KALTIMPOST.ID, TEHERAN – Persediaan rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat disebut terus tergerus di tengah meningkatnya intensitas serangan Iran. Kondisi tersebut membuat sistem pertahanan udara AS menghadapi tekanan lebih besar di kawasan Asia Barat.
Laporan The New York Times yang dikutip sejumlah media menyebut Iran mulai mengubah pola serangan rudal dan drone untuk mencari celah pertahanan Amerika Serikat.
Taktik yang digunakan tidak hanya mengandalkan serangan dalam jumlah besar. Iran disebut mengombinasikan berbagai jenis rudal dengan drone serta menggunakan pola penerbangan yang lebih sulit diprediksi.
Baca Juga: MK Putuskan Hanya Presiden dan Wapres Bisa Laporkan Penghinaan, Relawan Tak Bisa Lagi Adukan
Strategi tersebut bertujuan membuat sistem pertahanan udara AS bekerja lebih keras sekaligus meningkatkan kemungkinan sebagian proyektil berhasil menembus lapisan pertahanan.
Salah satu serangan yang menjadi perhatian terjadi pada 17 Juli di sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Sebuah rudal Iran dilaporkan berhasil melewati pertahanan udara dan menghantam fasilitas hunian sementara.
Insiden tersebut menyebabkan tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lebih dari 100 orang lainnya mengalami luka-luka. Pentagon juga mengakui adanya korban tambahan serta kerusakan terhadap sejumlah pesawat akibat serangan di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan sebagian besar rudal yang diluncurkan berhasil dicegat. Namun, satu rudal yang lolos disebut menimbulkan dampak fatal.
Di sisi lain, penggunaan rudal pencegat Patriot dalam jumlah besar memunculkan persoalan baru bagi Washington, yakni ketersediaan amunisi pertahanan udara.
Berdasarkan informasi yang dikutip The New York Times dari sumber yang mengetahui kondisi persediaan militer AS, Pentagon telah menembakkan lebih dari 1.500 rudal pencegat Patriot selama konflik berlangsung.
Jumlah stok yang tersisa disebut kurang dari 1.700 unit. Sementara itu, produksi Amerika Serikat sepanjang 2025 berada di kisaran 600 rudal pencegat Patriot.
Besarnya kebutuhan tersebut terlihat dari penggunaan amunisi dalam satu hari. Pasukan AS dilaporkan pernah menembakkan sekitar 50 rudal Patriot dalam sehari ketika menghadapi serangan intensif di Yordania.
Baca Juga: PPATK Ungkap 1.900 Pegawai Kemensos Terindikasi Main Judi Online, Ada 42 ASN
Satu rudal pencegat Patriot sendiri diperkirakan bernilai sekitar 4 juta dolar AS. Artinya, penggunaan puluhan rudal dalam satu hari dapat menimbulkan biaya yang sangat besar.
Iran Belajar dari Perang Ukraina
Perubahan strategi Iran disebut memiliki kemiripan dengan pola serangan yang digunakan Rusia dalam perang di Ukraina.
Dalam konflik tersebut, Rusia diketahui mengombinasikan rudal balistik, rudal jelajah dan drone untuk menguji sekaligus menguras kemampuan pertahanan udara lawan.
Pola serupa dinilai memberikan tantangan bagi sistem pertahanan AS. Rudal dan drone yang datang secara bergelombang dapat memaksa operator pertahanan udara menentukan prioritas sasaran sekaligus menghabiskan amunisi pencegat.
Baca Juga: Tergiur Mobil Bekas Murah? 9 Tanda Ini Wajib Dicek Sebelum Membeli
Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan Iran tidak hanya ditentukan oleh jumlah rudal dan drone yang dimiliki. Penyesuaian taktik dan pemanfaatan kelemahan sistem pertahanan lawan juga menjadi faktor penting dalam konflik.
Editor : Uways Alqadrie