KUTAI KARTANEGARA – Dari rangkaian manik-manik, tenun, dan sulam, Siti Hawa merangkai lebih dari sekadar produk kerajinan. Dari usaha yang dirintis dengan modal Rp5 juta pada 2017, Waawa Etnika kini berkembang menjadi usaha yang mampu mencatat omzet hingga puluhan juta rupiah dan membuka peluang bagi masyarakat sekitar.
Siti memulai usaha tersebut dengan mengandalkan keterampilan yang dimilikinya. Berbekal kekayaan budaya lokal, ia mengolah manik-manik, kain tenun, dan sulam menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai seni sekaligus ekonomi.
“Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan keterampilan yang saya miliki. Modalnya tidak besar, yang penting usaha ini bisa berjalan,” kenang Siti.
Baca Juga: Melalui Program Desa Berdaya Tanjung Seloka, PLN Perkuat Ekonomi dan Ekosistem Pesisir
Pada awalnya, hampir seluruh proses dikerjakan seorang diri. Mulai dari produksi hingga pemasaran dilakukan kepada kerabat, teman, maupun pelanggan yang mengenal produknya.
Namun, seiring berkembangnya usaha, Siti menyadari keterampilan produksi saja belum cukup. Ia membutuhkan pengetahuan, jejaring, dan akses pasar agar Waawa Etnika dapat berkembang lebih jauh.
Bertumbuh Bersama Rumah BUMN
Kesempatan tersebut hadir ketika Siti bergabung dengan Rumah BUMN Kutai Kartanegara pada 2018 sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra).
Rumah BUMN menjadi ruang bagi Siti untuk belajar sekaligus berinteraksi dengan pelaku UMKM lainnya. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, ia memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan produk, pemasaran, hingga pengelolaan usaha.
Kesempatan mengikuti berbagai pameran dan expo juga membuka akses bagi Waawa Etnika untuk memperkenalkan produk kepada konsumen serta memperluas jejaring usaha.
“Di Rumah BUMN Kutai Kartanegara saya tidak hanya belajar tentang usaha, tetapi juga bertemu banyak pelaku UMKM lain. Kami saling berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan membuka peluang kerja sama,” ujar Siti.
Akses pemasaran pun semakin beragam. Salah satunya melalui marketplace pada PLN Mobile yang menjadi salah satu kanal pemasaran bagi produk UMKM binaan.
Perkembangan tersebut turut mendorong peningkatan penjualan. Dari usaha yang dirintis dengan modal sekitar Rp5 juta, Waawa Etnika kini mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan. Saat mengikuti event, expo, maupun pameran UMKM, omzet bahkan dapat mencapai sekitar Rp40 juta.
“Rumah BUMN membuat saya lebih percaya diri. Saya jadi tahu bagaimana mengembangkan usaha, memperluas jaringan, dan membawa produk kami ke pasar yang lebih luas,” tuturnya.
Tak Sekadar Tumbuhkan Usaha
Pertumbuhan Waawa Etnika juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar. Ketika permintaan meningkat, Siti mulai melibatkan masyarakat dalam proses produksi sesuai kebutuhan.
Bagi Siti, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya. Bisnis yang awalnya dibangun untuk menghidupi diri sendiri kini mulai memiliki ruang untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
General Manager PLN UID Kaltimra Muchamad Chaliq Fadli mengatakan perjalanan Waawa Etnika menunjukkan pentingnya pemberdayaan UMKM yang tidak hanya berorientasi pada bantuan awal, tetapi juga peningkatan kapasitas dan perluasan akses.
“Bagi PLN, pemberdayaan UMKM merupakan proses untuk mendorong pelaku usaha agar semakin memiliki kapasitas dan kemandirian. Karena itu, kami berupaya menghadirkan ekosistem yang membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk belajar, membangun jejaring, memperkenalkan produk, dan mengembangkan akses pasar,” ujar Chaliq.
Menurutnya, Rumah BUMN menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai kesempatan pengembangan usaha.
Ia berharap dukungan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memperkuat fondasi usaha secara berkelanjutan.
Chaliq juga menilai Waawa Etnika memiliki kekuatan karena mengangkat potensi budaya lokal sebagai bagian dari produk yang dikembangkan.
“Waawa Etnika menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi ketika dipadukan dengan kreativitas, kualitas, dan kemauan untuk terus belajar. Kami berharap semakin banyak pelaku UMKM di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang mampu mengembangkan potensi daerahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.
Di tengah perubahan tren dan persaingan usaha, Siti memilih mempertahankan identitas lokal sebagai kekuatan Waawa Etnika. Manik-manik, tenun, dan sulam bukan sekadar bahan untuk menghasilkan produk, tetapi juga menjadi medium memperkenalkan kekayaan budaya daerah.
Perjalanan Waawa Etnika menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ada keberanian untuk memulai, kemauan belajar, kesempatan memperluas jejaring, serta konsistensi mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dari modal Rp5 juta pada 2017, Siti kini memiliki usaha yang terus berkembang. Dari mengerjakan hampir seluruh proses seorang diri, kini ia memiliki kesempatan melibatkan masyarakat sekitar ketika permintaan meningkat.
Setiap manik yang dirangkainya menjadi bagian dari perjalanan tersebut: merangkai budaya, merangkai peluang, dan perlahan merangkai mimpi agar tumbuh bersama. (mra)
Editor : Muhammad Ridhuan