LAPORAN KHUSUS: PAD Kaltim 2026 Tertekan Efisiensi Pertambangan, Bapenda Siapkan Strategi

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 06:08 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID-Target pendapatan asli daerah (PAD) Kaltim 2026 tetap dibidik tercapai. Namun, jalan menuju target tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Perlambatan aktivitas pertambangan dan kebijakan efisiensi menjadi tantangan karena berpotensi menekan sejumlah sumber penerimaan yang selama ini menopang kas daerah.

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kaltim menyebut aktivitas pertambangan yang melambat mulai memberikan efek terhadap penerimaan pajak.

Pengurangan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) hingga efisiensi kegiatan pertambangan membuat penggunaan bahan bakar ikut berkurang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena struktur PAD Kaltim masih sangat bergantung pada penerimaan pajak.

Plt Kepala Bapenda Kaltim Ujang Rachmad mengatakan pihaknya tetap optimistis target PAD tahun ini dapat tercapai.

Baca Juga: Sekkab Kubar Erik Victory Gelar Syukuran Tempati Rumah Jabatan, Mohon Dukungan Jalankan Amanah

Sejumlah strategi disiapkan, mulai optimalisasi penerimaan, digitalisasi, peningkatan penagihan hingga mencari sumber penerimaan baru.

“Ya, kita tetap optimistis tercapai. Makanya usaha-usahanya kita giat dalam berbagai upaya kita lakukan, mulai dari optimasi, digitalisasi, peningkatan penagihan, kemudian mencari peluang-peluang retribusi yang lain,” kata Ujang, Sabtu (8/8).

Namun, optimisme tersebut berhadapan dengan kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya mendukung. Selain pengaruh ekonomi global dan konflik geopolitik, perlambatan aktivitas industri pertambangan menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi.

Ujang menjelaskan, salah satu penerimaan yang cukup dominan bagi Kaltim berasal dari pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB). Selain itu, terdapat pajak kendaraan bermotor (PKB) serta bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB).

Ketiganya memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat maupun dunia usaha.

“Industri di Kaltim itu mayoritas industri tambang. Nah, industri tambang berkurang. Banyak sekali pengurangan RKAB, efisiensi segala macam. Otomatis penggunaan bahan bakarnya juga menurun,” jelasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Pertambangan ilegal minyak dan gas Kutai Barat pendapatan asli daerah (PAD) batu bara