Sungai Mahakam Surut, Warga Mahulu Dulang Emas dan Raup Rp 3,7 Juta Seminggu

Jody Kristianto • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:13 WIB
MENDULANG EMAS: Puput, seorang pencari emas tradisional, duduk memegang dulang hitam di air dangkal untuk memisahkan butiran emas dari pasir di bantaran Sungai Mahakam, kawasan Long Bagun Ilir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Puput menjadikan surutnya Sungai Mahakam sebagai mata pencaharian utamanya sejak kemarau melanda. Dari aktivitas mendulang sejak pagi hingga sore hari, ia mampu mengantongi rata-rata 500 milligram emas per hari yang dijual kepada pengepul seharga Rp1,9 juta per gram. (FOTO: JODY KRISTIANTO / KALTIM POST)
MENDULANG EMAS: Puput, seorang pencari emas tradisional, duduk memegang dulang hitam di air dangkal untuk memisahkan butiran emas dari pasir di bantaran Sungai Mahakam, kawasan Long Bagun Ilir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Puput menjadikan surutnya Sungai Mahakam sebagai mata pencaharian utamanya sejak kemarau melanda. Dari aktivitas mendulang sejak pagi hingga sore hari, ia mampu mengantongi rata-rata 500 milligram emas per hari yang dijual kepada pengepul seharga Rp1,9 juta per gram. (FOTO: JODY KRISTIANTO / KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID-Terik matahari dan air sungai yang terus menyusut ternyata membawa cerita lain bagi sebagian warga di Mahakam Ulu (Mahulu). Ketika kemarau membuat aktivitas di sungai semakin terbatas, bantaran Sungai Mahakam justru berubah menjadi tempat mencari penghasilan tambahan.

Sepanjang Sungai Mahakam di Mahulu, dari hilir ke hulu, tak jarang terlihat warga memanfaatkan momen kemarau dengan peralatan sederhana untuk mencari logam mulia di sela-sela batu karangan. Ada yang bilang, hidup di Mahulu tanpa dibarengi mendulang emas rasanya belum lengkap. Salah satunya dilakukan Taufik, seorang pegawai pemerintah dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Di sela pekerjaannya di kantor, ia memilih turun ke sungai untuk mencari emas.
Sudah sekitar sepekan Taufik menjalani aktivitas tersebut. Polanya pun cukup sederhana. Pagi hari ia tetap masuk kantor dan melakukan absensi terlebih dahulu. Setelah melihat tidak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, ia turun ke sungai.

Menjelang siang, ia kembali menjemput anaknya pulang sekolah. Namun, perjalanan belum berakhir—ia kembali ke bantaran sungai bersama anak dan istrinya. “Seminggu sudah kami begawi (kerja) emas,” kata Taufik.

Penghasilan Sepekan Bisa Samai Gaji Sebulan

Bagi Taufik, kemarau kali ini memang terasa membawa peluang. Dalam sehari, ia mengaku bisa mendapatkan sekitar 800 miligram emas. Jika dihitung dalam sepekan, penghasilan dari aktivitas mencari emas itu bahkan bisa menyamai atau melampaui gaji bulanannya sebagai pegawai.

“Seminggu aku juga gajiku sebulan di kantor,” ujarnya. Dalam satu pekan, Taufik menyebut penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp 3,6 juta hingga Rp 3,7 juta per orang. Jumlah tersebut, menurut dia, tergolong lumayan untuk pekerjaan yang dilakukan di sela aktivitas kantor. “Beruntung kemarau ini. Sekitar Rp 3,6 juta sampai Rp 3,7 juta kemarin seminggu, satu orang,” katanya.

Namun, mencari emas bukan sekadar duduk menunggu butiran kuning muncul dari pasir. Di lokasi, aktivitas penambangan dilakukan dengan sistem semprot. Pasir dan material di bantaran sungai disemprot menggunakan aliran air bertekanan, kemudian material tersebut disedot untuk diproses kembali.

Ada selang besar, pompa, pipa, serta sejumlah peralatan sederhana yang digunakan untuk mengarahkan material menuju tempat pemisahan. Pasir yang telah diambil emasnya kemudian tidak semuanya menjadi limbah—material tersebut kembali dimanfaatkan warga lain, salah satunya sebagai bahan baku bangunan.  “Semprot, sedot sekalian,” ujar Taufik, sambil menjelaskan cara kerja peralatan yang digunakan.

Di tengah pekerjaan itu, suasana bantaran sungai juga terlihat seperti ruang keluarga dadakan. Taufik membawa bekal makan siang, sementara istri dan anaknya ikut berada di lokasi. Kemarau yang membuat air bersih semakin sulit diperoleh bahkan membuat sungai menjadi tempat untuk berbagai aktivitas sehari-hari. “Sekalian piknik sama mamanya,” katanya.

Mesin pompa dan selang penyedot pasir yang digunakan warga untuk mendulang emas di bantaran Sungai Mahakam yang surut. (FOTO: JODY KRISTIANTO/KALTIM POST)
Mesin pompa dan selang penyedot pasir yang digunakan warga untuk mendulang emas di bantaran Sungai Mahakam yang surut. (FOTO: JODY KRISTIANTO/KALTIM POST)

Air sungai yang surut dimanfaatkan untuk mandi, bermain air, hingga beristirahat. Bagi warga yang sehari-hari hidup dekat dengan sungai, kondisi tersebut bukan sesuatu yang asing. Di lokasi yang sama, seorang pengeret (pengangkut) material juga bercerita mengenai aktivitas pengangkutan pasir hasil semprotan. 

Dalam satu hari, seorang pengeret disebut bisa mengangkut hingga sekitar 10 ret material, dengan satu ret pasir dijual kepada pembeli seharga sekitar Rp200 ribu. Artinya, aktivitas di bantaran sungai ini tidak hanya menghidupi pencari emas, tapi juga warga lain yang mendapat penghasilan dari mengangkut dan memanfaatkan material pasir.

Namun, untuk menjalankan aktivitas tersebut tentu dibutuhkan modal. Taufik memperlihatkan berbagai peralatan yang digunakan, sebagian dibuat dan dirakit secara sederhana, termasuk komponen yang memanfaatkan barang bekas—selang, elbow, pompa, dan perangkat penyaring. “Sekarang dalam satu unit kami membangun minimal Rp 15 juta,” katanya, menjelaskan kebutuhan modal peralatan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mencari emas secara tradisional di sungai tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum lagi risiko peralatan rusak, biaya operasional, dan hasil yang tidak selalu sama setiap hari.

Dari Pekerjaan Sampingan hingga Mata Pencaharian

Jika Taufik membagi waktunya antara kantor dan sungai, cerita berbeda datang dari Puput. Aktivitasnya terlihat jelas dari tepian sungai—ia duduk di air dangkal dengan kedua kaki terendam. Di hadapannya terdapat sebuah dulang berwarna gelap yang dipenuhi material pasir dan kerikil.

Dengan kedua tangan, Puput mengaduk dan memutar material tersebut secara perlahan, matanya tajam memilah cahaya kuning dari dulang berwarna hitam pekat itu.
Gerakan itu bukan sekadar mencuci pasir. Ia sedang mendulang—memisahkan material yang lebih ringan dari butiran mineral yang memiliki berat jenis lebih tinggi. Dulang digoyangkan secara hati-hati agar pasir dan lumpur terbawa aliran air, sementara material yang lebih berat tetap tertinggal di dasar dulang.

Di sekelilingnya tampak peralatan kerja sederhana: sebuah perahu rakit tak jauh dari tempatnya duduk, selang besar berwarna biru terhubung dengan mesin pompa, sebuah payung warna-warni sebagai pelindung dari sengatan matahari, serta kursi lipat, wadah air, ember, dan perlengkapan lainnya.

Puput merupakan pekerja yang menjadikan aktivitas mencari emas sebagai pekerjaan utamanya. Ia mengaku sudah lebih dari sebulan bekerja mencari emas di bantaran Sungai Mahakam kawasan Long Bagun Ilir, sejak air sungai surut, dan masih bertahan karena kemarau belum juga berakhir.

Hari Puput dimulai sejak pagi. Sekitar pukul 08.00, ia sudah berada di lokasi. Pekerjaan berlangsung hingga sekitar pukul 11.00, kemudian dilanjutkan lagi sampai sore sekitar pukul 17.00. Berbeda dengan Taufik yang sesekali turun ke sungai setelah bekerja di kantor, bagi Puput, sungai adalah tempat kerja utama.

Dalam sehari, Puput mengatakan bisa mengantongi sekitar 500 miligram emas, meski hasilnya bergantung pada lokasi dan material yang diperoleh hari itu. Hasil dulangan emas itu kemudian ia jual kepada pengepul dengan standar harga Rp 1,9 juta per gram.

Pengalaman mencari emas pun tidak datang begitu saja. Puput mengatakan keahlian tersebut diperolehnya dari pengalaman bekerja dan belajar dari orang-orang lokal yang lebih dulu menjalani pekerjaan serupa. Pekerjaan ini, menurutnya, memang membutuhkan modal—peralatan menjadi salah satu pengeluaran terbesar, dengan modal membangun satu unit peralatan bisa mencapai sekitar Rp12 juta hingga Rp 15 juta.

Bagi pencari emas seperti Puput, modal tersebut menjadi investasi untuk bisa terus bekerja selama kondisi sungai masih memungkinkan. Sungai bukan hanya tempat mengambil emas—ia menjadi tempat bekerja, tempat beristirahat, tempat makan, bahkan tempat mandi ketika air bersih semakin sulit didapatkan.

Di Tengah Kabar Perusahaan Emas

Bagi para pencari emas tradisional, ada satu isu yang ikut menjadi perhatian: kabar mengenai rencana atau keberadaan perusahaan emas di wilayah Mahulu. Puput mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kemungkinan tersebut. Jika suatu hari aktivitas perusahaan benar-benar masuk, ia memilih mengikuti perkembangan dan melihat mana yang dianggap paling baik bagi dirinya. 

Namun, keberadaan perusahaan besar tentu bisa menjadi tantangan bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari mencari emas secara tradisional. Selama belum ada perubahan, Puput memilih tetap bekerja di sungai. “Masih ada peluang. Masih enak untuk makan,” ujarnya. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
Kemarau Mahakam Ulu Mendulang Emas Mahulu Emas Tradisional Mahulu sungai mahakam surut