KALTIMPOST.ID, Stasiun televisi milik pemerintah Iran, Channel 3, menyiarkan sebuah video menampilkan cara mengeksekusi putra termuda Presiden Amerika Serikat, Barron Trump.
Tak main-main, hadiah sebesar 10 juta dollar AS (sekitar Rp 177 miliar) telah ditawarkan bagi siapapun yang berhasil membunuh Barron.
Video rekaman yang dirilis oleh media yang berafiliasi dengan IRGC itu diberi judul "Where and how should we kill Barron Trump? (Di mana dan bagaimana membunuh Barron Trump?),"
Dalam video tersebut juga menampilkan lokasi universitas tempat Barron Trump belajar, kendaraan pengawalnya, serta posisi personel Secret Service yang ditugaskan melindunginya.
Video itu mengeklaim bahwa pergerakan Barron Trump telah “dipantau sepenuhnya”.
Sebelum ini, video serupa juga dirilis oleh kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC pada Juli.
Video itu berjudul "Di mana dan bagaimana Melania Trump dapat diakses?", yang merinci pergerakan Ibu Negara AS di New York dan dugaan kerentanan dalam keamanannya.
Secret Service Bergerak
Dinas Rahasia Amerika Serikat (Secret Service) mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki sebuah video yang ditayangkan oleh media pemerintah Iran itu.
“Dinas Rahasia AS mengetahui video tersebut dan sedang menyelidiki segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap orang-orang yang kami lindungi,” kata juru bicara Secret Service, Nate Herring dalam sebuah pernyataan.
“Karena kepedulian terhadap keamanan operasional, kami tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan intelijen protektif,” tambah Herring.
Sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel di Iran pada 28 Februari, media pemerintah Iran telah beberapa kali menerbitkan materi yang mengancam Trump dan anggota keluarganya.
Sejumlah tokoh media pemerintah Iran secara terbuka mengaitkan ancaman pribadi terhadap Trump dengan konsep hukum Islam; “qisas”, atau keadilan retributif.
Mereka berpendapat bahwa terbunuhnya pemimpin Republik Islam menciptakan kewajiban untuk membunuh orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematiannya.
Mohammad-Javad Larijani, seorang komentator di televisi pemerintah Iran, mengatakan bahwa qisas merupakan “hak yang tidak dapat dicabut” bagi Republik Islam.
Berbicara mengenai pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian Khamenei, dia mengatakan, “Kami akan melakukan apa pun yang berada dalam kekuasaan kami, dan tidak ada hambatan hukum internasional yang dapat menghentikan kami.”
“Jika kami tidak melaksanakan qisas terhadap Trump, jika kami tidak menghukum pembunuh pemimpin kami, pemimpin saat ini dan para pemimpin Republik Islam akan selalu harus hidup dalam persembunyian,” kata Mohsen Ghanbarian, komentator lain yang rutin tampil di televisi pemerintah Iran.