Dapur MBG Bontang Utara 2 Ditutup Sementara, 2.487 Penerima Manfaat Terdampak

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:48 WIB
DISETOP SEMENTARA: Distribusi MBG yang disasar oleh SPPG Bontang Utara 2 terhenti akibat kasus dugaan keracunan makanan. (ADIEL KUNDHARA/KP)
DISETOP SEMENTARA: Distribusi MBG yang disasar oleh SPPG Bontang Utara 2 terhenti akibat kasus dugaan keracunan makanan. (ADIEL KUNDHARA/KP)

BONTANG – Kasus dugaan gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berbuntut penghentian sementara operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2 di Kelurahan Api-Api. Sejak Jumat (7/8/2026), seluruh aktivitas produksi dan distribusi makanan dihentikan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Penghentian operasional tersebut berdampak pada 2.487 penerima manfaat yang untuk sementara tidak lagi menerima layanan MBG. Selain itu, 44 relawan yang selama ini bekerja di dapur MBG juga dirumahkan hingga ada keputusan lanjutan.

Kepala SPPG Bontang Utara 2, Muhammad Rezky, mengatakan belum ada kepastian kapan dapur tersebut kembali beroperasi. Pihaknya masih menunggu hasil evaluasi serta arahan dari instansi terkait.

"Kami belum tahu sampai kapan operasional dihentikan. Saat ini kami masih menunggu instruksi lanjutan dan hasil pemeriksaan sampel," ujarnya, Jumat (7/8).

Baca Juga: Penyebab Puluhan Siswa Sakit Usai Santap MBG di Bontang Masih Diselidiki, Hasil Lab Pekan Depan

Rezky menjelaskan, penghentian operasional membuat seluruh distribusi makanan dari SPPG Bontang Utara 2 terhenti, baik untuk sekolah maupun penerima manfaat melalui posyandu.

Menurut dia, layanan baru dapat kembali berjalan setelah hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium selesai serta menjadi dasar penentuan langkah berikutnya.

Tak hanya penerima manfaat, penghentian sementara juga berdampak terhadap puluhan relawan yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas dapur MBG. Sebanyak 44 relawan, mulai dari tim persiapan bahan, juru masak, petugas pemorsian, pencuci ompreng, pengemudi hingga asisten pengemudi, untuk sementara tidak bekerja.

Rezky mengatakan sistem pengupahan relawan dihitung berdasarkan hari kerja sehingga selama dapur berhenti beroperasi mereka tidak menerima upah.

"Kalau mereka ingin mencari pekerjaan lain sementara waktu, kami persilakan. Mereka memang tidak terikat kontrak," katanya.

31 Orang Dilaporkan Mengalami Keluhan

Data sementara SPPG Bontang Utara 2 mencatat 31 orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Laporan berasal dari empat satuan pendidikan.

Rinciannya, 18 orang dari SDN 012 Bontang Selatan yang terdiri atas 11 siswa dan tujuh guru, lima siswa PAUD Al-Hikmah, seorang siswa SD Muhammadiyah, serta tujuh orang dari SMP Negeri 1 Bontang yang terdiri dari enam siswa dan seorang guru.

Sementara itu, hingga Jumat (7/8), tidak ada laporan kasus dari SMP Bintang. Sedangkan laporan dari SD Bintang masih menunggu konfirmasi.

"Untuk SMP Bintang nihil menurut PIC-nya. Sementara SD Bintang sampai sekarang belum ada konfirmasi apakah ada laporan atau tidak," tutur Rezky.

Hasil Laboratorium Masih Ditunggu

Pemerintah Kota Bontang bersama Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima MBG.

Proses tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Bontang, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), serta tim surveilans. Sampel makanan saat ini masih menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi biologis maupun kimia.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memastikan penanganan dilakukan segera setelah laporan diterima.

"Setelah laporan diterima, mereka langsung turun melakukan penanganan," katanya.

Hingga hasil laboratorium keluar, pemerintah belum menyimpulkan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut. Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar penentuan tindak lanjut, termasuk keputusan mengenai kembali atau tidaknya operasional SPPG Bontang Utara 2.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
MBG Bontang SPPG Bontang Utara 2 dugaan keracunan MBG badan gizi nasional Dinkes Bontang