SANGATTA - Luas areal yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Timur (Kutim) mencapai 68,3 hektare. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim per 22 Agustus mencatat, kebakaran tersebar di sejumlah kecamatan dengan luasan terbesar berada di Sangatta Utara.
Sangatta Utara mencatat areal terbakar seluas 21,8 hektare. Berikutnya Sangatta Selatan 15,4 hektare dan Busang 8 hektare.
Kebakaran juga tercatat di Kaliorang dengan luasan 6,3 hektare, Kaubun 5 hektare, dan Sangkulirang 4,3 hektare. Sementara Rantau Pulung dan Karangan masing-masing 1,5 hektare.
Baca Juga: Karhutla Paser Tembus 313 Hektare, Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat
Kemudian Batu Ampar, Kongbeng, dan Teluk Pandan masing-masing tercatat 1 hektare. Sedangkan Muara Bengkal 0,5 hektare.
Sementara Bengalon, Muara Wahau, Telen, Sandaran, dan Long Mesangat belum tercatat mengalami karhutla dalam data BPBD per 22 Agustus.
Kepala BPBD Kutim Sulastin mengatakan, angka tersebut masih dapat berubah karena sejumlah laporan dari kecamatan masih dalam proses pendataan. BPBD terus meminta pembaruan data dari tim di lapangan.
“Masih ada yang belum masuk laporannya. Masih didata dengan tim di kecamatan,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Ruang Rapat Utama BPBD Kutim, Senin (24/8).
Di tengah penanganan karhutla, jumlah hotspot di Kutim juga menunjukkan penurunan. Per 23 Agustus tercatat 119 titik panas yang tersebar di 12 dari 18 kecamatan.
Angka itu turun dari 145 hotspot pada 21 Agustus. Muara Wahau menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 30 titik. Disusul Kongbeng 20 titik, Bengalon 15 titik, serta Karangan dan Kaubun masing-masing 10 titik.
Baca Juga: Prabowo Janjikan Pangdam dan Kapolda Riau Naik Jabatan jika 900 Hektare Karhutla Tuntas
Sulastin mengatakan laporan titik api yang masuk ke BPBD juga menurun dalam beberapa hari terakhir. Biasanya terdapat empat hingga lima laporan per hari, sedangkan sehari sebelumnya hanya terdapat dua laporan.
“Alhamdulillah berkurang. Biasanya setiap hari itu ada empat sampai lima titik. Namun kemarin hanya dua titik,” ujarnya.
Meski jumlah laporan menurun, petugas masih menemukan adanya kebakaran yang diduga berasal dari pembakaran oleh oknum. Api yang ditinggalkan kemudian merambat.
“Setelah tim sampai pada titik yang dilihat, ternyata ada pembakaran oleh oknum. Ditinggal pergi, apinya dibiarkan sehingga merambat,” jelasnya.
BPBD saat ini juga melakukan inventarisasi posko, personel, serta peralatan penanganan karhutla di kecamatan. Sejumlah kecamatan telah membentuk posko, sementara beberapa lainnya masih diminta melaporkan kesiapan masing-masing.
Sulastin meminta kecamatan dan perusahaan di wilayah Kutim memperkuat koordinasi dalam pencegahan dan penanganan karhutla.
“Jadi kami menekankan kepada semua kecamatan untuk bertanggung jawab dan semua perusahaan yang ada untuk saling berkoordinasi, saling berkolaborasi melakukan penanggulangan Karhutla,” pungkasnya. (riz)