KALTIMPOST.ID-Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dinilai membutuhkan evaluasi menyeluruh ketika muncul kasus gangguan kesehatan.
Pemeriksaan tidak cukup hanya menyasar kualitas bahan makanan, tetapi perlu mencakup proses pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga kondisi penerima makanan.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Sri Sunarti mengatakan, setiap gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan perlu ditindaklanjuti melalui pelaporan dan penyelidikan epidemiologi.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab kejadian secara lebih akurat, termasuk melalui pengambilan sampel dan pemeriksaan terhadap makanan maupun faktor lain yang berpotensi memengaruhi.
Baca Juga: Nusantara Bernyanyi Momen HUT Ke-81 RI, Puluhan Anak Bawakan Lagu Daerah di Pentacity Balikpapan
“Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, pengemasan, sampai distribusi makanan ke sekolah,” kata Sri, Minggu (16/8).
Menurut dia, pengelolaan bahan baku menjadi salah satu titik yang perlu diawasi. Bahan makanan yang terlalu lama berada di luar tempat penyimpanan beku sebelum diolah berpotensi mengalami penurunan kualitas.
Kapasitas produksi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) juga harus menjadi perhatian.
Satu SPPG dapat memproduksi sedikitnya 750 porsi atau lebih sehingga penerapan standar keamanan pangan dan pengawasan perlu dilakukan secara optimal.
Sri juga mendorong peningkatan sertifikasi SPPG. Pemenuhan sertifikasi dinilai penting untuk memastikan standar administrasi dan operasional diterapkan pada setiap unit penyedia makanan.
“Kalau sertifikat ini bisa sampai 100 persen itu lebih bagus lagi. Berarti semua yang ada di SPPG maksimal setara administrasi,” ujarnya.
Aspek waktu antara proses memasak dan makanan dikonsumsi juga menjadi perhatian. Berdasarkan pengamatannya ketika berkunjung ke sekolah, Sri menemukan makanan MBG tiba sekitar pukul 11.00 Wita.
Baca Juga: Kecelakaan di Jalan Barong Tongkok-Linggang Bigung Kubar, Motor Ringsek dan Pengendara Luka Parah
Menurutnya, semakin panjang rentang waktu antara makanan selesai dimasak, dikirim, dan dikonsumsi, semakin besar pula faktor risiko yang perlu dikendalikan.
“Kalau masaknya dari subuh, makannya jam 14.00, berarti ada faktor risiko makanan ini sudah tidak fresh, tidak bagus lagi untuk dimakan,” katanya.
Selain waktu distribusi, wadah makanan dan bahan kemasan perlu diperhatikan. Sri menilai makanan yang telah menggunakan bahan baku berkualitas dan melalui proses pengolahan yang baik tetap berpotensi menghadapi persoalan apabila tahapan pengemasan maupun distribusi tidak memenuhi standar.
Kendaraan pengangkut menjadi bagian dari rantai tersebut, terutama untuk pengiriman dengan jarak relatif jauh.
Kondisi selama perjalanan perlu mampu mempertahankan kualitas makanan hingga diterima siswa.
“Apakah mobil pengantar MBG ini sudah terstandar bahwa makanan dipastikan sampai di tempat itu bagus?” ujarnya.
Sri menambahkan, kondisi kesehatan siswa juga tidak dapat dikesampingkan ketika melakukan penyelidikan. Terlebih, masa pancaroba dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Karena itu, menurut dia, penyebab gangguan kesehatan tidak semestinya langsung disimpulkan hanya dari satu faktor.
Penelusuran perlu dilakukan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan sekaligus kondisi penerimanya.
“Banyak hal yang perlu dipertimbangkan saat kita melihat dari mana penyebabnya,” pungkas Sri. (rd)
Editor : Romdani.