KALTIMPOST.ID, SAN FRANCISCO–Platform media sosial raksasa, Instagram, resmi memperkenalkan penyegaran identitas visual berupa logo tulisan (wordmark) terbaru. Ini merupakan pembaruan logo pertama yang dilakukan anak perusahaan Meta tersebut setelah 10 tahun bertahan dengan desain terdahulu.
Head of Instagram, Adam Mosseri, menyatakan bahwa logo baru ini dirancang untuk memberikan kesan yang lebih modern tanpa menghilangkan akar sejarah perusahaan.
"Desain ini terlihat lebih ramping dan modern, namun tetap merujuk pada versi asli serta mempertahankan kesederhanaan dan keterampilan yang sejak awal menjadi ciri khas Instagram," kata Mosseri dalam keterangan resminya.
Meski dimaksudkan sebagai penyegaran visual yang rutin dalam industri teknologi, peluncuran identitas baru ini justru memicu sorotan tajam dan kritik dari publik serta pakar desain.
Salah satu kritik utama datang dari keterbacaan teks (legibility). Sejumlah pengguna menyebut bentuk huruf 'r' pada logo baru tersebut terlihat sangat canggung dan lebih menyerupai huruf 'z', sehingga kata "Instagram" sekilas terbaca sebagai "Instagzam".
Creative Director Ars Technica, Aurich Lawson, menilai proporsi dan gaya tipografi pada logo baru ini secara tidak sengaja meniru pola kesalahan umum yang kerap dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
"Bentuk hurufnya tampak terpotong, spasi tidak seimbang, dan struktur teksnya terlihat acak. Lengkungan pada huruf 's' yang niatnya mengadopsi gaya tulisan sambung lama justru terlihat seperti salah mengambil jenis font," jelas Lawson.
Ia menyoroti secara khusus perubahan pada huruf 'r' yang dinilai gagal menjalankan fungsi utamanya sebagai identitas merek yang mudah dibaca.
"Bentuknya sangat aneh, seolah dirancang oleh sistem yang tidak memahami bentuk asli huruf 'r'. Sebagai teks fungsional, logo ini bisa dikatakan gagal. Namun sebagai simbol visual dari era AI yang penuh canggung, logo ini secara tidak sengaja menjadi fenomena tersendiri," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik publik mengenai keterbacaan logo baru tersebut. (*)
Editor : Thomas Priyandoko