KALTIMPOST.ID-Pemprov Kaltim dinilai perlu memperluas sumber pendapatan asli daerah (PAD) agar tidak terus bergantung pada sektor pertambangan.
Berbagai sektor nonekstraktif seperti hilirisasi industri, pariwisata, perkebunan, pertanian, ekonomi digital, UMKM, hingga jasa dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Pakar ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda Ahmad Syarif mengatakan, ketergantungan terhadap sektor pertambangan membuat penerimaan daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global maupun perlambatan aktivitas industri. Karena itu, diversifikasi sumber PAD menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat.
Baca Juga: Sekkab Kubar Erik Victory Gelar Syukuran Tempati Rumah Jabatan, Mohon Dukungan Jalankan Amanah
Menurutnya, salah satu peluang terbesar berada pada pengembangan hilirisasi sumber daya alam. Selama ini, komoditas unggulan seperti batu bara masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Padahal, pengolahan di dalam daerah mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Bukan hanya menjual batu bara atau hasil tambang dalam bentuk mentah, tetapi mengembangkan industri pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi,” kata Ahmad, Sabtu (8/8).
Selain hilirisasi, sektor pariwisata juga dinilai masih menyimpan ruang pengembangan yang luas. Potensi wisata alam, budaya, hingga ekowisata bisa dikembangkan secara lebih terintegrasi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ahmad mencontohkan kawasan Teras Samarinda di sekitar Kantor Gubernur Kaltim yang memiliki peluang dikembangkan sebagai destinasi wisata terpadu.
Kawasan tersebut dapat dipadukan dengan konsep wisata perairan, wisata halal, serta berbagai atraksi pendukung lainnya. “Potensi seperti itu sebenarnya ada, hanya saja masih belum digali secara maksimal,” ujarnya.
Ia melihat sektor perkebunan dan pertanian modern memiliki prospek yang menjanjikan. Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, serta perikanan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila didukung industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai jual produk.
Seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Ahmad menilai pengembangan ekonomi digital, UMKM, dan sektor jasa juga harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Hari Suci Asadha 2570 BE di Balikpapan, Umat Buddha Diajak Dalami Dhamma dan Perkuat Toleransi
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat ekstensifikasi dan intensifikasi pajak daerah sekaligus menciptakan iklim investasi yang mendukung tumbuhnya sektor-sektor ekonomi baru.
“Struktur PAD harus dibangun agar tidak terlalu bergantung pada sektor ekstraktif,” tegasnya.
Di sisi lain, Ahmad mengingatkan kebijakan efisiensi yang dilakukan perusahaan pertambangan berpotensi memengaruhi penerimaan daerah apabila diikuti penurunan volume produksi, aktivitas usaha, maupun keuntungan perusahaan.
Dampaknya dapat dirasakan pada penerimaan pajak tertentu, retribusi, hingga dana bagi hasil (DBH) yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan.
Meski demikian, ia menilai dampaknya tidak akan terlalu besar apabila efisiensi dilakukan melalui peningkatan produktivitas tanpa mengurangi output produksi secara signifikan.
Yang perlu diwaspadai, lanjutnya, adalah apabila efisiensi dipicu melemahnya permintaan global atau turunnya harga batu bara sehingga menekan aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Karena itu, Ahmad menilai momentum pembangunan IKN harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi ekonomi Kaltim.
Diversifikasi sektor ekonomi diyakini mampu memperkuat ketahanan fiskal daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penerimaan dari sektor pertambangan yang sangat dipengaruhi dinamika pasar komoditas dunia. (rd)
Editor : Romdani.