UJOH BILANG – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) terus berupaya membuka akses jalan darat dari Long Pakaq menuju Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, di tengah kondisi kekeringan yang menghambat jalur transportasi sungai.
Kepala Dinas PUPR Mahulu Didik Subagya dalam wawancara baru-baru ini mengatakan, pekerjaan peningkatan dan pembukaan akses jalan telah dilakukan sejak Mei 2026. Saat ini, pihaknya mengejar beberapa titik yang menjadi jalur penting, mulai dari Long Lunuk, Long Pakaq hingga Long Pakaq-Tiong Ohang.
“Sekarang yang kita kejar itu Long Lunuk, Long Pakaq, Long Pakaq-Tiong Ohang,” kata Didik. Menurutnya, ruas Long Pakaq-Tiong Ohang menjadi salah satu bagian paling berat untuk ditembus. Dari Long Pakaq menuju Tiong Ohang terdapat sekitar 24 kilometer ruas yang kondisinya masih sulit dilalui.
Didik mengungkapkan, tim PUPR sebelumnya telah berupaya mencapai lokasi menggunakan kendaraan, namun terhenti akibat longsor. Tim lain kemudian dikirim menggunakan kendaraan trail untuk melanjutkan pengecekan dan penanganan.
Baca Juga: Gas 3 Kg Tembus Rp 250 Ribu, Bupati Mahulu Ancam Pihak yang Permainkan Harga Saat Bencana
“Yang parah sendiri, Long Pakaq-Tiong Ohang. Dari Long Pakaq ke Tiong Ohang sekitar 24 kilometer. Tim saya kemarin balik, tidak tembus karena longsor. Terus ini saya kirim lagi tim trail,” ujarnya. Namun, komunikasi dengan tim yang berada di lapangan sempat terputus selama dua malam. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam memantau perkembangan pekerjaan secara langsung.
Selain medan yang berat, keterbatasan alat berat menjadi kendala utama PUPR dalam mempercepat pembukaan akses tersebut. Didik mengatakan, berdasarkan hasil rapat sebelumnya, pihaknya telah meminta dukungan satu set alat berat dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Namun, hingga saat ini baru satu unit alat yang tiba di Mahulu.
“Saya mintanya satu set, excavator, loader. Jadi supaya enak kita beranjak. Sementara excavator, nanti alat kami yang di sini kami gerakkan juga,” jelasnya. Satu unit alat dari provinsi tersebut baru dijemput dari RTC menggunakan lowboy pada malam sebelumnya.
Menurut Didik, satu unit alat berat belum cukup untuk mempercepat pekerjaan pada medan yang cukup berat. Karena itu, PUPR tetap menggerakkan peralatan yang dimiliki pemerintah daerah sembari menunggu dukungan tambahan.
Ia juga menyebut kondisi penanganan jalan saat ini sudah masuk kategori darurat sehingga pemerintah perlu mempertimbangkan dukungan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT). Didik menegaskan, masyarakat tidak boleh membayangkan pembukaan jalan tersebut langsung menghasilkan jalan dengan konstruksi sempurna.
Baca Juga: Bantuan Pangan 9,7 Ton Tiba di Mahulu, Bupati Angela Fokuskan ke Long Apari dan Long Pahangai
Dalam kondisi darurat, target utama PUPR adalah membuat akses fungsional yang dapat dilalui kendaraan pembawa bantuan.
“Teman-teman sudah ketahui ke masyarakat, ini kami buka jalan jangan bayangkan jalan itu koral. Kami kejar fungsional dulu,” katanya. Menurutnya, peningkatan kualitas jalan dapat dilakukan secara bertahap pada tahun berikutnya. Yang paling penting saat ini adalah membuka akses agar bantuan dapat masuk ke Tiong Ohang melalui jalur darat.
“Yang penting terbuka dan bisa dilewati mobil bantuan,” tegasnya. Didik juga mengingatkan bahwa terdapat sejumlah titik jembatan dan elevasi jalan yang masih harus diperhatikan. Kendaraan dengan muatan berat dinilai memiliki risiko apabila dipaksakan melintas pada kondisi jalan yang belum sepenuhnya siap.
Upaya pembukaan akses tidak mudah karena mobilisasi alat dan personel menuju titik pekerjaan juga membutuhkan waktu panjang. Didik menjelaskan, keterbatasan akses membuat sebagian personel harus berjalan kaki untuk mencapai lokasi pekerjaan. Bahkan, perjalanan menuju titik tertentu dapat memakan waktu hingga empat hari empat malam.
“Untuk menuju ke TKP saja paling cepat empat hari empat malam. Itu jalan terus, paling tidur sebentar jalan. Itu yang tidak efektif,” ungkapnya. Kondisi tersebut semakin sulit karena di kawasan sekitar Long Pakaq tidak terdapat perusahaan yang memiliki alat berat yang dapat mendukung penanganan jalan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Laris, Ini yang Membuat Penjualan Daihatsu Tembus 84.959 Unit
Didik menyebut perusahaan yang sebelumnya dikira memiliki alat berat ternyata hanya merupakan perusahaan penggergajian kayu atau sawmill. “Di posisi area itu tidak ada perusahaan yang punya alat berat. Yang saya sebutkan perusahaan kayu tadi rupanya sawmill saja, jadi memang tidak ada unit alat berat,” katanya.
Terkait kerusakan pada ruas jalan simpang Long Pakaq yang sebelumnya disebut berkaitan dengan aktivitas kendaraan perusahaan, Didik mengatakan pihak perusahaan telah melakukan perbaikan.
Menurutnya, terdapat bagian jalan yang rusak setelah dilalui kendaraan perusahaan. Kerusakan tersebut kemudian diperbaiki oleh pihak perusahaan. “Jalan Simpang Long Pakaq itu masuk yang empat kilometer. Ada yang memang alat dia lewat situ, cuma dua jalan lewat. Itu sudah patah, tapi sudah diganti,” jelasnya.
Saat ini, konsentrasi PUPR tetap diarahkan pada pembukaan akses menuju Tiong Ohang agar distribusi bantuan bagi masyarakat di wilayah hulu dapat dilakukan lebih cepat.
Didik menegaskan, pekerjaan akan terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, sembari menunggu tambahan dukungan alat berat dari pemerintah provinsi. “Yang penting ini bantuan bisa sampai ke Tiong Ohang,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki