Menkes Meradang, Nakes Cibir Pasien BPJS di Sosmed Hingga Meninggal Dunia

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:52 WIB
Ilustrasi Menkes Budi Gunadi Sadikin sedih naker cibir pasien BPJS hingga meninggal dunia.(generate ai)
Ilustrasi Menkes Budi Gunadi Sadikin sedih naker cibir pasien BPJS hingga meninggal dunia.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin akhirnya buka suara menanggapi tajam gelombang cibiran oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap keluhan seorang pasien BPJS Kesehatan di media sosial Threads. Reaksi keras ini memuncak setelah pasien yang bersangkutan dikabarkan meninggal dunia akibat diduga terlambat mendapat penanganan medis.

Di hadapan awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8), Menkes tak mampu menyembunyikan kekecewaannya atas peristiwa nirempati yang mencoreng dunia medis tanah air tersebut.

"Saya sedih sekali," kata Budi Gunadi Sadikin.

Budi menegaskan, nilai kemanusiaan dan empati harus berada di atas segalanya, tanpa memandang profesi maupun latar belakang pasien. Sifat dasar pelayan publik, terlebih tenaga medis, dituntut untuk senantiasa hadir merangkul masyarakat.

"Harusnya apa pun profesi kita, kita harus punya empati lah ke masyarakat," tegasnya.

Sorotan publik ini bermula dari unggahan akun Threads milik pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan (@yurizaltrich) pada 22 Juli lalu. Dalam curhatannya, ia mengaku harus menunggu hingga delapan jam tanpa kepastian ruangan perawatan. Pasien yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat, itu sengaja tidak menyebutkan nama rumah sakit tempatnya berobat karena menggunakan layanan BPJS Kesehatan.

Sayangnya, unggahan curhat tersebut justru direspons dingin oleh sejumlah netizen. Banyak komentar sinis, menghakimi, hingga merendahkan memenuhi kolom komentar. Penelusuran warganet kemudian menemukan fakta mengejutkan: sejumlah akun yang melontarkan nada cibiran diduga kuat milik oknum tenaga kesehatan dan dokter dari berbagai daerah.

Salah satu yang memicu kecaman publik adalah akun @erudarahaadini milik Elda Putri Rahardini, yang disinyalir sebagai salah satu dokter di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Usai mendapat gelombang kritik, ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui komentarnya tidak pantas.

Situasi berubah menjadi duka mendalam setelah pasien dikabarkan menghembuskan napas terakhir pada Jumat (31/7). Kabar duka ini diungkapkan oleh kerabat almarhum melalui akun Threads @hilperd di kolom komentar unggahan tersebut.

"Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin, karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat gini di Threads... sudah ya jangan ada hate lagi di sini," tulis kerabatnya, Sabtu (1/8).

Meninggalnya almarhum di tengah penanganan yang diduga lambat serta gelombang perundungan di media sosial kini memicu evaluasi besar-besaran terkait etika dan empati tenaga medis dalam menangani pasien fasilitas kesehatan masyarakat.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
nirempati nakes menkes