KALTIMPOST.ID- Kebakaran hutan, lahan, dan kebun (karhutla) di Kalimantan Timur melonjak tajam memasuki Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 118 dari total 242 kejadian karhutla sepanjang Januari–Agustus terjadi hanya dalam sebulan terakhir, hampir separuh dari akumulasi delapan bulan.
Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, lonjakan pada Agustus patut menjadi perhatian karena kebakaran terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kaltim. “Untuk sementara ini, sampai dengan kemarin, di Agustus dari total 242 kebakaran, sekitar 118 kejadian terjadi di bulan Agustus,” ujar Buyung kepada Kaltim Post, Kamis (13/8).
Secara akumulatif Januari–Agustus, Kutai Barat menjadi daerah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 40 kasus, disusul Paser dan Samarinda yang masing-masing mencatat 39 kejadian. Namun, khusus periode Agustus, posisi itu berbalik. Paser justru mencatat kejadian terbanyak dengan 31 kasus, diikuti Kutai Barat 20 kasus, Berau 17 kasus, dan Samarinda 13 kasus. “Untuk bulan Agustus, Paser menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 31 kasus. Disusul Kutai Barat 20 kasus, Berau 17 kasus, dan Samarinda 13 kasus,” katanya.
Kutai Barat Paling Luas Terbakar
Dari sisi luasan, Kutai Barat mencatat dampak paling besar dengan area terbakar mencapai sekitar 226 hektare, terdiri atas 193 hektare lahan, 30 hektare hutan, dan 3 hektare kawasan perkebunan. “Untuk luasnya, yang paling besar ada di Kutai Barat. Itu terdiri dari kebakaran lahan, hutan, dan kebun,” ucap Buyung.
Ia menegaskan, angka tersebut masih bersifat sementara. BPBD Kaltim tengah menyinkronkan data dengan instansi terkait, khususnya sektor perkebunan dan kehutanan, agar jumlah kejadian dan luasan kawasan terbakar sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Di sisi lain, penanganan karhutla di Kaltim masih terbentur persoalan klasik: akses menuju lokasi kebakaran. Buyung menyebut sejumlah titik api berada jauh dari permukiman sehingga sulit dijangkau kendaraan pemadam, kondisi yang paling terasa di wilayah dengan bentang geografis luas seperti Berau dan Kutai Barat.
“Sejumlah titik kebakaran berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau kendaraan pemadam, terutama di wilayah dengan bentang geografis luas seperti Berau dan Kutai Barat,” ujarnya.
Setiap kabupaten/kota di Kaltim, kata Buyung, sebenarnya sudah memiliki BPBD dan peralatan pemadam sendiri. Penanganan di lapangan juga melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga petugas pemadam kebakaran di tingkat kecamatan. Meski begitu, luasnya wilayah Kaltim membuat proses pemantauan dan penanganan tidak selalu bisa dilakukan secara cepat.
“Memang sampai saat ini kendalanya adalah luas wilayah. Kita hanya bisa memantau dan menerima laporan dari BPBD kabupaten/kota, kemudian melihat apakah bisa ditangani atau tidak,” tuturnya.
Petugas Diminta Waspadai Perubahan Arah Api
Dalam proses pemadaman, Buyung meminta petugas di lapangan mengutamakan keselamatan. Sebab, perubahan arah angin dapat membuat arah api dan asap berubah secara tiba-tiba dan membahayakan petugas yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Untuk memantau sebaran asap dan titik panas, BPBD Kaltim juga terus mengandalkan data satelit. Buyung memastikan, hingga kini dampak asap akibat karhutla di Kaltim masih bersifat lokal dan belum meluas seperti yang terjadi di Kalimantan Barat. "Untuk sejauh ini, ya, dampak asapnya masih bersifat lokal dan belum ke arah yang terjadi di Kalbar," terangnya.
Mayoritas Diduga Akibat Kelalaian
Di tengah tren kenaikan kasus, BPBD Kaltim menduga sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas dan kelalaian manusia. Karena itu, Buyung meminta masyarakat tidak menganggap remeh keberadaan api, terlebih di tengah kondisi angin yang cukup kencang belakangan ini.
"Kita imbau juga kepada masyarakat untuk berhati-hati, dan segera bertindak bila melihat ada titik api," urainya. Ia juga meminta warga segera melaporkan kejadian kebakaran melalui layanan darurat 112. Menurutnya, laporan sedini mungkin menjadi kunci agar api dapat segera ditangani sebelum meluas ke kawasan lain. "Ini penting untuk mencegah kebakaran meluas, terlebih kondisi angin saat ini cukup kencang," kuncinya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki