SANGATTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), mencapai 11 titik sejak 12 Agustus hingga Senin (24/8). Sebagian kebakaran terjadi di lahan bekas pertanian masyarakat yang kini dipenuhi semak dan vegetasi kering.
Camat Sangatta Selatan Dewi mengatakan, kondisi gambut yang mengering menjadi salah satu faktor yang membuat api mudah muncul dan menyebar. Namun, dari pemantauan di lapangan, terdapat pula sejumlah titik yang diduga terbakar akibat unsur kesengajaan.
“Dari tanggal 12 Agustus sampai dengan hari ini itu ada 11 titik kejadian. Sebagian wilayah kami memang gambut,” ujarnya. Dewi menyebut, luas lahan yang terbakar belum dihitung secara keseluruhan. Berdasarkan pemantauan sementara, setiap titik kebakaran rata-rata memiliki luasan sekitar 1 hingga 1,5 hektare.
Baca Juga: Posko Karhutla Kutim Diminta Aktif 24 Jam, Warga Dilarang Bakar Sampah Saat El Nino
Kebakaran banyak terjadi di lahan bekas pertanian warga yang sudah tidak terawat. Semak, alang-alang, dan pakis kering tumbuh di lokasi tersebut sehingga mudah terbakar saat kondisi panas dan kering.
Menurut Dewi, tidak semua titik kebakaran disebabkan aktivitas manusia. Sebagian diduga muncul akibat kondisi gambut yang kering. Pada pagi hari, lokasi terkadang hanya mengeluarkan asap, kemudian berubah menjadi titik api saat siang.
“Ada beberapa memang terbakar dengan sendirinya karena wilayah yang terbakar merupakan gambut yang kering. Pagi masih mengasep, tetapi sekitar pukul 12.00 sudah ada titik api,” jelasnya.
Namun, dari hasil pengamatan di lapangan, Dewi menyebut terdapat pula titik yang diduga sengaja dibakar. “Dari hasil pengamatan saya ada beberapa titik yang memang karena unsur kesengajaan, tapi ada beberapa titik itu memang karena alang-alang,” katanya.
Baca Juga: Seluruh Desa dan Kelurahan Kutim Sudah Ada Posbankum, Diharap Siap Tangani Konflik Lahan
Untuk mempercepat penanganan, Kecamatan Sangatta Selatan menginisiasi pembentukan posko gabungan. Tim tersebut melibatkan unsur kecamatan, desa, masyarakat, dan BPBD Kutim.
Pembentukan tim dilakukan setelah rapat bersama pimpinan desa dan unsur masyarakat di Kecamatan Sangatta Selatan. Tim reaksi cepat tersebut telah berjalan selama empat hari.
“Alhamdulillah sudah berjalan empat hari sampai dengan hari ini. Saat ini kendala kami adalah sarpras yang memang belum tersedia di kami,” ujarnya. Kecamatan Sangatta Selatan telah menyampaikan kebutuhan sarana dan prasarana tersebut kepada BPBD Kutim. (riz)
Editor : Muhammad Rizki