Menhut Raja Juli Tegaskan Karhutla di Berau Tak Ancam Habitat Orangutan

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:20 WIB
Ilustrasi foto karhutla. BPBD memetakan wilayah Samarinda Utara dan Palaran sebagai zona rawan kebakaran hutan dan lahan, serta mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. (IST)
Ilustrasi. Karhutla di Berau tak ancam habitat orangutan. (IST)

KALTIMPOST.ID - Perubahan iklim global memicu fenomena El Nino datang lebih cepat dari perkiraan semula. Kondisi cuaca ekstrem ini meningkatkan risiko kekeringan hebat yang memicu maraknya bencana karhutla Kalimantan di berbagai wilayah.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak merusak ruang hidup satwa liar, khususnya di wilayah Berau, Kalimantan Timur.

"Hari ini saya datang ke Berau untuk memastikan bahwa Karhutla tidak hanya berdampak negatif kepada masyarakat, tapi juga jangan sampai berdampak negatif terhadap satwa liar kita, terutama orangutan yang menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, Berau, bahkan dunia," kata Juli dalam keterangannya, Rabu (26/8), dilansir dari CNN, Kamis (27/8).

Baca Juga: Madrid Vs Sociedad 4-1: Mbappe Mengamuk Borong Hat-trick, Los Blancos Puncaki Klasemen LaLiga

Ia menerangkan bahwa cuaca ekstrem tahun ini terjadi akibat pergeseran siklus alam yang semakin sulit diprediksi.

"Kita tahu bahwa Karhutla yang terjadi pada tahun ini karena perubahan iklim yang luar biasa. Biasanya El Nino itu datangnya 4 tahun sekali, yang paling kita catat itu 2015, lompat 4 tahun 2019, lalu 2023. Mestinya baru tahun depan El Nino ini datang, tapi perubahan iklim itu riil," tutur dia.

Kawal Koridor Penyelamatan Satwa

Pemerintah terus berupaya memperketat penjagaan di area-area krusial agar kobaran api tidak menerobos ke dalam pemukiman warga maupun kawasan konservasi. Langkah preventif terus ditingkatkan melalui patroli berkala di titik-titik rawan.

"Kita juga harus kawal area ini dari Karhutla dengan patroli rutin," ucap dia.

Guna memperkuat upaya perlindungan tersebut, pihak kementerian juga menyiapkan area preservasi koridor orangutan lanskap keraitan. Langkah ini dijalankan bersama dengan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola oleh Conservation Action Network (CAN) serta beberapa mitra konservasi lainnya.

Baca Juga: Marc Marquez Tak Mau Ulangi Hasil Buruk di Silverstone, MotoGP Aragon 2026 Saatnya Bersaing Lagi

Ancaman Asap dan Ketersediaan Pangan Satwa

Meski titik api dipantau ketat, ancaman karhutla Kalimantan nyata adanya bagi ekosistem. CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, mengingatkan bahwa persebaran titik api sudah semakin mendekati kawasan konsentrasi populasi satwa.

"Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di daerah Pulang Pisau, ini daerah-daerah yang juga ada orangutannya, dan cukup besar," kata dia, dilansir dari CNN, Kamis (27/8).

Masalah yang dihadapi ekosistem hutan tak berhenti pada bahaya kobaran api semata. Paparan asap pekat akibat karhutla Kalimantan justru membawa dampak jangka panjang yang amat serius bagi rantai makanan di alam bebas. Berbeda dengan manusia yang dapat melindungi diri memakai masker, tumbuhan dan serangga di hutan sangat rentan terhadap gangguan asap.

Jamartin menjelaskan bahwa paparan asap tebal secara terus-menerus dapat mengganggu proses polinasi lebah dan penyerbukan tanaman. Dampaknya, pepohonan hutan menjadi sulit berbunga dan berbuah, yang pada akhirnya memicu krisis pakan bagi satwa penjelajah seperti orangutan.

"Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin kecil peluang tanaman di hutan berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka peluang orangutan nanti kehilangan makanan, itu cukup besar juga," jelasnya.***

Editor : Dwi Puspitarini
karhutla kalimantan Dampak Asap Karhutla Kebakaran Hutan Kalimantan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni habitat orangutan