KALTIMPOST.ID-Ketergantungan terhadap sektor sumber daya alam membuat daerah di Kaltim menghadapi tantangan ketika penerimaan dari dana bagi hasil (DBH) menyusut.
Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan sekaligus pendapatan asli daerah (PAD).
Ketua Badan Promosi Pariwisata Balikpapan Joko Purwanto mengatakan, daerah penghasil migas dan batu bara seharusnya sejak awal menyiapkan sumber pendapatan alternatif. Menurutnya, pariwisata memiliki efek berganda yang luas terhadap perekonomian.
“Pada saat mereka berjaya di dalam migas dan batu bara, mereka tidak berpikir bagaimana ke depannya membangun kotanya menjadi salah satu penghasil PAD terbesar. Padahal PAD yang paling besar bisa digali adalah membangkitkan pariwisata,” kata Joko.
Baca Juga: Sekkab Kubar Erik Victory Gelar Syukuran Tempati Rumah Jabatan, Mohon Dukungan Jalankan Amanah
Menurut dia, sejumlah daerah seperti Batu, Malang, Jogjakarta, dan Bali telah lebih dahulu membangun infrastruktur serta destinasi wisata sehingga memiliki sumber penerimaan alternatif ketika kondisi sektor lain melemah.
Sementara di Kaltim, pengembangan pariwisata dinilai masih belum menjadi prioritas. Padahal, penerimaan dari sektor tersebut dapat kembali diperkuat melalui investasi pada destinasi dan promosi.
Joko bahkan mengusulkan sebagian penerimaan yang diperoleh dari aktivitas pariwisata dikembalikan untuk mengembangkan sektor tersebut.
“Harusnya dikembalikan minimal 10 persen kembali ke promosi atau ke destinasi pengembangan. Supaya di saat-saat krisis, pembagian hasil yang dikurangi tadi tidak ada, kita genjotlah pariwisatanya,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak hanya berdampak terhadap pajak daerah. Pertumbuhan kunjungan wisatawan juga menggerakkan hotel, restoran, transportasi, UMKM, kuliner hingga industri kerajinan.
FOKUS SATU DESTINASI
Keterbatasan anggaran, kata Joko, tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda pengembangan pariwisata. Pemerintah daerah justru perlu mengubah pola pembangunan dengan memusatkan anggaran pada destinasi tertentu hingga benar-benar siap dipasarkan.
Baca Juga: Kideco Menggelar KIC 2026 untuk Dorong Inovasi AI dan IoT untuk Industri Pertambangan Berkelanjutan
“Kalau mengembangkan destinasi wisata, fokus anggaran. Misalnya Balikpapan, tahun ini harus selesaikan destinasi ini. Jangan banyak-banyak, satu dulu selesai. Tahun berikutnya anggaran ke tempat yang lain,” katanya.
Dengan pola tersebut, dalam lima tahun daerah setidaknya dapat memiliki lima destinasi yang benar-benar siap menjadi tujuan wisata unggulan.
Joko mencontohkan Pulau Balabalagan di Kabupaten Mamuju sebagai salah satu destinasi yang dinilai berpotensi dikembangkan untuk memperkuat daya tarik wisata Balikpapan. Pengembangan destinasi tersebut, menurutnya, juga perlu didukung akses transportasi dan keterlibatan investor.
Ia menilai destinasi yang kuat juga dapat menjadi alasan bagi maskapai untuk membuka rute penerbangan baru, termasuk penerbangan internasional. “Kalau daerah itu destinasinya menarik, pasti maskapai akan mengincar juga,” ujarnya.
Selama ini, menurut Joko, mayoritas pendatang ke Kaltim masih berasal dari kalangan pekerja dan pelaku bisnis. Pengembangan destinasi wisata diharapkan dapat mengubah komposisi tersebut dengan meningkatkan jumlah wisatawan. (rd)
Editor : Romdani.