Cabai Rawit dan Bawang Merah Anjlok, Bank Indonesia Sebut Tekanan Inflasi Kaltim Melandai

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 19:25 WIB
DEFLASI: Cabai rawit dan bawang merah jadi komoditas penyumbang deflasi terbesar bulanan pada Juli.
DEFLASI: Cabai rawit dan bawang merah jadi komoditas penyumbang deflasi terbesar bulanan pada Juli.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penurunan harga cabai rawit, bawang merah, hingga tomat berhasil meredam tekanan inflasi Kalimantan Timur pada Juli 2026. Meski begitu, kenaikan harga bensin dan biaya pendidikan masih membuat inflasi bulanan tetap berada di level positif 0,18 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, tekanan inflasi pada Juli lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,70 persen (month to month/mtm).

Menurut dia, melandainya inflasi tidak lepas dari turunnya harga sejumlah komoditas pangan. “Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, antara lain cabai rawit, bawang merah, tomat, emas perhiasan, dan cabai merah,” jelasnya, Selasa (4/8).

Meski demikian, beberapa komoditas masih menjadi pendorong utama inflasi. “Secara umum, tekanan inflasi Juli 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi dan pendidikan. Kelompok transportasi dipengaruhi oleh masih berlanjutnya dampak penyesuaian harga Pertamax pada Juni 2026 terhadap rata-rata harga bensin di bulan Juli 2026, serta andil komoditas pelumas/oli mesin.

Sementara itu, kelompok pendidikan turut memberikan andil inflasi seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027,” lanjutnya. Data BI mencatat kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juli dengan andil 0,22 persen. Sementara kelompok pendidikan menyumbang 0,05 persen. Komoditas yang paling banyak mendorong inflasi antara lain bensin, daging ayam ras, pelumas atau oli mesin, ikan layang, dan beras.

Secara wilayah, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Penajam Paser Utara 0,28 persen, disusul Balikpapan 0,25 persen dan Samarinda 0,20 persen. Berbeda dengan tiga daerah tersebut, Berau justru mengalami deflasi 0,18 persen.

Jajang menegaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat sinergi melalui implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Upaya itu dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, penguatan pasokan komoditas strategis, hingga koordinasi distribusi agar stabilitas harga tetap terjaga. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Inflasi Kaltim BI Kaltim