14 Ribu Hotspot Terdeteksi di Kaltim, BPBD Beberkan Sebaran Lahan dan Indikasi Kesengajaan

Eko Pralistio • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:25 WIB
SIGAP PADAMKAN KARHUTLA: Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji bersama tim BPBD Kaltim turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara. (FOTO: PEMPROV KALTIM)
SIGAP PADAMKAN KARHUTLA: Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji bersama tim BPBD Kaltim turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara. (FOTO: PEMPROV KALTIM)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Sekitar 14 ribu titik panas atau hotspot terdeteksi di Kalimantan Timur sepanjang 1–26 Agustus 2026. Angka itu menjadi alarm di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, ribuan hotspot tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai titik kebakaran. Sebab, hotspot merupakan indikasi anomali suhu yang masih harus diverifikasi di lapangan. “Ini titik panas, bukan titik api. Jadi memang perlu divalidasi,” kata Buyung, Kamis (27/8).

Dari sekitar 14 ribu hotspot tersebut, sekitar 500 berada pada tingkat kepercayaan rendah, 13.400 tingkat sedang, dan sekitar 800 memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Buyung menyebut sebagian titik panas terdeteksi di kawasan perkebunan dan kehutanan. Berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 140 titik berada di kawasan perkebunan dan 38 titik di kawasan kehutanan.

Sementara itu, data dari Polda Kaltim menunjukkan lebih dari 70 persen titik yang masuk kategori waspada terindikasi berada di kawasan pertambangan. Namun, Buyung menegaskan data tersebut tidak boleh langsung dimaknai sebagai bukti kebakaran maupun keterlibatan perusahaan. Setiap hotspot harus diverifikasi terlebih dahulu.

Baca Juga: Berjuang 12 Jam Tembus Medan Sulit! Tim Gabungan Padamkan 50 Hektare Karhutla di Kubar

“Kalau kita lihat angkanya sampai ribuan memang mengerikan. Tapi sebenarnya ini perlu divalidasi,” ujarnya. Di sisi lain, kasus karhutla di Kaltim kembali menunjukkan tren peningkatan. Hingga 26 Agustus, tercatat 547 kejadian karhutla.

Menurut Buyung, angka kejadian sempat turun pada 19–21 Agustus, tetapi kembali meningkat. Bahkan kawasan Pendingin, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang sebelumnya telah dipadamkan kembali muncul titik api.

Kawasan tersebut juga menjadi salah satu lokasi dengan luasan terbakar terbesar. Dari data BPBD, sekitar 314 hektare lahan terbakar di Pendingin dan hingga kini masih dalam penanganan. “Kemarin sudah padam, sekarang muncul lagi. Kami juga sedang mengirim tim lagi ke sana,” katanya.

Secara jumlah kejadian, Paser menjadi daerah dengan kasus karhutla terbanyak. Disusul Samarinda dan Kutai Barat. Namun, berdasarkan luas lahan terdampak, Kukar berada di posisi teratas.

Baca Juga: Klorida Air Baku Samarinda Tembus 250 PPM, Pemkot Siapkan Skenario Darurat Air Bersih

Buyung menduga sebagian kebakaran yang terjadi tidak semata-mata disebabkan faktor alam. Ia mencontohkan kondisi di Pendingin yang menurutnya memiliki sejumlah indikasi aktivitas manusia. Salah satunya keberadaan gubuk yang tetap berdiri di tengah lahan yang terbakar.

“Kalau gubuknya ada sebelum kebakaran, harusnya ikut terbakar. Tapi gubuknya tidak. Ini menjadi salah satu indikator kuat bahwa sebagian kebakaran juga ada unsur kesengajaan,” ujarnya.

Kendati demikian, Buyung meminta dugaan tersebut tetap dibuktikan melalui pemeriksaan di lapangan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kebakaran kecil. 

Dalam kondisi kering seperti saat ini, bara dan abu hasil pembakaran dapat berpindah dan berpotensi memicu kebakaran di lokasi lain. “Dengan tingkat kekeringan yang sangat luar biasa ini, kebakaran kecil pun rentan menjadikan kebakaran di tempat lain,” jelasnya.

Dampak karhutla, kata dia, juga tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap dapat mengganggu kesehatan, menghambat aktivitas penerbangan hingga mengganggu kegiatan pendidikan.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak lagi menganggap pembakaran lahan sebagai persoalan sepele, termasuk dengan alasan bahwa api akan padam setelah hujan turun. “Sudah tidak bisa begitu lagi. Mohon sekali jangan menganggap tidak apa-apa,” tegasnya.

Baca Juga: Tepis Isu SK TAGUPP Kaltim Dicabut, Pemprov Tegaskan Hanya Direvisi Akibat Pengunduran Diri

BPBD Kaltim juga tengah memperkuat langkah antisipasi. Salah satunya dengan berkoordinasi bersama BPBD kabupaten/kota untuk memastikan peringatan dini dari BMKG diteruskan hingga tingkat kecamatan dan desa.

Beberapa persoalan lain yang dihadapi petugas dalam pemadaman sudah mulai terurai. Antara lain keterbatasan sumber air. Kondisi itu terjadi di Pendingin sehingga BPBD harus mencari alternatif untuk mendukung proses pemadaman.

Untuk jangka panjang, Buyung mendorong pembuatan sumber air sebelum memasuki musim kemarau. Penggalian sumber air saat musim hujan dinilai tidak cukup karena muka air masih relatif dangkal.

“Kalau musim hujan, tiga meter saja sudah dapat. Tapi saat musim kering seperti ini harus dipersiapkan,” ujarnya. Ia juga mengusulkan penyediaan mobil tangki air di sejumlah wilayah rawan karhutla. Usulan tersebut akan disampaikan kepada pimpinan untuk dipertimbangkan. Buyung berharap tren karhutla segera menurun. Namun, masyarakat diminta tetap waspada karena kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober.  (riz)

Editor : Muhammad Rizki
El Nino 2026 karhutla Kaltim kebakaran lahan Kukar hotspot Kaltim BPBD Kaltim