Bencana Banjir Dahsyat Nepal-China: Jumlah Korban Tewas 362 Orang, 1.400 Lainnya Hilang

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:51 WIB
Kondisi wilayah terdampak banjir dahsyat Nepal-China di kawasan Himalaya yang dipenuhi lumpur dan puing bangunan. (IST)
Kondisi wilayah terdampak banjir dahsyat Nepal-China di kawasan Himalaya yang dipenuhi lumpur dan puing bangunan. (IST)

KALTIMPOST.ID - Banjir dahsyat Nepal-China meninggalkan luka mendalam setelah ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya masih hilang. Bencana yang menerjang kawasan pegunungan Himalaya ini tidak hanya menghancurkan permukiman, tetapi juga memutus jejak banyak korban, termasuk wisatawan asing.

Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas akibat banjir dahsyat Nepal-China telah mencapai 362 orang. Sementara itu, lebih dari 1.400 orang dilaporkan hilang, angka yang terus bertambah seiring laporan baru yang masuk dari berbagai wilayah terdampak.

Banjir dahsyat Nepal-China juga menimbulkan kekhawatiran global karena banyak korban merupakan turis asing yang tengah melakukan perjalanan spiritual maupun wisata di kawasan Himalaya.

Dalam bencana banjir dahsyat Nepal-China ini, ratusan korban hilang berasal dari berbagai negara. Banyak di antara mereka adalah peziarah Hindu yang hendak menuju Gunung Kailash di Tibet, serta wisatawan yang sedang melakukan trekking di pegunungan Himalaya.

Baca Juga: Modus Challenge Lari TikTok Terbongkar, Guru Honorer di Bali Diam-Diam Gasak HP Korban

Data Badan Pariwisata Nepal mencatat korban yang hilang berasal dari India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat. Malaysia dilaporkan kehilangan lebih dari 50 warganya, sementara Singapura sekitar 10 orang masih belum diketahui keberadaannya.

Di wilayah Nepal saja, sebanyak 910 orang dilaporkan hilang kontak, termasuk 517 turis asing. Sementara pemerintah China menyebut 100 warganya hilang di Nepal, dan ratusan lainnya juga belum ditemukan di wilayah Tibet.

Pemerintah Nepal kini memusatkan perhatian pada proses penyelamatan korban selamat. Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudhan Gurung, menegaskan prioritas utama adalah evakuasi.

Sebelumnya, tim penyelamat berhasil menemukan 100 turis asal India dan 25 pekerja asal China di wilayah Trishuli, salah satu lokasi yang paling parah terdampak.

Kepolisian Nepal juga telah mengevakuasi ratusan jenazah dari berbagai distrik terdampak, meski belum dipastikan berapa jumlah korban asing di antara mereka.

Kondisi di lokasi banjir dahsyat Nepal-China digambarkan sangat memprihatinkan oleh para penyintas. Salah satu saksi, Omkar Joshi, menceritakan pengalaman yang sulit dilupakan.

Baca Juga: Jadwal Timnas Voli Putri Indonesia vs Iran di AVC 2026: Srikandi Merah Putih Bidik Semifinal

"Segalanya telah musnah," ujar Omkar Joshi (35), seorang petugas bea cukai Nepal yang diselamatkan dari puncak bukit di kota perbatasan Timure, kepada AFP, dilansir dari Inews, Jumat (28/8/2026).

"Ini adalah kuburan raksasa. Yang tersisa hanyalah pasir dan kerikil yang basah kuyup oleh darah manusia," ujarnya lagi.

Kesaksian tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya banjir yang bahkan disebut sebagai gelombang tsunami di daratan.

Banjir dahsyat Nepal-China tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur pekat yang menghanyutkan berbagai material dari pegunungan. Arus lumpur tersebut dilaporkan bergerak hingga hampir 170 kilometer ke arah selatan dan masuk wilayah Nepal.

Wilayah Rasuwa menjadi daerah pertama yang terdampak, sebelum kerusakan meluas hingga ke Chitwan di bagian selatan Nepal. Banyak rumah, jembatan, bendungan, hingga kendaraan terseret arus deras.

Di Tibet, China, bencana juga diperparah oleh tanah longsor di Pelabuhan Gyirong yang menewaskan tiga orang dan menyebabkan ratusan lainnya hilang.

Baca Juga: Drawing Liga Champions 2026/27: PSG Sudah Ditunggu Barcelona dan Manchester City

Para ahli memperingatkan bahwa ancaman belum berakhir. Risiko banjir susulan masih tinggi, terutama di kawasan lembah dan kota yang berada di jalur aliran lumpur.

Gelombang lumpur yang pekat berpotensi kembali menyapu wilayah terdampak, menghancurkan infrastruktur yang tersisa, dan memperparah kondisi warga yang selamat.

Banjir dahsyat Nepal-China ini menjadi salah satu bencana paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus pengingat akan besarnya risiko alam di wilayah pegunungan tersebut.***

Editor : Dwi Puspitarini
banjir dahsyat Nepal-China gunung himalaya bencana Nepal 2026 banjir tanah longsor