Sembarangan Buang Jangkar Ancam Ekosistem Maratua, Pemprov Kaltim Siapkan Tambatan Kapal Penghasil PAD

Eko Pralistio • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 08:49 WIB
Kawasan wisata bahari dan ekosistem terumbu karang di Kabupaten Berau. Pemprov Kaltim akan menata jalur kapal pesiar serta membangun fasilitas tambatan kapal guna mencegah kerusakan terumbu karang akibat pelemparan jangkar sembarangan. (IST)
Kawasan wisata bahari dan ekosistem terumbu karang di Kabupaten Berau. Pemprov Kaltim akan menata jalur kapal pesiar serta membangun fasilitas tambatan kapal guna mencegah kerusakan terumbu karang akibat pelemparan jangkar sembarangan. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Terumbu karang di kawasan wisata bahari, Kabupaten Berau, sedang diperhatikan Pemprov Kaltim. Selain memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal pesiar yang masuk ke kawasan konservasi. Pemerintah mulai menggenjot edukasi bagi wisatawan agar tidak merusak ekosistem bawah laut.

Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud mengatakan, kapal-kapal yang beroperasi di kawasan wisata bahari harus diawasi agar tidak merusak terumbu karang saat bersandar.

"Harus kita awasi dan atur kapal-kapal pesiar yang masuk ke kawasan wisata bahari Kaltim berbasis konservasi alam laut, terutama di Berau ini," kata Rudy usai tiba di Bandara Internasional Kalimarau, Tanjung Redeb, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah juga diminta membangun tambatan kapal atau fasilitas sandar di kawasan wisata.  Selain menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD), fasilitas itu diharapkan dapat mencegah kapal melempar jangkar secara sembarangan.

"Ini akan menjadi PAD, terutama Berau yang memiliki banyak kawasan wisata bahari. Bahkan keindahannya tidak kalah dengan negara-negara lain," ujarnya. Ia menegaskan terumbu karang bukan sekadar daya tarik wisata. Ekosistem tersebut menjadi habitat berbagai jenis biota laut sekaligus pelindung alami pantai dari abrasi.

"Terumbu karang juga merupakan sumber kehidupan bagi berbagai jenis ikan sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. Tentu kita sangat melindungi kawasan pantai kita," tegasnya.

Rudy mengeklaim telah menginstruksikan Dinas Perhubungan Kaltim berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Berau untuk mengatur lalu lintas kapal di kawasan wisata bahari.

"Kami sudah instruksikan agar persoalan kapal-kapal ini segera diatasi sehingga tidak sembarangan melempar jangkar yang dapat merusak terumbu karang. Sebab, perlu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk memulihkan terumbu karang yang sudah telanjur rusak," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal menilai perlindungan terumbu karang tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan terhadap kapal. Edukasi kepada wisatawan disebut menjadi kunci menjaga kelestarian ekosistem bawah laut.

"Bagi kami, persoalannya bukan hanya soal terumbu karang dirusak kapal atau wisatawan. Yang lebih penting adalah edukasi. Masyarakat harus lebih dulu diberi pemahaman tentang betapa sulitnya menumbuhkan terumbu karang," ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Faisal mengatakan, terumbu karang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh, tetapi bisa rusak hanya dalam hitungan menit akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, Dispar Kaltim mulai merancang pendidikan dasar bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata bawah laut. Sejak pekan lalu, pihaknya gencar memperkenalkan sekolah scuba diving, freediving, hingga snorkeling di provinsi ini.

Menurut Faisal, para instruktur diwajibkan memberikan pembekalan kepada peserta sebelum turun ke laut. Mereka harus memahami cara menyelam yang benar, termasuk larangan menginjak atau menyentuh terumbu karang.

"Harus ada pendidikan dasar. Wisatawan harus tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berada di bawah laut," katanya. Ia menyebut Kaltim kini telah memiliki sejumlah instruktur selam bersertifikat, termasuk sekolah menyelam di Samarinda yang bisa menjadi tempat masyarakat belajar sebelum berwisata ke destinasi bahari seperti Maratua.

Selama ini, kata Faisal, tidak sedikit wisatawan yang datang ke Maratua dengan harapan bisa menyelam. Namun, karena belum memiliki sertifikasi, mereka tidak diperbolehkan turun ke bawah laut sehingga hanya menikmati pantai dan pulang dengan rasa kecewa.

"Untuk menyelam hingga kedalaman tertentu ada tahapan dan sertifikasi yang wajib dipenuhi. Karena itu sekarang kami mulai gencar menyosialisasikan sekolah menyelam agar masyarakat tahu harus belajar di mana sebelum berwisata," pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
objek wisata kaltim pemprov kaltim berau Pulau maratua pulau derawan