KALTIMPOST.ID-Perlambatan ekonomi mulai terasa di sektor properti Kaltim. Tidak hanya ditandai semakin banyaknya rumah bekas yang ditawarkan untuk dijual, pengembang perumahan juga mengaku mengalami penurunan penjualan cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Direktur Utama PT Melati Anugerah Jaya Jimi Karter Hariandja mengungkapkan sejak Mei hingga Juli tahun ini penjualan rumah mengalami penurunan drastis.
Dibandingkan kondisi normal, penjualan yang biasanya mampu mencapai target penuh kini hanya tersisa sekitar 20 persen.
“Kalau dihitung, penjualan turun sampai sekitar 80 persen. Bahkan pada Juni kami sempat tidak menjual satu unit rumah pun,” ujarnya kepada Kaltim Post, Sabtu (1/8).
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dampak kebijakan pemerintah di sektor pertambangan, hingga perlambatan perputaran uang di masyarakat.
Ia menilai kebijakan pemerintah sebenarnya bertujuan memperbaiki tata kelola, termasuk di sektor pertambangan. Namun pada masa transisi, dunia usaha ikut merasakan dampaknya.
“Kebijakan ini arahnya memang untuk perbaikan. Tetapi dalam proses menuju ke sana pasti ada dampaknya. Pengusaha harus pintar mengatur strategi agar tetap bertahan,” katanya.
Perlambatan tersebut, lanjut Jimi, bahkan sempat membuat sejumlah pemasok material bangunan menahan distribusi barang sambil menunggu kepastian kebijakan pemerintah dan perkembangan harga.
Menghadapi situasi tersebut, perusahaan mengambil langkah bertahan dengan memangkas harga jual rumah hingga sekitar 20 persen serta memberikan fleksibilitas uang muka kepada konsumen.
“Daripada tidak ada penjualan sama sekali, kami memilih mengurangi margin keuntungan. Yang penting operasional tetap berjalan dan karyawan tetap bisa digaji,” ujarnya.
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Memasuki Juli, penjualan perlahan kembali bergerak meski belum kembali normal.
Baca Juga: Pria Diduga Setubuhi Anak Berusia 14 Tahun di Kutim Ditangkap, Sempat Kabur Sebelum Diamankan Polisi
Selain banting harga, perusahaan juga memperlambat pembangunan unit baru agar sejalan dengan kondisi pasar.
“Kalau biasanya bisa membangun belasan sampai puluhan unit setiap bulan, sekarang kami sesuaikan dengan kemampuan pasar. Jangan sampai stok terlalu banyak sementara penjualan melambat,” jelasnya.
Jimi juga melihat perubahan perilaku konsumen dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika dahulu pembeli justru berlomba memberikan uang muka besar agar cicilan lebih ringan, kini mayoritas meminta uang muka sekecil mungkin.
“Kalau dulu pembeli bisa memberikan DP sampai 30 persen atau lebih. Sekarang justru minta DP sekecil-kecilnya. Ini menunjukkan kondisi perputaran uang masyarakat memang berbeda dibanding dulu,” katanya.
Selain itu, proses memperoleh kredit perumahan juga dinilai semakin ketat. Banyak calon pembeli gagal memperoleh persetujuan bank karena catatan kredit di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), termasuk akibat tunggakan pinjaman daring.
Meski demikian, Jimi menilai penjualan rumah bekas yang mulai marak belum sepenuhnya dapat disebut sebagai fenomena besar.
Menurutnya memang ada sebagian pemilik rumah yang menawarkan kembali asetnya karena kesulitan keuangan, tetapi jumlahnya belum dominan.
“Memang ada yang menjual rumah karena sudah tidak sanggup lagi membayar. Ada, tetapi belum terlalu banyak,” ujarnya.
Ia berharap kondisi pasar mulai membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring meningkatnya kepastian kebijakan ekonomi dan membaiknya perputaran uang di masyarakat.
Sementara itu, mengutip laporan resmi dari laman Bank Indonesia pada 19 Juni lalu, perkembangan ekonomi makro daerah di Kaltim menunjukkan perlambatan ekonomi yang mulai terasa sejak awal tahun.
Dalam Laporan Perekonomian Kaltim pada Mei 2026 tersebut, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan I 2026 hanya mencapai 2,99 persen (year on year), melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang masih tumbuh 5,04 persen.
Perlambatan tersebut terutama dipicu menurunnya produksi batu bara akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), sehingga kinerja sektor pertambangan sebagai tulang punggung ekonomi Kaltim ikut tertahan.
Meski demikian, aktivitas domestik masih menjadi penopang utama perekonomian. Konsumsi rumah tangga meningkat selama Ramadan dan Idulfitri, diikuti menguatnya sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, serta berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan berbagai proyek strategis.
Di sektor keuangan, BI mencatat fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan baik. Penyaluran kredit masih tumbuh positif, didukung meningkatnya kebutuhan modal kerja di sektor pertambangan.
Yang menarik, kualitas kredit masih relatif sehat. Rasio non performing loan (NPL) tercatat tetap berada di bawah ambang batas lima persen yang ditetapkan regulator. Artinya, secara umum risiko kredit bermasalah di perbankan Kaltim masih terkendali.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mulai membaik sehingga likuiditas perbankan tetap terjaga untuk mendukung penyaluran kredit, termasuk pembiayaan sektor perumahan.
Meski demikian, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kaltim sepanjang 2026 masih akan mengalami moderasi di kisaran 2,00-3,75 persen.
Perlambatan dipengaruhi masih tertahannya produksi batu bara, pelemahan ekspor, serta penyesuaian aktivitas sektor pertambangan.
Di sisi lain, pembangunan IKN, investasi swasta, serta proyek-proyek konstruksi diperkirakan tetap menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi daerah. (rd)
Editor : Romdani.