Koperasi Merah Putih 5 Meter dari Kuburan, Pengamat Ekonomi UINSI Tekankan Tata Kelola

Eko Pralistio • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 20:00 WIB
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif. (FOTO/IST)
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif. (FOTO/IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sebuah bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berdiri di Jalan Abdul Wahab Syahranie, Kelurahan Sempaja Barat, Kecamatan Samarinda Utara. 

Sekilas tak ada yang berbeda dengan koperasi lain. Namun, ada satu hal yang langsung mengundang perhatian; bangunan itu hanya berjarak sekitar lima meter dari kuburan Taman Makam Abadi Sempaja.

Lokasi tersebut memunculkan pertanyaan. Mengapa koperasi yang digadang-gadang menjadi simpul ekonomi masyarakat justru dibangun berdampingan dengan area pemakaman? 

Di tengah tanda tanya itu, warga sekitar tetap berharap koperasi mampu menjalankan fungsi utamanya, yakni mempermudah akses terhadap kebutuhan pokok sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, memandang polemik tersebut tidak bisa dilihat hanya dari kedekatannya dengan pemakaman. 

Baca Juga: Koperasi Merah Putih Berdiri Dekat Pemakaman, Lurah Sempaja Barat Sebut Tak Ada Opsi Lahan Lain

Dalam perspektif ekonomi lokasi, posisi sebuah usaha memang berpengaruh terhadap tingkat kunjungan konsumen. Namun, itu bukan satu-satunya variabel yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah koperasi.

Dalam teori ekonomi lokasi, lanjut dia, menempatkan kedekatan dengan konsumen sebagai salah satu keunggulan kompetitif.  Semakin dekat jarak usaha dengan permukiman, semakin kecil biaya transportasi, waktu tempuh, dan biaya transaksi yang harus dikeluarkan masyarakat.

Dampaknya, frekuensi kunjungan berpotensi meningkat sehingga omzet usaha menjadi lebih stabil. "Lokasi strategis memang memberikan keunggulan awal. Tetapi keberlanjutan koperasi tetap ditentukan oleh kualitas pengelolaannya," ujar Ahmad, dikonfirmasi via whatsapp, Rabu (29/7).

Baca Juga: Didirikan 5 Meter dari Pemakaman, Lokasi Koperasi Merah Putih Sempaja Barat Disorot Warga

Artinya, koperasi yang berdiri di lokasi ideal sekalipun tidak otomatis berhasil jika gagal menjaga harga tetap kompetitif, stok barang tersedia, pelayanan memadai, serta mampu membangun kepercayaan masyarakat.

Sebaliknya, koperasi di lokasi yang dianggap kurang menguntungkan masih memiliki peluang berkembang apabila mampu menawarkan nilai lebih dibandingkan tempat belanja lain.

Persepsi Tak Selalu Berujung Penolakan

Kedekatan koperasi dengan area pemakaman memang berpotensi memunculkan hambatan psikologis. Ahmad menilai sebagian masyarakat bisa saja merasa kurang nyaman berbelanja di sekitar kawasan makam karena dipengaruhi persepsi, suasana, maupun budaya yang berkembang di lingkungan setempat.

Namun, faktor tersebut bukan sesuatu yang bersifat mutlak. Menurutnya, persepsi negatif akan semakin kecil apabila akses menuju koperasi mudah, kawasan terang, lingkungan tertata, dan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi berlangsung normal. 

Dalam kondisi demikian, kata dia, masyarakat cenderung lebih mempertimbangkan kemudahan memperoleh barang dibanding keberadaan pemakaman di dekatnya. "Yang lebih menentukan justru aksesibilitas. Kalau jalan mudah dilalui, parkir tersedia, dan lokasinya aman, masyarakat lama-kelamaan akan terbiasa," katanya.

Sebaliknya, apabila lokasi sulit dijangkau, minim penerangan, atau terkesan terisolasi, persepsi negatif masyarakat berpotensi semakin menguat. Situasi seperti itu dapat berdampak langsung terhadap rendahnya tingkat kunjungan.

Baca Juga: KKMP Sungai Keledang Masih Tunggu Pembangunan, Kecamatan Minta Koperasi Jadi Pelengkap UMKM

Ahmad menilai kelemahan lokasi masih dapat dikompensasi melalui strategi pengelolaan yang tepat. Pihaknya menyarankan koperasi menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan toko sekitar, memastikan kebutuhan pokok selalu tersedia, serta menghadirkan layanan pesan antar maupun belanja daring bagi warga.

Selain itu, koperasi perlu membangun jejaring dengan RT, RW, dan pelaku UMKM setempat agar distribusi kebutuhan masyarakat lebih efektif. Hal-hal yang kerap dianggap sepele seperti penunjuk arah, pencahayaan, kondisi akses jalan, hingga penataan area parkir juga dinilai ikut menentukan kenyamanan konsumen.

Promosi melalui media sosial maupun kegiatan kemasyarakatan, menurutnya, dapat menjadi instrumen untuk memperkenalkan koperasi sekaligus mengikis keraguan masyarakat terhadap lokasi usaha.

Di sisi lain, Ahmad mengingatkan keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak semestinya diukur dari kemampuannya menggantikan pasar tradisional. Dia justru melihat fungsi koperasi sebagai pelengkap yang mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apabila koperasi mampu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga bersaing, kualitas yang baik, dan stok yang terjaga, masyarakat kemungkinan akan berbelanja kebutuhan harian di sana. Sementara kebutuhan yang lebih beragam tetap dipenuhi melalui pasar tradisional.

Baca Juga: Desa Girimukti Jadi Pilot Project Koperasi Desa Merah Putih, Bupati PPU Siap All-Out Dukung Program Pusat

Dengan demikian, keberhasilan koperasi tercermin dari berkurangnya frekuensi perjalanan masyarakat ke pasar untuk membeli kebutuhan pokok. Penghematan biaya transportasi dan waktu menjadi manfaat ekonomi yang lebih realistis dibanding menggeser fungsi pasar secara keseluruhan.

Meski demikian, Ahmad mengingatkan risiko yang muncul apabila koperasi gagal menarik pengunjung. Dari sisi ekonomi, kondisi itu dapat menyebabkan omzet rendah, arus kas terganggu, perputaran persediaan melambat, hingga menghambat perkembangan usaha. Dalam jangka panjang, koperasi bahkan berpotensi mengalami kerugian dan berhenti beroperasi.

Dampaknya tidak berhenti pada koperasi itu sendiri. Kegagalan tersebut juga dapat menggerus kepercayaan publik terhadap program pemerintah yang mendorong pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.

Karena itu, dia menilai setiap pendirian koperasi semestinya didahului studi kelayakan (feasibility study). Kajian tersebut tidak hanya memotret lokasi, tetapi juga jumlah penduduk, daya beli masyarakat, pola konsumsi, akses transportasi, hingga proyeksi permintaan.

"Lokasi memang penting, tetapi bukan faktor tunggal. Keberhasilan koperasi lahir dari perpaduan antara lokasi yang memadai, tata kelola yang profesional, harga yang kompetitif, dukungan masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang disusun berdasarkan kebutuhan serta potensi wilayah," kuncinya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Koperasi Merah Putih UINSI Samarinda samarinda