UKM Mawar Desa Sepatin Kukar Kembangkan Kerupuk Udang dan Olahan Buah Mangrove, Bidik Pasar Internasional

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 17:40 WIB
Nurhalia memamerkan produk hasil olahan timnya yang sudah dikirim ke luar daerah. (FOTO AINUR/KP)
Nurhalia memamerkan produk hasil olahan timnya yang sudah dikirim ke luar daerah. (FOTO AINUR/KP)

KALTIMPOST.ID-Potensi sumber daya pesisir Kaltim yang melimpah terus dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi.

Salah satunya dilakukan Kelompok UKM Mawar di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar).

Mereka mengembangkan produk olahan berbahan baku udang dan buah mangrove sebagai upaya mendorong pertumbuhan usaha mikro, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Ketua Kelompok UKM Mawar Nurhalia mengatakan produk unggulan kelompoknya saat ini adalah kerupuk udang yang diproduksi dari hasil tambak dan tangkapan laut di desa.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah, menjadi modal utama bagi kelompok tersebut untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan.

Baca Juga: Kaltim Kehilangan 102.040 Hektare Hutan Mangrove, Pembuatan Tambak Jadi Penyebab Utama Kerusakan

“Kami memanfaatkan potensi udang yang ada di desa. Alhamdulillah, kerupuk udang yang kami produksi sudah dipasarkan hingga ke luar daerah,” ujar Nurhalia saat dikunjungi belum lama ini.

Menurutnya, selain menghasilkan kerupuk udang, kelompoknya juga mengolah kepala udang yang sebelumnya hanya menjadi limbah menjadi produk petis.

Inovasi tersebut kata dia, dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan sekaligus mengurangi limbah produksi.

“Daripada kepala udang terbuang, kami mencoba mengolahnya menjadi petis yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Ini menjadi salah satu produk yang juga kami kembangkan,” jelasnya.

Tak hanya mengandalkan hasil laut, UKM Mawar juga mulai mengeksplorasi potensi tanaman mangrove yang tumbuh di wilayah pesisir desa.

Salah satu komoditas yang dimanfaatkan adalah buah pedada, sejenis buah mangrove yang memiliki cita rasa asam khas.

Nurhalia menjelaskan, buah pedada pernah diolah menjadi berbagai produk inovatif, seperti sirup dan dodol mangrove.

Baca Juga: Seluas 6.120 Hektare Hutan Mangrove di Kaltim Perlu Direhabilitasi, Program M4CR Turut Melibatkan Masyarakat Pesisir 

“Sirup dengan rasa asam manis yang segar dan aroma khas buah mangrove. Kami juga mencoba membuat dodol dari buah pedada dan hasilnya cukup enak,” katanya.

Meski demikian, produk olahan mangrove tersebut hingga kini belum diproduksi secara berkelanjutan.

Menurut dia, salah satu kendalanya adalah masa simpan produk yang relatif singkat dibandingkan kerupuk udang, serta belum dikenalnya produk tersebut oleh masyarakat luas.

“Kerupuk udang bisa disimpan hingga waktu yang lama, sedangkan sirup hanya bertahan sekitar tiga bulan dan dodol sekitar dua minggu. Karena itu, kami masih fokus mengembangkan kerupuk udang,” ujarnya.

Produk kerupuk udang UKM Mawar kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia. Nurhalia menyebutkan, produknya sudah dikirim ke Samarinda, Sulawesi hingga Pulau Jawa.

Namun, pemasaran ke pasar internasional masih menjadi target yang ingin dicapai di masa mendatang.

“Kalau ke luar negeri belum, tetapi kami berharap suatu saat nanti produk kami bisa menembus pasar yang lebih luas,” katanya.

Awalnya, para anggota memproduksi kerupuk secara mandiri di rumah masing-masing. Seiring adanya dorongan pemerintah untuk membentuk kelompok usaha bersama, akhirnya terbentuklah Kelompok UKM Mawar yang kini memiliki rumah produksi sebagai pusat kegiatan.

“Kelompok kami masih baru, proses kerja sama masih kami bangun. Kami berusaha agar seluruh anggota dapat bekerja bersama dalam satu wadah,” tutur Nurhalia.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Pakar Ekonomi Sebut Dugaan Korupsi Sektor Batu Bara di Kaltim Jangan Ganggu Iklim Investasi, Tata Kelola Harus Dibenahi

Saat ini UKM Mawar memiliki 13 anggota. Namun, tidak seluruh anggota selalu aktif dalam setiap kegiatan produksi karena masing-masing memiliki kesibukan lain.

Dalam sekali produksi, kelompok tersebut rata-rata mengolah sekitar 20 kilogram udang yang berasal dari tambak maupun hasil tangkapan laut.

Udang berukuran kecil yang tidak dipasarkan keluar daerah menjadi salah satu bahan baku utama pembuatan kerupuk.

Produksi dilakukan secara fleksibel sesuai ketersediaan bahan baku. Bahkan, apabila pasokan udang mencukupi, kegiatan produksi dapat dilakukan hampir setiap hari.

“Kalau bahan baku tersedia, kami langsung produksi. Tidak ada jadwal tetap karena sangat bergantung pada hasil tambak dan laut,” jelasnya.

Sebagai kelompok usaha yang masih berkembang, UKM Mawar mengaku belum dapat menghitung secara pasti pendapatan bulanan kelompok.

Biaya produksi setiap kali mengolah sekitar 20 kilogram udang juga masih berada pada kisaran ratusan ribu rupiah.

Meski demikian, semangat anggota untuk mengembangkan usaha tetap tinggi. “Harapan kami sejalan dengan harapan pemerintah, yaitu agar UKM seperti kami terus berkembang dan mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa,” pungkas Nurhalia. (rd)

Editor : Romdani.
desa sepatin penajam paser utara pasar internasional ibu kota nusantara kutai kartanegara