Dinkes Kaltim Catat Puluhan Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla, Balikpapan Tembus 66 Ribu

Eko Pralistio • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:29 WIB
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta cuaca panas memicu lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Januari hingga Agustus 2026. Kota Balikpapan mencatat angka tertinggi sebanyak 66.468 kasus, disusul Samarinda 48.230 kasus, dan Kutai Kartanegara 29.040 kasus, dengan kelompok anak-anak sebagai pihak yang paling rentan terdampak. (FOTO: PEMPROV KALTIM)
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta cuaca panas memicu lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Januari hingga Agustus 2026. Kota Balikpapan mencatat angka tertinggi sebanyak 66.468 kasus, disusul Samarinda 48.230 kasus, dan Kutai Kartanegara 29.040 kasus, dengan kelompok anak-anak sebagai pihak yang paling rentan terdampak. (FOTO: PEMPROV KALTIM)

KALTIMPOST.ID- Karhutla di Kaltim tak hanya menghanguskan lahan. Asap dan debu yang muncul ikut menambah risiko gangguan pernapasan warga. Dinas Kesehatan Kaltim mencatat puluhan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Januari 2026.

Kepala Dinkes Kaltim dr Jaya Mualimin mengatakan, paparan asap menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai ketika karhutla meluas. Kondisi tersebut diperparah cuaca panas dan banyaknya debu yang beterbangan. “Karena asapnya, akhirnya ISPA juga meningkat,” kata Jaya.

Kasus ISPA tertinggi tercatat di Balikpapan dengan 66.468 kasus. Berikutnya Samarinda 48.230 kasus dan Kutai Kartanegara (Kukar) 29.040 kasus. Sementara Kutai Barat tercatat 7.562 kasus.

Baca Juga: 14 Ribu Hotspot Terdeteksi di Kaltim, BPBD Beberkan Sebaran Lahan dan Indikasi Kesengajaan

Jaya menjelaskan, angka tersebut merupakan akumulasi laporan dari puskesmas dan rumah sakit sejak Januari. Data dikompilasi melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang mewajibkan fasilitas kesehatan melaporkan kasus setiap 1 x 24 jam.

“Setiap hari melaporkan di aplikasi SKDR, sehingga kita bisa mengompilasi,” ujarnya. Menurut Jaya, kelompok anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mengalami ISPA. Kenaikan kasus saat ini diperkirakan berada di kisaran 10–50 persen.

“Kalau kenaikannya mungkin belum signifikan, masih sekitar antara 10 sampai 50 persen,” jelasnya. Di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kaltim, Dinkes mengingatkan dampak kebakaran tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.  "Sebab, asap dan partikel dari kebakaran dapat memperburuk kondisi udara dan meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan," pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
El Nino 2026 karhutla Kaltim ISPA Kaltim Dinkes Kaltim