Singkirkan 2.700 Peserta, Barista Samarinda Joese Sabet Juara 2 Cangkir Barista Nasional 2026

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:44 WIB
PRESTASI: Joese (kiri) berhasil meraih posisi 2 nasional dalam ajang Cangkir Barista 2026.
PRESTASI: Joese (kiri) berhasil meraih posisi 2 nasional dalam ajang Cangkir Barista 2026.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Jalan Joese Andrew Josly Kansil menuju podium juara Cangkir Barista Championship 2026 ternyata panjang. Bukan sekali tampil lalu langsung bertanding di panggung nasional, barista asal Samarinda itu harus melewati penyaringan berlapis dari ribuan peserta sebelum akhirnya meraih juara 2.

Merupakan ajang besutan Bank Indonesia dan merupakan bagian dari Karya Kreatif Indonesia 2026 untuk peningkatan sumber daya manusia di sektor kopi nasional. Sebelumnya, pada Cangkir Barista Kaltim 2026 yang digelar pada Mei lalu oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, dia meraih juara pertama. 

Tahap awal untuk nasional, berlangsung lewat video. Sebanyak 2.700-an video dari barista seluruh Indonesia dikumpulkan untuk diseleksi. Dalam seleksi tersebut, peserta diminta membuat espresso dan milk beverage dengan mengikuti aturan yang ditetapkan World Barista Championship. Penilaian tidak hanya menyentuh hasil seduhan.

Baca Juga: Racikan Kopi Anak Muda Kaltim Tembus Nasional, BI Puji Kualitas Barista Samarinda & Kukar

“Pertama memang dari video dinilai workflow kita bikin kopi-nya dinilai oleh SCAI (Specialty Coffee Association Indonesia),” kata pria kelahiran 2002 itu. Dari ribuan peserta, jumlahnya dipangkas menjadi sekitar 400 orang. Para peserta yang lolos kemudian mendapatkan sertifikasi Barista Foundation dari SCAI, sertifikasi yang diakui secara internasional.

Dari Kaltim, lebih dari 15 peserta mengikuti tahapan sertifikasi tersebut di Pontianak pada Juni. Seleksi berlanjut. Dari sekitar 400 peserta, kemudian dipilih 60 besar melalui sejumlah penilaian, termasuk pre-test dan post-test kewirausahaan serta hasil sertifikasi.

Sebanyak 60 peserta kemudian menjalani rangkaian pembekalan, termasuk mentoring bersama barista dan brewer yang telah memiliki prestasi di tingkat dunia. Setelah itu, mereka mendapat pembekalan kewirausahaan dan diminta membuat proposal bisnis.

Proposal tersebut tidak sekadar berisi ide usaha. Peserta harus menghitung kebutuhan modal, estimasi return of investment (ROI), hingga break even point (BEP). Dari 60 peserta, kembali dilakukan penyaringan hingga tersisa 24 orang. Tiga di antaranya berasal dari Kaltim.

Baca Juga: ISPA di Samarinda Melonjak 22,8 Persen, Diskes Ingatkan Ancaman Heatstroke

Di babak 24 besar, tantangannya bukan hanya membuat kopi. Peserta harus melakukan open service, yakni menyajikan espresso dan milk beverage sembari menjelaskan prosesnya kepada juri.

“Jadi memang di 24 besar itu kan kita sudah fokus untuk perlombaannya yang di mana perlombaannya ini adalah membuat espresso dan membuat milk beverage tetapi dengan kita melakukan presentasi,” ujar Joese. Menurutnya, kemampuan komunikasi menjadi bagian penting dalam kompetisi. Peserta harus mampu menjelaskan kopi yang dibuat sekaligus mengikuti standar yang telah ditetapkan.

Hasil akhirnya membawa Joese ke posisi kedua nasional. Namun, baginya, pengalaman paling berharga tidak berhenti pada podium. Ia melihat Kaltim sebenarnya memiliki banyak bibit barista. Pertumbuhan coffee shop di Samarinda juga membuka ruang bagi talenta baru untuk berkembang.

“Kalau untuk bibit-bibit sangat banyak. Tapi sayangnya adalah wadah untuk mereka berkembang masih sedikit,” tuturnya. Karena itu, Joese berharap komunitas kopi di Samarinda dapat menjadi ruang bersama untuk mengembangkan industri tersebut.

Baca Juga: Karhutla 50 Hektare di Pepas Eheng Kubar Padam Setelah 24 Jam Dipadamkan Tim Gabungan

“Jadi harapan saya untuk komunitas kopi yang ada di Samarinda ya kita bisa bersama lah membangun industri kopi yang ada di daerah kita sendiri kita rangkul barista-barista baru untuk bersama-sama memajukan industri kopi,” katanya.

Ia sendiri kini punya target lebih jauh. Selain ingin ikut mendorong perkembangan industri kopi daerah, Joese sedang memimpikan kedai kopi miliknya sendiri bernama Daily Balance Brew.

Konsepnya menyasar konsumen yang peduli kesehatan, termasuk komunitas gym, lari, sepeda, dan pilates. Salah satu gagasannya adalah transparansi kandungan gula pada setiap menu.

“Untuk proposal bisnis kemarin saya merancangkan untuk membuat kedai kopi. Nah, kedai kopi itu target pasar saya adalah orang-orang yang peka terhadap kesehatan, yang suka nge-gym, suka lari, komunitas sepeda, komunitas pilates untuk bisa berkumpul di coffee shop saya. Jadi mencantumkan kadar gula yang dipakai. Kan orang-orang yang konsen terhadap kesehatan itu peduli ya terhadap takaran gula,” ujarnya.

Dari sebuah video seleksi hingga podium kedua nasional, perjalanan Joese akhirnya tidak hanya menjadi cerita prestasi pribadi. Ia ingin membawa pengalaman tersebut pulang untuk ikut membesarkan ekosistem kopi di daerah asalnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Barista Samarinda Barista Kaltim Cangkir Barista Championship 2026 Karya Kreatif Indonesia 2026 Bank Indonesia Kaltim