Siapa Calon Ketum PBNU 2026? 7 Nama Menguat Jelang Muktamar NU di Jombang

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:31 WIB
KH Abdul Hakim Mahfudz
KH Abdul Hakim Mahfudz

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Persaingan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat. Sejumlah nama ulama dan tokoh NU disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode mendatang.

Dari sejumlah nama yang sempat ramai diperbincangkan, bursa tersebut kini disebut mengerucut menjadi tujuh tokoh. Mereka memiliki latar belakang, pengalaman, serta gagasan yang berbeda dalam melihat arah masa depan organisasi.

Jika dipetakan berdasarkan karakter gagasan dan rekam jejak, ketujuh nama tersebut berada dalam tiga kelompok besar. Masing-masing membawa pendekatan berbeda, mulai dari keberlanjutan kepemimpinan, penguatan pesantren, hingga regenerasi organisasi.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Choi Ungkap Tiga Guru Besar yang Dinilai Layak Pimpin PBNU

Poros Keberlanjutan Organisasi

Nama pertama adalah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Ketua Umum PBNU saat ini tersebut telah menyatakan keinginannya untuk kembali memimpin organisasi.

Gus Yahya dinilai menawarkan kesinambungan terhadap arah kepemimpinan sebelumnya, dengan perhatian pada penguatan kemandirian NU. Gagasan Merawat Jagat, Membangun Peradaban juga menjadi salah satu pijakan dalam agenda yang dibawanya.

Selain itu, kiprah NU di tingkat internasional, termasuk diplomasi dan keterlibatan dalam isu perdamaian dunia, menjadi bagian dari pendekatan yang selama ini dikembangkan.

Tokoh lain dalam poros ini adalah Prof. KH Nasaruddin Umar. Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut dipandang memiliki perpaduan pengalaman keulamaan dan birokrasi pemerintahan.

Nasaruddin membawa gagasan mengenai harmoni dan penguatan kehidupan keumatan. Dukungan dari sejumlah wilayah di luar Jawa juga membuat namanya dipandang memiliki peluang untuk menghadirkan warna kepemimpinan NU yang lebih luas secara geografis.

Poros Pesantren

Kelompok berikutnya berisi tokoh-tokoh yang kuat dengan basis pesantren dan tradisi keilmuan NU.

Baca Juga: Buronan Narkoba Tewas dalam Baku Tembak di Lampung Utara, 3 Polisi Terluka Dihajar Peluru

Ada nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Latar belakangnya menempatkan Gus Kikin sebagai salah satu representasi penting dari tradisi pesantren dan sejarah panjang NU.

Berikutnya terdapat KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo. Namanya mencuat setelah memperoleh dukungan dari sejumlah PCNU di Jawa Tengah.

Gus Yusuf dinilai dekat dengan aspirasi akar rumput. Isu ekonomi warga, dakwah kultural, serta kebutuhan agar organisasi lebih responsif terhadap persoalan masyarakat menjadi bagian dari perhatian yang dibawanya.

Nama ketiga dalam poros ini adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Ia menyatakan kesiapannya maju dalam bursa ketua umum PBNU pada forum silaturahmi pimpinan PCNU di Jawa Tengah pada Juli 2026.

Gus Rozin banyak menyoroti sektor pendidikan. Ia menawarkan gagasan agar pendidikan warga NU mampu menghubungkan tradisi keilmuan pesantren, termasuk kitab kuning, dengan kebutuhan akademik dan dunia profesional yang terus berkembang.

Poros Regenerasi

Dua nama lainnya berada dalam kelompok yang disebut membawa semangat regenerasi dan pembaruan organisasi.

Pertama, KH Zulfa Mustofa. Wakil Ketua Umum PBNU tersebut lahir pada 7 Agustus 1977 dan dikenal memiliki latar belakang kuat dalam kajian fikih serta tradisi intelektual Islam.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Dikabarkan Gabung PSI, Gerindra Jabar Ungkap Fakta Terbaru soal KDM

Pendekatan yang ditawarkan menggabungkan kekuatan khazanah keilmuan klasik dengan kebutuhan tata kelola organisasi yang lebih dinamis.

Nama kedua adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Gus Salam dikenal menyuarakan pentingnya mekanisme pengawasan dan keseimbangan di internal NU. Menurut gagasan yang dikaitkan dengannya, organisasi perlu menjaga jarak dari pragmatisme politik serta tetap berorientasi pada keadilan dan kemaslahatan warga.

Editor : Uways Alqadrie
calon ketua umum PBNU bursa calon ketua umum PBNU muktamar ke 35 NU KH Abdul Hakim Mahfudz nasaruddin umar