KALTIMPOST.ID - Ukraina temukan titik lemah Rusia dengan mengubah sasaran serangan dari infrastruktur energi menjadi pusat logistik yang menopang aktivitas ekonomi dan distribusi militer Moskow. Salah satu target terbarunya adalah gudang milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar di Rusia.
Perubahan strategi ini dinilai menjadi upaya baru Ukraina untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia. Selain mengganggu rantai pasok, serangan tersebut juga diharapkan dapat memperbesar beban ekonomi sehingga memengaruhi kemampuan Rusia melanjutkan perang.
Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina temukan titik lemah Rusia melalui serangan drone ke sejumlah fasilitas industri. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi yang tidak hanya menyasar sektor militer, tetapi juga infrastruktur logistik yang memiliki peran penting bagi perekonomian Rusia.
Wildberries Jadi Sasaran, Ukraina Ubah Fokus Serangan
Mengutip dari CNBC Indonesia, Wildberries mengonfirmasi telah mengevakuasi gudangnya di Kota Ryazan pada Rabu (29/7/2026) pagi setelah serangan drone Ukraina menghantam sejumlah fasilitas industri di kawasan tersebut.
Serangan itu menandai perubahan pendekatan Ukraina. Jika sebelumnya serangan jarak jauh lebih banyak diarahkan ke fasilitas energi Rusia, kini pusat logistik menjadi target utama.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menjelaskan alasan di balik perubahan strategi tersebut.
"Gudang-gudang yang menjadi target drone Ukraina sejatinya terlibat dalam memasok komponen drone, peralatan navigasi, dan komponen militer lainnya untuk pasukan Rusia," ungkap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (30/7/2026)).
Wildberries sendiri dikenal sebagai perusahaan e-commerce terbesar di Rusia dan kerap disebut sebagai pesaing utama Amazon di negara tersebut. Perusahaan itu berdiri sejak 2004 dan memiliki sekitar 48.000 karyawan.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa di Sektor Bisnis Rusia
Serangan terhadap pusat logistik dinilai tidak hanya berdampak pada distribusi barang, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas dunia usaha Rusia.
Menurut dua sumber internal yang dikutip CNBC International, pemerintah Rusia disebut mempertimbangkan dukungan pendanaan untuk membantu operasional Wildberries. Bank milik negara VTB diproyeksikan memegang peran penting dalam proses tersebut.
Di sisi lain, Sberbank juga dikabarkan tengah menyiapkan skema restrukturisasi pinjaman bagi para vendor Wildberries. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko kebangkrutan pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada platform tersebut.
Peneliti Program Rusia dan Eurasia di Chatham House, Natalya Kovaleva, menilai serangan terhadap Wildberries menghadirkan tantangan baru bagi pelaku usaha Rusia.
"Sanksi Barat meretakkan rantai pasok, kenaikan pajak menekan marjin, pemadaman internet mengganggu operasional, dan kelangkaan bahan bakar baru-baru ini mendorong biaya sekaligus menambah tekanan inflasi. Pemilik bisnis di Rusia sebagian besar telah menyerap guncangan ini, tetapi serangan Ukraina ke Wildberries menyajikan perkembangan baru yang signifikan," ujar Natalya Kovaleva.
Ia juga menjelaskan harapan Ukraina melalui strategi tersebut.
"Ukraina berharap bahwa dengan menaikkan biaya perang bagi bisnis-bisnis Rusia, oposisi internal akan meningkat dan Putin mungkin terpaksa ke meja perundingan atau setidaknya menghentikan pemboman terhadap kota-kota di Ukraina," lanjutnya.
Analis Nilai Ekonomi Rusia Semakin Rentan
Di tengah perubahan strategi serangan Ukraina, sejumlah analis menilai kondisi ekonomi Rusia kini menghadapi tantangan yang semakin besar.
Peneliti Senior di Peterson Institute for International Economics, Elina Ribakova, mengatakan pertumbuhan ekonomi Rusia saat ini mengalami stagnasi akibat melemahnya aktivitas industri.
"Ekonomi Rusia telah mogok. Pertumbuhannya berada di angka nol persen tahun ini-paling bagus kita melihat adanya kontraksi ekonomi dan penurunan output industri pada kuartal pertama. Kontraksi output industri berarti sektor pertahanan juga mengalami perlambatan yang signifikan, sehingga Rusia sangat rentan," jelas Elina Ribakova.
Menurutnya, perlambatan industri juga berdampak pada sektor pertahanan sehingga meningkatkan kerentanan Rusia apabila tekanan ekonomi terus bertambah.
Tekanan Diplomatik dan Sanksi AS Ikut Menguat
Situasi ini terjadi ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Oval Office untuk membahas lisensi produksi sistem pencegat Patriot serta upaya menghidupkan kembali jalur diplomasi.
Pada saat yang sama, Kongres AS mulai meloloskan rancangan undang-undang sanksi energi baru yang bertujuan memperketat tekanan ekonomi terhadap Moskow.
Di luar itu, konflik juga semakin kompleks setelah ketegangan Rusia dan Iran disebut saling berkaitan. Serangan Ukraina terhadap kapal komersial Iran di Laut Kaspia serta potensi penutupan Selat Hormuz dinilai dapat memengaruhi harga minyak dunia, yang pada akhirnya juga berdampak terhadap kemampuan pendanaan perang Rusia.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : CNBC Indonesia