KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Nama Haji Isam kembali menjadi sorotan setelah pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad melalui Jhonlin Group dikabarkan tertarik mengambil alih 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan batu bara yang dikendalikan Low Tuck Kwong.
Ketertarikan tersebut menempatkan salah satu kerajaan bisnis batu bara terbesar di Indonesia dalam perhatian publik. Haji Isam sendiri dikenal membangun gurita bisnisnya dari sektor energi, khususnya pertambangan batu bara.
Jika rencana akuisisi tersebut terealisasi, peta kepemilikan perusahaan batu bara besar di Indonesia berpotensi mengalami perubahan. Terlebih, Bayan Resources memiliki aset tambang dan infrastruktur yang tersebar di Kalimantan Timur.
Baca Juga: LHKPN Terakhir Fadil Imran Rp7,32 Miliar, Kini Jadi Komisaris MIND ID dengan Honor hingga Rp131 Juta
Haji Isam bersama Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef, pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp, bahkan terlihat melakukan peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang Bayan Resources di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (15/8/2026).
Low Tuck Kwong dan Bayan Resources
Bayan Resources merupakan perusahaan yang identik dengan nama Low Tuck Kwong. Pengusaha kelahiran Singapura, 17 April 1948, tersebut menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan industri batu bara Indonesia.
Menurut data Stockbit yang dikutip Inilah.com, kapitalisasi pasar BYAN hingga Mei 2026 mencapai sekitar Rp333 triliun. Angka tersebut menempatkannya sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di antara 91 emiten energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Besarnya nilai perusahaan membuat Low Tuck Kwong konsisten masuk daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes.
Dalam Forbes Billionaires List yang terbit awal Agustus 2026, kekayaan Low Tuck Kwong diperkirakan mencapai USD16,8 miliar atau sekitar Rp302 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS.
Posisi tersebut membuatnya tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia dan berada di peringkat 168 orang terkaya dunia dalam daftar tersebut.
Kekayaan itu dibangun melalui perjalanan bisnis panjang. Low Tuck Kwong mulai memperkuat pijakannya di sektor batu bara setelah mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) di Muara Tae, Kalimantan Timur, pada November 1997.
Sebelum masuk lebih dalam ke pertambangan, Low Tuck Kwong telah mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) pada 1973. Perusahaan tersebut bergerak di bidang konstruksi tanah, pekerjaan umum dan struktur kelautan.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, JSI berkembang pesat. Perusahaan itu kemudian masuk ke bisnis batu bara pada 1988 dan menjadi salah satu kontraktor terkemuka di sektor tersebut pada 1998.
Baca Juga: Profil Letjen TNI Lucky Avianto, Jenderal Kopassus yang Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Bekas Markas
Setelah mengambil alih GBP, Low Tuck Kwong mengakuisisi PT Dermaga Perkasapratama pada 1998. Perusahaan tersebut mengoperasikan Balikpapan Coal Terminal dengan kapasitas sekitar 2,5 juta metrik ton per tahun.
Bayan Resources Berdiri pada 2004
Perjalanan bisnis tersebut kemudian berkembang menjadi Bayan Resources. Pada 2004, Low Tuck Kwong mendirikan PT Bayan Resources sebagai perusahaan yang menaungi berbagai bisnis batu baranya di Indonesia.
Ekspansi dilakukan melalui sejumlah akuisisi tambang dan pembangunan infrastruktur pendukung. Salah satu aset pentingnya adalah tambang Tabang di Kalimantan Timur.
Produksi batu bara Bayan dari tambang Tabang/Pakar meningkat tajam. Pada 2014 produksinya tercatat sekitar 1,9 juta ton, kemudian melonjak menjadi 22,7 juta ton pada 2018.
Pertumbuhan produksi membuat Bayan Resources masuk jajaran produsen batu bara terbesar di Indonesia. Keuntungan yang diperoleh kemudian kembali digunakan untuk memperluas bisnis melalui akuisisi tambang dan pengembangan infrastruktur.
Bayan Resources resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 Agustus 2008 dengan kode saham BYAN.
Saat penawaran umum perdana atau IPO, saham BYAN ditawarkan Rp5.800 per lembar. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan menghimpun dana sekitar Rp4,83 triliun.
Pada perdagangan Senin (17/8/2026), harga saham BYAN disebut telah berada di level Rp14.400 per saham. Angka itu naik sekitar 20 persen atau Rp2.400 per saham dibandingkan level sebelumnya.
Baca Juga: Putra Gowa Komjen Mohammad Fadil Imran Pensiun dari Polri, Kini Jadi Komisaris MIND ID
22 Persen Saham Diberikan kepada Putri
Struktur kepemilikan Bayan Resources juga mengalami perubahan setelah Low Tuck Kwong menghibahkan sebagian sahamnya kepada putrinya, Elaine Low.
Transaksi tersebut dilakukan pada 28 Agustus 2024. Sebanyak 7.333.333.700 saham atau sekitar 22 persen BYAN dialihkan kepada Elaine.
Nilai saham yang diberikan saat transaksi tersebut mencapai sekitar USD6,6 miliar.
Setelah pengalihan, jumlah saham yang dimiliki langsung Low Tuck Kwong berubah dari 20.716.816.570 lembar menjadi 13.383.482.870 saham.
Persentase kepemilikannya pun turun dari 62,15045 persen menjadi 40,15045 persen. Meski berkurang, Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham dengan porsi besar di Bayan Resources.
Elaine Low merupakan anak bungsu Low Tuck Kwong dan May Lee Fan. Ia dikenal jarang tampil di ruang publik meski memiliki peran dalam sejumlah bisnis keluarga.
Elaine merupakan lulusan Magister Kebijakan Publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, pada 2014.
Saat ini, ia dipercaya menangani sejumlah bisnis keluarga di bidang kesehatan dan gaya hidup. Elaine memimpin The Farrer Park Company yang mengelola Farrer Park Hospital dan One Farrer Hotel.
Farrer Park Hospital merupakan rumah sakit yang menawarkan layanan medis premium, teknologi tinggi dan pendekatan pengobatan terpadu. Sementara One Farrer Hotel merupakan hotel bintang lima yang berada dalam ekosistem bisnis kesehatan dan gaya hidup tersebut.
Baca Juga: Mengenal Putri Bangsawan Gowa Farah Puteri Nahlia, Anak Fadil Imran yang Kini Duduk di DPR
Elaine juga tercatat sebagai direktur Seax, perusahaan penyedia infrastruktur jaringan kabel bawah laut yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara.
Kinerja Keuangan Bayan Resources
Di tengah kabar ketertarikan Haji Isam terhadap saham BYAN, kinerja keuangan Bayan Resources pada semester I-2026 masih menunjukkan pertumbuhan.
Perseroan mencatat laba bersih USD416,56 juta atau sekitar Rp7,3 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS.
Laba tersebut meningkat 16,8 persen dibandingkan semester I-2025 yang berada di angka USD349,24 juta atau sekitar Rp6,1 triliun.
Pertumbuhan laba ditopang pendapatan penjualan batu bara yang mencapai USD1,74 miliar atau sekitar Rp30,45 triliun. Nilai tersebut naik 7,29 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar USD1,62 miliar atau sekitar Rp28,35 triliun.
Laba bruto perusahaan pada semester I-2026 mencapai USD615,58 juta atau sekitar Rp10,8 triliun. Angka tersebut meningkat 16,9 persen dibandingkan angka yang tercatat pada akhir Desember 2025 sebesar USD526,30 juta atau sekitar Rp9,2 triliun.
Dari sisi aset, Bayan Resources mencatat total aset USD3,78 miliar atau sekitar Rp66,15 triliun per 30 Juni 2026.
Baca Juga: 10 Merek Tertua di Indonesia yang Masih Bertahan hingga 2026, Ada yang Berusia 144 Tahun
Jumlah tersebut meningkat sekitar 12 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang berada di angka USD3,37 miliar atau sekitar Rp59 triliun.
Namun, kenaikan juga terlihat pada sisi liabilitas. Per Juni 2026, kewajiban BYAN mencapai USD1,19 miliar atau sekitar Rp20,8 triliun.
Liabilitas tersebut melonjak sekitar 75 persen dibandingkan akhir Desember 2025 yang tercatat USD680,46 juta atau sekitar Rp11,9 triliun.
Kenaikan liabilitas terutama berkaitan dengan utang dividen sebesar USD500 juta yang telah dibayarkan pada Juni 2026.
Dengan kapitalisasi pasar besar, aset tambang strategis di Kalimantan Timur, kinerja keuangan yang masih tumbuh dan posisi Low Tuck Kwong sebagai salah satu pemegang saham utama, Bayan Resources menjadi salah satu perusahaan batu bara yang sangat diperhitungkan di Indonesia.
Editor : Uways Alqadrie