KALTIMPOST.ID-Kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino mulai berdampak terhadap kondisi sumber daya air di sejumlah wilayah Kaltim.
Debit Sungai Mahakam dilaporkan mengalami penyusutan, terutama di wilayah hulu Mahakam.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kaltim Andri Rahmanto Wibowo mengatakan penurunan debit sungai terjadi seiring rendahnya curah hujan selama periode El Nino.
“El Nino ini artinya curah hujan akan lebih rendah daripada kondisi tahun normal,” kata Andri kepada Kaltim Post, Sabtu (22/8).
Baca Juga: LAPSUS: 936 Hektare Hutan di Kaltim Terbakar, Anggota DPR Hetifah Ingatkan Ancaman Belum Berakhir
Menurutnya, minimnya hujan tidak hanya memengaruhi debit sungai, tetapi juga ketersediaan air di sejumlah tampungan, seperti danau, embung, dan bendungan.
Sungai Mahakam saat ini sudah mengalami penyurutan. Namun, kondisi di wilayah Samarinda masih relatif aman karena debit air yang mengalir masih cukup besar.
Kondisi lebih mengkhawatirkan terjadi di bagian hulu. “Yang paling terdampak itu wilayah di bagian atas, di Mahakam Hulu,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, BWS Kaltim mengandalkan sejumlah sumber air, termasuk bendungan dan air tanah.
Di Balikpapan, terdapat dua bendungan utama yang menjadi sumber suplai air, yakni Bendungan Manggar dan Bendungan Teritip.
Selain itu, kebutuhan air juga dapat dipenuhi melalui sumur air tanah dalam yang mengambil air dari akuifer.
BWS Kaltim mencatat terdapat delapan sumur air tanah dalam di Balikpapan. Sumber air tersebut memiliki debit sekitar 5–10 liter per detik dan dapat dimanfaatkan secara kontinu selama pengeboran dilakukan pada lokasi yang memiliki cadangan air tanah.
Baca Juga: KONI Balikpapan Bidik Juara Porprov Kaltim 2026, Nasib 64 Cabor Ditentukan pada 9 September
“Jadi, kita mengebor di cekungan air tanah, atau akuifer. Ketika dibor, airnya bisa diproduksi secara kontinu,” jelas Andri.
Meski kemarau mulai berdampak terhadap sumber daya air, BWS Kaltim memastikan ketersediaan air di sejumlah wilayah masih mencukupi.
Khusus bendungan di Balikpapan, pengelolaan tampungan telah diatur agar mampu memenuhi kebutuhan hingga Desember. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.
“Sejauh ini, dari hasil prediksi kami, nanti Oktober sudah mulai terjadi hujan. Bahkan untuk bendungan-bendungan kami di Balikpapan, sudah kami atur supaya cukup sampai Desember,” katanya.
Sementara di Samarinda, BWS Kaltim mencatat terdapat 18 titik pengambilan air dari Sungai Mahakam. Sebanyak 17 titik masih dinilai aman, sedangkan satu titik di kawasan Pulau Atas mendapat perhatian khusus.
Titik tersebut berada di bagian hilir dan relatif dekat dengan laut sehingga berpotensi terdampak intrusi air laut ketika debit Mahakam menurun.
Untuk mengantisipasi peningkatan kadar garam, air di lokasi tersebut diperiksa secara rutin. Apabila kadar air asin telah melampaui standar, pengambilan air akan dihentikan.
Andri memastikan kebutuhan air masyarakat Samarinda masih dapat dipenuhi dengan memaksimalkan produksi dari 17 titik pengambilan lainnya.
Selain memastikan ketersediaan air baku, BWS Kaltim juga membantu BPBD dalam penyediaan air untuk kebutuhan pemadaman kebakaran lahan. (rd)
Editor : Romdani.