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, pemberian vitamin, serta suplemen penambah darah perlu diperkuat agar calon ibu memasuki masa kehamilan dalam kondisi sehat.

“Kalau fase itu tidak terpenuhi gizinya, di situlah stunting muncul. Remaja putri harus dicek kesehatannya dan diberi vitamin tambahan,” katanya.

Di sisi lain, Ananda juga menekankan pentingnya memperkuat layanan kesehatan primer. Menurutnya, posyandu dan puskesmas menjadi garda terdepan dalam mendeteksi risiko stunting sejak dini sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi anak.

Ia mendorong pemerintah menambah tenaga kesehatan di fasilitas layanan dasar tersebut agar proses skrining dan pendampingan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.

Dengan keterlibatan berbagai sektor, Ananda berharap penurunan angka stunting di Kaltim dapat dipercepat sehingga kualitas sumber daya manusia di masa depan semakin baik. (rd)

Editor : Romdani.
penajam paser utara ibu kota nusantara dprd kaltim stunting anak Kutai Barat