KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam perang modern terus berkembang. Namun, teknologi secanggih apa pun disebut tetap memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan faktor manusia dan kondisi politik suatu negara.
Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Hossein Mohebi saat menghadiri kegiatan penghormatan bagi para jurnalis di Provinsi Qazvin, Iran, Senin (10/8).
Menurut Mohebi, Amerika Serikat mengerahkan berbagai teknologi militer mutakhir ketika berhadapan dengan Iran. Teknologi itu disebut terintegrasi dalam sistem pengumpulan data, penentuan sasaran hingga evaluasi hasil serangan.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Meluas! 742 Hektare Lahan Terbakar, Api Mendekati Permukiman Warga
AI menjadi salah satu komponen penting dalam sistem tersebut. Teknologi ini dapat mengolah informasi dari berbagai sumber, mulai dari satelit, pesawat tanpa awak atau drone, radar, sensor hingga laporan intelijen di lapangan.
Data yang terkumpul kemudian dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi sasaran, memperkirakan kerusakan serta memantau pergerakan personel dan sumber daya.
Namun, menurut Mohebi, kemampuan teknologi tersebut tidak otomatis menjamin kemenangan di medan perang.
1. AI Tak Bisa Membaca Faktor Ideologi
Mohebi menilai salah satu keterbatasan AI adalah kemampuannya dalam memahami faktor nonteknis.
Sistem berbasis AI bekerja dengan mengolah data yang tersedia. Namun, menurut dia, sistem tersebut tidak mampu sepenuhnya mengukur kekuatan institusional, ideologi, persatuan serta ketahanan nasional Iran.
Dengan kata lain, perhitungan berbasis data tidak selalu mampu menggambarkan kondisi sebenarnya di tengah masyarakat maupun struktur pemerintahan suatu negara.
Faktor tersebut dinilai menjadi salah satu alasan teknologi militer canggih yang digunakan Amerika Serikat tidak mampu mencapai tujuan yang diharapkan terhadap Iran.
2. Iran Mengandalkan Rudal dan Drone
Selain menyoroti kelemahan AI, Mohebi juga mengklaim Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi teknologi militer lawan.
Salah satunya melalui penggunaan rudal dan drone. Menurut dia, kedua jenis persenjataan tersebut digunakan untuk mengganggu bagian tertentu dari jaringan kekuatan militer musuh.
Penggunaan teknologi oleh Iran menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sistem AI paling canggih.
Kemampuan mendeteksi, mengganggu, dan merespons sistem lawan juga menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas operasi militer.
3. Teknologi Tidak Selalu Menentukan Hasil Perang
Iran menilai pengalaman konflik tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tinggi bukan satu-satunya penentu kemenangan.
Sistem AI dapat bekerja sangat cepat dalam memproses informasi dan membantu menentukan sasaran. Namun, keputusan perang tetap berhadapan dengan kondisi politik, psikologis, sosial, dan ideologis yang sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam data.
Mohebi menggambarkan penggunaan teknologi militer dalam konflik tersebut sebagai salah satu pengalaman yang menunjukkan besarnya peran teknologi dalam perang modern.
Baca Juga: Dokter Tifa Klaim Dianiaya hingga Alami Dugaan Upaya Pembunuhan, Janji Bongkar Pekan Ini
Meski demikian, Iran menilai ketahanan institusi, persatuan nasional, serta kemampuan menghadapi serangan tetap menjadi faktor penting.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klaim Iran mengenai alasan mengapa penggunaan teknologi militer canggih Amerika Serikat dan sekutunya disebut belum mampu menundukkan Teheran.
Catatan redaksional: klaim mengenai “gagal mengalahkan Iran” dan efektivitas rudal/drone di atas merupakan pernyataan dari pihak Iran, sehingga sebaiknya tetap diberi atribusi dalam naskah dan tidak ditulis sebagai fakta militer yang telah diverifikasi secara independen.
Editor : Uways Alqadrie