Sungai Barito di Kalteng Kering! Air Tinggal 0,6 Meter, Transportasi Sungai Terganggu

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:40 WIB
Grafis istimewa
Grafis istimewa

KALTIMPOST.ID, PALANGKA RAYA- Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penyusutan debit air secara drastis akibat kemarau panjang dan rendahnya curah hujan. Kondisi ini membuat sejumlah bagian sungai berubah menjadi hamparan pasir.

BMKG menyebut ketinggian air di wilayah Muara Teweh kini hanya sekitar 0,6 meter, jauh di bawah kondisi normal yang berada pada kisaran 5–11,5 meter. Dampaknya, aktivitas transportasi sungai ikut terganggu dan nyaris terhenti.

Kondisi paling terlihat berada di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, tempat hamparan pasir mulai muncul di alur sungai. Kapal berukuran besar, termasuk tongkang pengangkut batu bara, minyak, dan kayu, kesulitan melintas.

Baca Juga: Profil Komjen Syahardiantono yang Bikin Heboh DPR: Kabareskrim Calon Kuat Pengganti Kapolri

Untuk sementara, hanya perahu kecil seperti jukung yang masih dapat digunakan, itu pun dengan ruang gerak yang terbatas.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan, penyusutan Sungai Barito dipengaruhi kemarau yang lebih kering dibandingkan biasanya. Hujan deras yang sebelumnya menopang debit sungai telah lama berakhir, sementara hujan ringan belum mampu mengembalikan volume air.

Berkurangnya curah hujan di Kalimantan Tengah juga membuat pasokan air dari kawasan hulu Pegunungan Schwaner menurun tajam. Kondisi serupa disebut terjadi di sejumlah sungai lain di Kalimantan.

Baca Juga: 2.946 Titik Panas Kepung Kalimantan dan Sumatera, Karhutla Riau Tembus 700 Hektare

Jika debit air terus merosot, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor transportasi. Distribusi logistik, aktivitas ekonomi masyarakat bantaran sungai, hingga pengiriman komoditas berpotensi ikut terdampak.

Editor : Uways Alqadrie
Sungai Barito Kalteng kebakaran hutan dan lahan di Kalteng Sungai Barito surut Palangkaraya kalimantan tengah