Hujan Akhirnya Turun di IKN! BMKG Perluas Operasi Modifikasi Cuaca Hingga ke Berau

Eko Pralistio • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 20:18 WIB
Petugas teknis Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari BMKG Pusat menyebarkan bahan semai garam ke dalam kumpulan awan aktif melalui pintu helikopter di atas langit kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah strategis penyemaian garam dari udara ini dilakukan untuk mempercepat proses pembentukan hujan guna menanggulangi kondisi Waduk Sepaku yang sedang mengalami defisit air. (Foto: Otorita IKN)
Petugas teknis Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari BMKG Pusat menyebarkan bahan semai garam ke dalam kumpulan awan aktif melalui pintu helikopter di atas langit kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah strategis penyemaian garam dari udara ini dilakukan untuk mempercepat proses pembentukan hujan guna menanggulangi kondisi Waduk Sepaku yang sedang mengalami defisit air. (Foto: Otorita IKN)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Upaya mendatangkan hujan di tengah puncak musim kemarau mulai digencarkan di Kalimantan Timur. BMKG telah menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) di dua wilayah, yakni kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kabupaten Berau.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo mengatakan, OMC di kawasan IKN telah dimulai sejak 22 Agustus. Operasi tersebut dilakukan menyusul kondisi Waduk Sepaku yang mengalami defisit air.

Hasilnya mulai terlihat. Hujan dilaporkan turun di kawasan IKN dan sekitarnya dalam dua hari terakhir hingga Senin (24/8) pagi. “Alhamdulillah dua hari kemarin sampai dengan pagi ini tadi juga sudah mulai menghasilkan hujan di wilayah IKN dan sekitarnya,” ujar Budi, Senin (24/8).

Selain IKN, OMC mulai dilakukan di Kabupaten Berau. Operasi tersebut dijalankan setelah adanya permintaan Bupati Berau kepada Kepala BNPB. Menurut Budi, wilayah yang menjadi sasaran OMC tidak ditentukan hanya berdasarkan banyaknya titik panas. Potensi awan hujan juga menjadi syarat utama. “Ya, titik api dan juga potensi hujan,” katanya.

Baca Juga: Lebih Kuat Dibanding 2015! El Nino Ekstrem Hantam Kaltim, Bertahan Sampai Awal 2027

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo. (FOTO/EKO PRALISTIO)
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo. (FOTO/EKO PRALISTIO)

Budi menjelaskan OMC bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah memiliki potensi hujan. Ketika kelembapan dan ketinggian awan memenuhi syarat, bahan semai akan diinjeksi ke dalam awan untuk mempercepat proses kondensasi.

Karena itu, operasi tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pesawat tetap harus menunggu keberadaan awan yang sesuai. “Kalau tidak ada awan sama sekali, mau terbang setiap hari pun tidak akan ada hasil,” ujarnya.

Budi melanjutkan, efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Karena itu, keberhasilannya tidak bisa langsung dihitung dalam bentuk persentase sebelum data curah hujan aktual diperoleh.

Namun, berdasarkan rata-rata pelaksanaan OMC, peningkatan curah hujan dapat mencapai 30–50 persen. Sebagai gambaran, apabila potensi curah hujan alami hanya sekitar 100 milimeter dalam sebulan, OMC berpotensi menambah sekitar 30 milimeter.

“Semakin besar potensinya, hasilnya akan semakin bagus,” ujarnya. Persoalan lain muncul dari karhutla. Asap pekat dapat mengganggu pertumbuhan awan karena menghalangi radiasi matahari yang dibutuhkan dalam proses pembentukan awan.

Baca Juga: CFD Balikpapan Bisa Jadi Mesin Ekonomi Baru, UMKM dan Perempuan Didorong Naik Kelas

 

“Kalau ada potensi, tapi radiasi mataharinya tidak bisa masuk karena ada layer asap, itu juga bisa mengganggu pertumbuhan awan,” jelasnya. Artinya, karhutla tak hanya menjadi dampak dari kondisi kering. Asap yang dihasilkan juga berpotensi menghambat upaya mendatangkan hujan melalui OMC.

Untuk diketahui, dalam pembiayaan, pelaksanaan OMC dapat menggunakan dukungan dana siap pakai (DSP) BNPB. Pemerintah daerah harus terlebih dahulu mengirimkan surat permohonan kepada Kepala BNPB serta menetapkan status siaga darurat.

Setelah persyaratan tersebut terpenuhi, BNPB dapat memberikan dukungan melalui dana siap pakai (DSP) untuk kegiatan penanggulangan bencana.  Dalam pelaksanaannya, BMKG menjadi pihak yang menjalankan operasi modifikasi cuaca, sedangkan anggaran berasal dari BNPB pusat. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
El Nino Kaltim BMKG Pusat Modifikasi Cuaca IKN Semai Garam IKN Waduk Sepaku Defisit Air