Labkesda Bontang Uji Sampel Kasus Dugaan Keracunan MBG, Salmonella hingga E. coli Diburu

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:22 WIB
Ilustrasi data
Ilustrasi data

BONTANG – Dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang memasuki tahap pemeriksaan laboratorium. Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Bontang tengah menguji sampel makanan yang diduga berkaitan dengan keluhan sejumlah penerima manfaat.

Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya bakteri penyebab pencemaran makanan, di antaranya Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), hingga Staphylococcus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, sampel diterima Labkesda dari tim Dinkes pada Kamis (6/8).

Sampel tersebut terdiri atas nasi, sayur, sambal, serundeng, dan ayam. Seluruh sampel diterima dalam kondisi beku.

Sehari kemudian, Jumat (7/8), sampel mulai ditempatkan di inkubator untuk menjalani proses inkubasi dan pembiakan mikrobiologi.

“Untuk mengevaluasi biakan diperlukan waktu minimal dua kali 24 jam. Hasil pemeriksaan akan dibaca Senin, 10 Agustus,” kata Toetoek.

Baca Juga: Penyebab Puluhan Siswa Sakit Usai Santap MBG di Bontang Masih Diselidiki, Hasil Lab Pekan Depan

Tak Sekadar Tunggu Hasil Laboratorium

Toetoek menjelaskan, pembacaan hasil pada Senin tidak serta-merta menandakan seluruh proses pemeriksaan selesai.

Pemeriksaan yang dilakukan merupakan kultur mikrobiologi sehingga membutuhkan sejumlah tahapan untuk memastikan bakteri yang ditemukan dapat diidentifikasi secara tepat.

Tahapan tersebut meliputi pengkayaan, penumbuhan, identifikasi hingga konfirmasi. Dalam kondisi tertentu, proses pemeriksaan dapat membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat hari, tergantung jenis bakteri dan metode pemeriksaan yang digunakan.

Karena itu, Dinkes Bontang tidak hanya mengandalkan hasil laboratorium untuk menentukan penyebab dugaan keracunan.

Temuan dari sampel makanan nantinya akan dikaitkan dengan hasil penyelidikan epidemiologi, termasuk pola gejala korban, waktu munculnya keluhan, jenis makanan yang dikonsumsi hingga hasil pemeriksaan spesimen penderita apabila tersedia.

“Kalau hasil laboratorium sudah keluar dan dapat mengidentifikasi penyebab atau agen pencemar, pekerjaan Dinas Kesehatan belum selesai. Justru hasil laboratorium tersebut menjadi dasar untuk menentukan tindakan pengendalian,” ucapnya.

Dinkes Periksa Dapur MBG

Investigasi juga akan menyasar dapur penyedia makanan MBG. Dinkes akan melakukan pemeriksaan terhadap Tempat Pengelolaan Pangan (TPP), khususnya aspek higiene dan sanitasi.

Pemeriksaan dapat mencakup kualitas air, bahan baku, penyimpanan makanan, proses pengolahan, suhu makanan, distribusi, kebersihan peralatan hingga higiene penjamah makanan.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kemungkinan titik munculnya kontaminasi serta mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Di sisi lain, Dinkes juga akan terus memantau kondisi penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan. Jumlah kasus, gejala, waktu munculnya gejala, pelayanan kesehatan hingga kondisi akhir korban akan didokumentasikan sebagai bagian dari investigasi.

Jika hasil laboratorium menemukan agen pencemar dan hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan keterkaitan, Dinkes dapat menyusun kesimpulan mengenai dugaan sumber kontaminasi.

Hasil Dilaporkan ke Dinkes Kaltim

Hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi selanjutnya akan menjadi bahan pelaporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur sebagai bagian dari tindak lanjut laporan kejadian luar biasa (KLB) atau dugaan keracunan pangan.

Koordinasi juga dilakukan dengan puskesmas, sekolah, BPOM dan instansi terkait sesuai kebutuhan.

Seluruh proses tersebut diarahkan untuk memastikan faktor risiko dapat segera dikendalikan sekaligus memastikan keamanan makanan dalam program MBG bagi penerima manfaat di Bontang.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
keracunan mbg bontang Makan Bergizi Gratis Bontang E. coli labkesda bontang salmonella