KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Komentar bernada tidak empatik yang diduga dilontarkan seorang dokter RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda di media sosial menuai sorotan.
DPRD Kota Samarinda mengingatkan seluruh tenaga kesehatan agar menjaga etika komunikasi, termasuk di ruang digital, karena profesi dokter maupun perawat tetap melekat di mata masyarakat meski di luar jam kerja.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie menilai tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sikap dalam setiap situasi. Menurutnya, komentar di media sosial dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
"Sebagai seorang dokter ataupun perawat, apalagi berkaitan dengan isu kesehatan, status itu tetap melekat. Walaupun terjadi di media sosial atau di luar jam kerja, masyarakat tetap melihatnya sebagai tenaga kesehatan," ujarnya, Kamis (6/8).
Baca Juga: Oknum Dokter Berkata Kasar ke Pasien BPJS di Medsos, IDI Balikpapan Tekankan Sanksi dan Evaluasi RS
Novan mengatakan, komentar yang terkesan meremehkan keluhan pasien berpotensi menimbulkan kesan tidak adanya empati. Ia mengingatkan agar tenaga kesehatan berhati-hati dalam menggunakan media sosial. "Jangan sampai mulutmu harimaumu. Ini bisa menimbulkan kesan tidak empati terhadap keluhan masyarakat," tegasnya.
Novan mengajak publik melihat persoalan secara utuh. Menurutnya, keterbatasan kapasitas ruang rawat inap memang kerap menjadi kendala di rumah sakit. Namun kondisi tersebut seharusnya tetap disampaikan secara baik kepada pasien dan keluarganya.
"Kalau memang ruangan penuh, minimal pasien diberi penjelasan. Disampaikan kondisinya seperti apa, diminta menunggu dengan baik. Dengan begitu pasien merasa tidak diabaikan," katanya.
Baca Juga: Komentar Tak Sopan Berujung Sanksi, Dokter IA Moeis Diistirahatkan
Ia menilai komunikasi yang baik menjadi kunci agar kesalahpahaman tidak berkembang menjadi polemik di media sosial. "Namanya orang sakit tentu butuh ketenangan. Kadang yang menjadi persoalan bukan hanya pelayanannya, tetapi bagaimana komunikasi itu dibangun," ujarnya.
Novan juga mengapresiasi langkah manajemen RSUD IA Moeis yang telah memanggil dokter bersangkutan dan menjatuhkan sanksi internal. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan adanya upaya penegakan disiplin di lingkungan rumah sakit. "Langkah yang dilakukan manajemen sudah ada dengan memberikan sanksi. Ini menjadi pelajaran bersama, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat," katanya.
DPRD Kota Samarinda selama ini terus mendorong rumah sakit daerah menindaklanjuti setiap keluhan masyarakat melalui mekanisme layanan pengaduan agar persoalan dapat diselesaikan tanpa harus berkembang di media sosial. "Kalau ada keluhan, sebaiknya disampaikan melalui layanan yang tersedia. Kami di DPRD juga selalu meminta setiap masukan masyarakat menjadi bahan evaluasi pelayanan rumah sakit," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki