371 Ribu Warga Kaltim Berisiko Stroke! Pemprov Kaltim Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Lewat CKG

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 06:59 WIB
 Dokter Spesialis Neurologi (Saraf) RSUD AWS Samarinda, dr. Muhammad Febian Satrio, Sp.N. (IST)
Dokter Spesialis Neurologi (Saraf) RSUD AWS Samarinda, dr. Muhammad Febian Satrio, Sp.N. (IST)

SAMARINDA—Hipertensi masih menjadi ancaman kesehatan terbesar di Kaltim. Dinas Kesehatan Kaltim memperkirakan sebanyak 371.317 penduduk berusia di atas 15 tahun mengidap tekanan darah tinggi pada 2025.

Kondisi yang kerap tidak disadari penderitanya itu menjadi faktor risiko utama stroke, penyakit yang kini tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sebanyak 354.459 orang atau 95,5 persen dari estimasi penderita hipertensi telah memperoleh pelayanan kesehatan.

Samarinda menjadi daerah dengan jumlah penderita tertinggi, mencapai 217.576 orang. Tingginya angka tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang kini menggeser fokus pembangunan kesehatan dari pengobatan menuju pencegahan penyakit.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemerintah menargetkan 130 juta penduduk menjalani skrining kesehatan pada tahun ini setelah sekitar 70 juta orang mengikuti pemeriksaan pada tahun pertama pelaksanaan program. Dalam lima tahun mendatang, cakupan pemeriksaan ditargetkan meningkat hingga 280 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, fokus utama CKG ialah mendeteksi hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi sebagai faktor risiko terbesar stroke. 

"Prevalensi hipertensi di Indonesia hampir 20 persen dan diabetes lebih dari 10 persen. Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin," ujar Budi saat memberikan arahan pada Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summit (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat (10/7) lalu.

Pemerintah menerapkan strategi 80-80-80, yakni 80 persen penduduk teridentifikasi, 80 persen dari yang terdeteksi memperoleh penanganan, dan 80 persen dari mereka berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya.

Menurut Budi, stroke menyebabkan sekitar 337 ribu kematian setiap tahun dan diperkirakan masih lebih tinggi karena banyak kasus belum tercatat dalam sistem nasional. Stroke juga menjadi penyakit dengan beban pembiayaan terbesar ketiga dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan nilai klaim lebih dari Rp 5 triliun per tahun.

"Setiap tahun sekitar 300.000 orang meninggal akibat stroke. Saya sangat terlibat secara pribadi karena ibu saya sendiri mengalami stroke ketika berusia 70 tahun. Saat itu, di kota kami bahkan belum tersedia CT scan sehingga harus dibawa ke kota lain, dan sudah terlambat. Ibu saya mengalami kelumpuhan selama sembilan tahun," lanjut Budi.

Selain memperkuat deteksi dini, pemerintah mempercepat pemerataan layanan stroke dengan menargetkan seluruh 514 kabupaten/kota memiliki fasilitas CT scan dan cath lab. Dokter bedah umum di daerah juga akan dilatih melakukan tindakan kraniotomi pada kasus stroke perdarahan, sementara rumah sakit provinsi diperlengkapi dengan CUSA, neuronavigasi, dan mikroskop operasi.

Hipertensi Masih Mendominasi

Dokter Spesialis Neurologi RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, dr. Muhammad Febian Satrio, Sp.N, mengatakan hipertensi masih menjadi faktor risiko yang paling banyak ditemukan pada pasien stroke.

“Kalau kita lihat, yang paling banyak tentunya adalah hipertensi karena memang jumlah penderitanya paling banyak dibanding faktor risiko lainnya. Walaupun kalau dari sisi kemungkinan mempercepat terjadinya stroke, diabetes memang lebih cepat, tetapi jumlah penderitanya tidak sebanyak hipertensi,” ujarnya kepada Kaltim Post, Jumat (17/7).

Menurutnya, stroke umumnya dipicu kombinasi sejumlah faktor, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hingga stres. Karena itu, ia menilai Program CKG menjadi langkah penting untuk menemukan faktor risiko sejak dini sebelum berkembang menjadi stroke.

“Seiring bertambahnya usia, faktor risiko itu akan muncul. Nah, CKG atau cek kesehatan secara rutin diperlukan untuk mendeteksi lebih awal sehingga bisa segera dilakukan perbaikan pola hidup atau dibantu dengan obat-obatan. Dari situ diharapkan kejadian stroke dapat ditekan,” katanya.

Selain pemeriksaan rutin, ia mengingatkan masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi, olahraga sedikitnya 150 menit setiap pekan, tidur minimal enam jam setiap malam, serta mengelola stres. Ia juga mengimbau masyarakat membatasi konsumsi makanan ultra proses (ultra processed food/UPF) yang umumnya mengandung kadar garam tinggi.

“Makanan yang diawetkan atau makanan dalam kemasan biasanya mengandung garam lebih tinggi. Karena itu kami sarankan mengurangi konsumsi makanan-makanan tersebut,” ucapnya.  Satrio menambahkan, meski mayoritas pasien stroke masih berasal dari kelompok usia lanjut, tren penderita usia produktif mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 

“Sekarang kami sudah mulai mendapati stroke pada usia dekade ketiga dan keempat, atau usia 30 sampai 40 tahun. Kebanyakan memiliki latar belakang pola hidup yang kurang baik, seperti merokok, tidak pernah berolahraga, dan tingkat stres yang tinggi,” ungkapnya. 

Ia mengingatkan hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya hingga terjadi komplikasi. “Tekanan darah tinggi sering kali tidak memberikan gejala khusus. Itu yang membuat banyak orang tidak aware. Karena itu, masyarakat sebaiknya memiliki alat pengukur tekanan darah digital di rumah agar bisa melakukan pemeriksaan secara mandiri,” jelasnya.

Pada bagian lain, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr. Jaya Mualimin menyebut hipertensi merupakan silent killer yang dapat memicu stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan gangguan pembuluh darah.

Karena itu, Dinkes Kaltim terus mendorong deteksi dini melalui pelayanan kesehatan primer, edukasi pola hidup sehat, kepatuhan minum obat, serta penerapan perilaku CERDIK: cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
hipertensi Kaltim Cek Kesehatan Gratis (CKG) CKG RSUD AWS Samarinda