KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Nama Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam menjadi salah satu sosok pengusaha asal Kalimantan Selatan yang membangun bisnis dari daerah hingga berkembang ke berbagai sektor industri.
Dalam minggu ini namanya kembali menjadi isu nasional setelah terlihat bersama Presiden Prabowo saat meninjau kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Bahkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sampai memberikan bantahan kabar penunjukan pengusaha Haji Isam sebagai koordinator penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menegaskan penanganan karhutla dipimpin sejumlah pejabat setingkat menteri yang dibagi per wilayah.
Baca Juga: Profil Komjen Syahardiantono yang Bikin Heboh DPR: Kabareskrim Calon Kuat Pengganti Kapolri
"Tidak ada, tidak benar. Siapa yang mencetuskan isunya? Di medsos kan banyak trending, tapi kan belum tentu itu yang benar," kata Prasetyo kepada wartawan, Minggu (23/8/2026).
Lahir di Batulicin, Kalimantan Selatan, 1 Januari 1977, Haji Isam kini berusia 49 tahun. Ia dikenal sebagai pendiri dan tokoh utama di balik Jhonlin Group, kelompok usaha yang berkembang dari pertambangan batu bara ke agribisnis, energi, logistik, pelayaran, penerbangan hingga industri hilir.
Perjalanan bisnis Haji Isam tidak bermula dari latar belakang pendidikan tinggi. Setelah menyelesaikan SMA pada 1996, ia memilih bekerja dan sempat menjadi sopir truk pengangkut kayu.
Dari lingkungan pekerjaannya, ia mulai mengenal dunia usaha pertambangan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal untuk membangun bisnis sendiri.
Pada 2003, Haji Isam mendirikan Jhonlin Baratama. Dari perusahaan yang berkaitan dengan jasa pertambangan tersebut, jaringan bisnisnya terus berkembang hingga membentuk kelompok usaha Jhonlin.
Dari Batu Bara ke Bisnis Terintegrasi
Pertambangan menjadi fondasi awal bisnis Haji Isam. Namun, dalam perkembangannya, Jhonlin tidak hanya mengandalkan produksi batu bara.
Jaringan usaha tersebut kemudian merambah sektor pendukung pertambangan, termasuk transportasi dan logistik. Di sektor pelayaran terdapat Jhonlin Marine and Shipping serta sejumlah perusahaan yang bergerak dalam jasa angkutan laut.
Baca Juga: Profil Letjen TNI Lucky Avianto, Jenderal Kopassus yang Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Bekas Markas
Bisnis penerbangan juga masuk dalam ekosistem tersebut melalui Jhonlin Air Transport. Pola pengembangan bisnis itu membuat kegiatan usaha Jhonlin mencakup berbagai mata rantai, mulai dari produksi komoditas, pengangkutan hingga distribusi.
Masuk ke Sawit dan Biodiesel
Diversifikasi kemudian bergerak ke sektor agribisnis. Salah satu perusahaan penting dalam jaringan tersebut adalah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Perusahaan ini bergerak dalam industri sawit dan pengolahan produk turunannya, termasuk biodiesel.
Dalam perkembangan terbaru, JARR menyiapkan peningkatan penggunaan pasokan CPO internal untuk mendukung kebutuhan industri biodiesel. Langkah tersebut berkaitan dengan pengembangan kebijakan B50 yang mulai menjadi perhatian pemerintah pada 2026.
JARR juga menjadi salah satu perusahaan terbuka yang berada dalam ekosistem bisnis Haji Isam.
Kinerja saham perusahaan tersebut bahkan menjadi sorotan pasar. Pada pekan perdagangan hingga 21 Agustus 2026, saham JARR tercatat melonjak 52,74 persen dan menjadi salah satu saham konglomerasi dengan kenaikan tertinggi dalam periode tersebut.
Merambah Industri Gula
Ekspansi Jhonlin juga masuk ke industri gula.
Melalui jaringan perusahaan Jhonlin Batu Mandiri dan PT Prima Alam Gemilang, kelompok usaha tersebut mengembangkan perkebunan tebu dan pabrik gula di Bombana, Sulawesi Tenggara.
Proyek tersebut menjadi bagian dari strategi memperbesar bisnis berbasis agribisnis sekaligus masuk lebih jauh ke sektor industri pengolahan.
Baca Juga: Profil MR Alias Bos Gendut: Gembong Narkoba Kampung Bahari yang Diburu Sejak 2025
Kini Masuk ke Nikel
Perkembangan terbaru menunjukkan bisnis Haji Isam semakin melebar ke sektor hilirisasi mineral.
Pada 2026, Jhonlin dikaitkan dengan ekspansi ke industri nikel. PT Jhonlin disebut membangun fasilitas pengolahan atau smelter nikel di Tanah Bumbu dengan nilai investasi sekitar Rp6,3 triliun.
Selain itu, PT Jhonlin Agro Raya Tbk mengakuisisi sekitar 21,12 persen saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dengan nilai sekitar Rp936,65 miliar.
Langkah tersebut memperlihatkan perubahan arah bisnis Jhonlin yang tidak lagi hanya bertumpu pada batu bara dan perkebunan, tetapi semakin masuk ke industri hilirisasi.
Jaringan Perusahaan
Jaringan bisnis yang berkembang di sekitar Haji Isam mencakup sejumlah bidang, antara lain:
Jhonlin Group – kelompok usaha utama.
PT Jhonlin Baratama – bisnis yang berakar dari sektor pertambangan.
PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) – sawit dan biodiesel.
PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) – perkebunan kelapa sawit.
PT Prima Alam Gemilang – industri gula.
Jhonlin Marine Lines – jasa pelayaran dan angkutan laut.
Jhonlin Air Transport – jasa penerbangan.
Sejumlah perusahaan lain yang bergerak di pertambangan, logistik, properti, perkebunan dan jasa pendukung.
Dokumen laporan tahunan JARR 2025 juga memperlihatkan keterlibatan anggota keluarga dalam sejumlah perusahaan yang berada di sekitar ekosistem Jhonlin.
Baca Juga: Pesan Listyo Sigit untuk Calon Kapolri: 4 Komjen Penerus Berdasarkan Usia Pensiun dan Pengalaman
Keluarga Mulai Masuk ke Bisnis
Regenerasi bisnis keluarga terlihat dari keterlibatan putra Haji Isam, Jhony Saputra. Dalam laporan tahunan JARR 2025, Jhony tercatat sebagai Komisaris Utama JARR.
Ia juga tercatat memiliki atau menduduki posisi komisaris dan pemegang saham di sejumlah perusahaan yang berkaitan dengan jaringan usaha keluarga.
Di antaranya PT Jhonlin Group, PT Jhonlin Baratama, PT Jhonlin Marine Lines, PT Baramega Citra Mulia Persada, PT Prima Alam Gemilang serta beberapa perusahaan lainnya.
Dengan demikian, Jhony tidak hanya berada di satu perusahaan, tetapi sudah masuk ke sejumlah lini usaha dalam ekosistem bisnis keluarga.
Sementara itu, putri Haji Isam, Liana Saputri, juga dikaitkan dengan bisnis keluarga. Salah satu perusahaan yang dikaitkan dengan kepemilikannya adalah PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), perusahaan perkebunan kelapa sawit.
PGUN membukukan laba bersih Rp159,3 miliar pada 2025, naik sekitar 101,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hubungan Keluarga dan Bisnis
Lingkar keluarga Haji Isam juga bersinggungan dengan dunia usaha di Kalimantan Selatan.
Salah satu nama yang kerap muncul adalah Timothy Savitri, yang disebut memiliki hubungan bisnis dengan Haji Isam dan terlibat dalam sejumlah aktivitas usaha.
Sementara Erna Lisa Halaby, yang masih berada dalam lingkar keluarga tersebut, menjadi figur yang dikenal dalam politik Banjarbaru. Hubungan keluarga dan bisnis ini menjadi bagian dari jejaring sosial-ekonomi yang berkembang di sekitar keluarga besar Haji Isam.
Bertemu Pemerintah, Bahas Hilirisasi
Perkembangan terbaru lainnya terjadi pada Agustus 2026.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menerima Haji Isam di Kantor Sekretariat Kabinet pada 9 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membahas perkembangan investasi di sektor pertambangan, hilirisasi, agribisnis, energi dan logistik.
Baca Juga: Putra Gowa Komjen Mohammad Fadil Imran Pensiun dari Polri, Kini Jadi Komisaris MIND ID
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa aktivitas bisnis Haji Isam kini tidak hanya berkaitan dengan komoditas primer, tetapi semakin diarahkan pada pengembangan industri hilir dan investasi.
Rumor Akuisisi Bayan
Nama Haji Isam juga menjadi perhatian pasar modal pada Agustus 2026 setelah muncul spekulasi mengenai kemungkinan pengambilalihan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Spekulasi tersebut menyebut adanya kemungkinan akuisisi sekitar 62,2 persen saham Bayan yang dikuasai keluarga Low Tuck Kwong.
Namun, hingga perkembangan terakhir, pihak Bayan menyatakan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi saham tersebut oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya.
JARR juga telah membantah rumor mengenai rencana akuisisi tersebut.
Mendapat Bintang Mahaputera Utama
Pada 2025, Haji Isam menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto.
Penghargaan tersebut menambah daftar kiprah Haji Isam di tingkat nasional, setelah sebelumnya ia dikenal sebagai pengusaha yang membangun kerajaan bisnis dari Batulicin.
Kini, memasuki usia 49 tahun, bisnis Haji Isam telah berkembang jauh dari sektor yang menjadi titik awalnya.
Dari batu bara, jaringan usaha tersebut bergerak ke logistik, pelayaran, penerbangan, perkebunan, biodiesel, gula dan kini semakin masuk ke sektor hilirisasi mineral.
Editor : Uways Alqadrie